Lifestyle
Mengenal Fatherless, Ini Dampaknya terhadap Kesiapan Perempuan Membangun Hubungan
Fatherless tidak selalu berarti kehilangan ayah secara fisik. Dalam banyak situasi, ketidakhadiran ini lebih bersifat emosional, yaitu kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
MPN Indonesia 15 Juli 2026 - Tidak semua anak tumbuh dengan kehadiran ayah yang utuh dalam kehidupannya. Dalam banyak kasus, ayah dapat hadir secara fisik tetapi tidak terlibat secara emosional, atau bahkan tidak hadir sama sekali dalam proses pengasuhan.
Kondisi ini dikenal sebagai fatherless, dan telah banyak dibahas dalam studi perkembangan keluarga modern (Nielsen, 2019; Radl et al., 2017).
Dampak fatherless ini sering kali tidak terlihat dari luar, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang memahami diri, emosi, dan hubungan di masa dewasa.
Pengertian Fatherless
Fatherless tidak selalu berarti kehilangan ayah secara fisik. Dalam banyak situasi, ketidakhadiran ini lebih bersifat emosional, yaitu kurangnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan dan perkembangan anak (Wood & Brownhill, 2016).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa father absence berkaitan dengan perkembangan psikologis anak perempuan, terutama dalam hal harga diri, rasa aman, dan kemampuan membangun relasi sosial (Glenn, 2018; Brown, 2018).
Kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan keluarga seperti struktur rumah tangga serta kondisi ekonomi (Iretor-Oscar et al., 2021).
Untuk memahami fenomena ini, digunakan attachment theory dari Bowlby (1982).
Teori ini menjelaskan bahwa hubungan awal antara anak dan pengasuh utama membentuk pola kelekatan emosional yang berpengaruh pada hubungan di masa dewasa.
Individu dengan kelekatan tidak aman cenderung mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan, memiliki ketakutan akan penolakan, atau justru menghindari kedekatan emosional (Schwartz, 2021; Castetter, 2020).
Sebaliknya, kelekatan yang aman membantu seseorang membangun hubungan yang lebih stabil dan sehat.
Faktor Penyebab Fatherless
Fenomena fatherless dapat terjadi karena berbagai faktor seperti perceraian, konflik keluarga, kematian, migrasi, hingga ketidakhadiran emosional ayah dalam kehidupan anak.
Dalam konteks sosial modern, perubahan struktur keluarga juga turut berkontribusi terhadap meningkatnya fenomena ini (Radl et al., 2017).
Selain itu, tekanan sosial dan ekonomi dapat memengaruhi keterlibatan ayah dalam pengasuhan, sehingga memperkuat risiko terjadinya father absence dalam keluarga (Iretor-Oscar et al., 2021).
Dampak Fatherless bagi Mental Perempuan
Pengalaman fatherless dapat memengaruhi kesiapan seseorang dalam membangun hubungan di masa dewasa.
Sebagian perempuan menjadi lebih sensitif terhadap penolakan dan membutuhkan validasi emosional yang lebih kuat dalam hubungan (Glenn, 2018).
Sebagian lainnya mengembangkan pola menghindar sebagai bentuk perlindungan diri dari kemungkinan luka emosional (Castetter, 2020; Schwartz, 2021).
Namun demikian, dampak ini tidak bersifat mutlak. Dukungan dari figur pengganti seperti ibu atau anggota keluarga lain dapat membantu mengurangi dampak negatif dari father absence (Wood & Brownhill, 2016; Ramatsetse & Ross, 2023).
Penelitian menunjukkan bahwa resiliensi individu dan dukungan sosial memiliki peran penting dalam proses pemulihan (Iretor-Oscar et al., 2021).
Selain itu, pengalaman masa kecil yang sulit tidak selalu berakhir dengan gangguan jangka panjang.
Dalam banyak kasus, individu dapat tumbuh menjadi lebih kuat setelah memahami dan memproses pengalaman tersebut (Ramatsetse & Ross, 2023; Zhang et al., 2019).
Father absence juga dikaitkan dengan berbagai dampak jangka panjang pada perkembangan emosional dan kesehatan mental.
Studi menunjukkan adanya hubungan antara ketidakhadiran ayah dengan peningkatan risiko masalah emosional pada remaja hingga dewasa (Culpin et al., 2022).
Selain itu, penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa adverse childhood experiences, termasuk father absence, dapat memengaruhi regulasi emosi dan kesehatan psikologis jangka panjang (Zhang et al., 2019).
Kesimpulan
Fatherless bukan sekadar kondisi keluarga tanpa kehadiran ayah, tetapi juga pengalaman emosional yang dapat membentuk cara seseorang membangun hubungan di masa depan.
Melalui attachment theory (Bowlby, 1982), dapat dipahami bahwa pengalaman awal dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pola relasi seseorang.
Namun, pengalaman tersebut tidak menentukan seluruh kehidupan individu. Dengan adanya dukungan sosial, lingkungan yang sehat, serta kemampuan resiliensi, seseorang tetap dapat membangun hubungan yang sehat, stabil, dan bermakna di masa dewasa.
Penulis: Artikel Karya Erika Rizkita Maharani, Mahasiswi Universitas Mercu Buana
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
