Connect with us

Lifestyle

Benarkah Rebo Wekasan Hari Turunnya Bala? Ini Penjelasannya

Benarkah Rebo Wekasan membawa bala? Simak penjelasan ulama tentang anggapan bulan Safar sebagai waktu turunnya musibah dan larangan percaya hari sial.

Logompn

Published

on

Benarkah Rebo Wekasan Hari Turunnya Bala Ini Penjelasannya
Benarkah Rebo Wekasan Hari Turunnya Bala Ini Penjelasannya. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 12 Agustus 2026 - Masyarakat masih memperbincangkan Rebo Wekasan yang diyakini sebagian kalangan sebagai waktu turunnya bala pada Rabu terakhir bulan Safar.

Dalam ajaran Islam, tidak terdapat dalil Al-Qur’an maupun hadits yang menyatakan Allah SWT menetapkan bulan Safar sebagai waktu khusus turunnya musibah.

Ulama Sebut Takhayul

Tradisi tersebut berkembang di sebagian masyarakat, terutama dalam tradisi Islam Jawa.

Dalam buku 1001 Pertanyaan Soal Jawab Agama karya Ustaz Abu Muslim disebutkan bahwa anggapan mengenai turunnya bala pada bulan Safar, terutama pada Rabu terakhir, merupakan kepercayaan takhayul yang tidak berlandaskan syariat.

Rasulullah SAW secara tegas menolak anggapan tersebut melalui sabdanya:

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada kesialan karena burung hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR Bukhari)

Rebo Wekasan dalam Tradisi dan Penjelasan Keagamaan

Dalam tradisi Islam Jawa, Rebo Wekasan dipandang sebagai hari yang sakral.

Keyakinan tersebut berasal dari pandangan Syekh Ad-Dairobi yang menyebut sekitar 320 ribu bala akan diturunkan pada Rabu terakhir bulan Safar.

Sebagai bentuk ikhtiar, sejumlah ulama di Jawa menjalankan berbagai kegiatan ibadah untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Bentuk amalan yang dilakukan berbeda-beda di setiap daerah.

Di antaranya meliputi:

  • Shalat Rebo Wekasan.
  • Doa bersama.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Ibadah dan doa lainnya sebagai permohonan perlindungan kepada Allah SWT.

Meski demikian, dalam penjelasan keagamaan disebutkan bahwa kesialan maupun keberuntungan merupakan kewenangan Allah SWT.

Dalam persoalan akidah, ketentuan tersebut telah ditetapkan sejak sebelum alam semesta diciptakan dan tidak dikaitkan dengan hari tertentu.

Baca Juga:  Nabi Muhammad SAW Ajarkan Cara Bijak Hadapi Tuduhan Perselingkuhan

Selanjutnya, Rasulullah SAW juga mengingatkan umat Islam agar tidak mencela waktu atau masa.

“Janganlah kalian mencela masa, karena Allah adalah (Pencipta) masa.” (HR Muslim)

Dalam Syarah Riyadhus Shalihin dijelaskan bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan Hijriah lainnya. Tidak ada bulan yang secara khusus membawa kesialan maupun keberuntungan.

Larangan Mempercayai Hari Sial

Dikutip MPN Indonesia dari laman NU Online, Islam juga melarang praktik tathayyur, yaitu menganggap suatu peristiwa atau waktu sebagai pertanda buruk.

Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam memiliki prasangka baik kepada Allah SWT dan membiasakan mengucapkan kalimat yang baik.

Abdul Wahab Ahmad dalam tulisannya di NU Online mengutip keterangan dalam kitab Kasyf al-Khafa karya Syaikh As-Suhaili.

Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa kesialan hanya akan terjadi bagi orang yang meyakini adanya kesialan dan mempercayai tanda-tanda buruk.

Ia juga mengutip pendapat Imam Mawardi yang menjelaskan bahwa menjaga diri pada hari Rabu karena alasan thiyarah atau meyakini hari tersebut membawa kesialan termasuk perbuatan yang diharamkan.

Menurut penjelasan tersebut, seluruh hari adalah milik Allah SWT sehingga tidak ada celaka maupun keberuntungan yang berasal dari waktu tertentu.

Sejalan dengan penjelasan itu, Al-Munawi juga menyampaikan bahwa hari sial pada dasarnya tidak ada.

Anggapan mengenai kesialan justru dapat menjadi kenyataan bagi orang yang meyakininya.

Abdul Wahab Ahmad juga menyoroti perbedaan kondisi masyarakat perkotaan dan pedesaan. Masyarakat perkotaan disebut cenderung menjalankan aktivitas tanpa dipengaruhi anggapan hari sial, sedangkan di sebagian masyarakat pedesaan masih ditemukan berbagai testimoni kesialan karena meyakini pantangan tertentu.

Amalan pada Bulan Safar

Ajaran Islam menganjurkan umat memperbanyak ibadah selama bulan Safar sebagaimana bulan-bulan lainnya.

Baca Juga:  Khutbah Jumat Menyambut Ramadhan 2026, Ini Hal yang Harus Dipersiapkan

Amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan karena meyakini adanya hari yang membawa kesialan.

Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:

  • Memperbanyak ibadah.
  • Berdoa.
  • Berdzikir pada pagi dan petang.
  • Memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Salah satu doa yang dianjurkan berbunyi:

Bismillāhilladzī lā yaḍurru ma’asmihi syai’un fil-arḍi wa lā fis-samā’i wa huwas-samī’ul-‘alīm.

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang tiada suatu pun di bumi maupun di langit yang dapat memberi mudarat bersama nama-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(RAD/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending