Connect with us

Lifestyle

Amalan Maulid Nabi yang Dianjurkan, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya

Simak 5 amalan Maulid Nabi di bulan Rabiul Awal.

Logompn

Published

on

Amalan Maulid Nabi yang Dianjurkan, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya
Amalan Maulid Nabi yang Dianjurkan, Lengkap dengan Dalil dan Penjelasannya. Gambar: Dok. Ilustrasi AI

MPN Indonesia 24 Agustus 2026 - Bulan Rabiul Awal menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengisi Maulid Nabi dengan berbagai amalan ibadah dan kebajikan.

Pada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalawat, puasa sunnah, serta kegiatan keagamaan yang menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah.

Anjuran tersebut dijelaskan dalam sejumlah dalil Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama.

إِعْلَمْ أَنَّهُ يُطْلَبُ فِي هَذَا الشَّهْرِ كَثْرَةُ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِ الْأَنَامِ، صَلَّى اللهُ تَعَالَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَزَادَهُ شَرَفًا وَكَرَمًا لَدَيْهِ. لِأَنَّ هَذَا الشَّهْرَ الْعَظِيمَ قَدْ ظَهَرَ فِيهِ الْخَيْرُ الْعَمِيمُ وَطَلَعَ فِيْهِ سَعْدُ السُّعُودِ، بِإِشْرَاقِ طَلْعَةِ نَبِيِّنَا السَّنِيَّةِ عَلَى الْوُجُودِ …وَلَا زَالَ أَهْلُ الْإِسْلَامِ يَحْتَفِلُوْنَ بِشَهْرِ مَوْلِدِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَيَعْمَلُوْنَ الْوَلَائِمَ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ لَيَالِيَهُ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ بِهِ وَيَزِيْدُونَ فِي الْمَبَرَّاتِ، وَيَعْتَنُونَ بِقِصَّةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيمِ وَيَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ

“Ketahuilah, pada bulan ini dianjurkan untuk memperbanyak puasa dan membaca shalawat kepada Nabi kita, pemimpin seluruh manusia, semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepadanya serta menambah kemuliaan dan kehormatan beliau di sisi-Nya. Sebab, pada bulan yang agung ini telah tampak kebaikan yang melimpah dan terbit keberuntungan yang besar dengan hadirnya cahaya Nabi kita yang mulia ke alam semesta. …. Sejak dahulu kala, kaum muslimin senantiasa memuliakan bulan kelahiran Nabi SAW. Mereka mengadakan jamuan, bersedekah pada malam-malamnya dengan berbagai bentuk sedekah, menampakkan kegembiraan, memperbanyak amal kebajikan, serta memberikan perhatian khusus terhadap kisah kelahiran beliau yang mulia. Berkat semua itu, tampak pada mereka berbagai limpahan kebaikan dan keberkahan.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 130)

Rabiul Awal dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kehadiran Rasulullah menjadi salah satu nikmat terbesar karena melalui beliau Allah SWT menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.

Momentum Maulid Nabi Muhammad juga dimanfaatkan untuk meningkatkan ibadah.

Selain mengenang kelahiran Rasulullah, bulan ini menjadi waktu memperbanyak amalan sebagai bentuk kecintaan kepada beliau.

Amalan yang Dianjurkan selama Bulan Maulid

Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus al-Makki menjelaskan beberapa amalan yang dianjurkan selama Rabiul Awal.

Baca Juga:  Doa Rebo Wekasan Lengkap Beserta Latin dan Artinya

Selain memperbanyak puasa dan shalawat, umat Islam juga dianjurkan membiasakan sedekah, amal kebajikan, serta membaca kisah kelahiran Rasulullah.

1. Memperbanyak Bacaan Shalawat

Membaca shalawat menjadi salah satu amalan yang dianjurkan selama bulan Maulid Nabi.

Shalawat merupakan bentuk doa, penghormatan, dan ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Keutamaan shalawat juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali kebaikan, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat.” (HR Ahmad)

Selain itu, Imam Abu Laits as-Samarqandi menjelaskan bahwa Allah SWT terlebih dahulu bershalawat kepada Nabi SAW, kemudian para malaikat, sebelum memerintahkan orang-orang beriman melakukan hal yang sama.

فَفِيْ سَائِرِ الْعِبَادَاتِ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى عِبَادَهُ بِهَا، وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ صَلَّى عَلَيْهِ بِنَفْسِهِ أَوَّلًا، وَأَمَرَ مَلَائِكَتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ ثُمَّ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنْ يُصَلُّوا عَلَيْهِ، فَثَبَتَ بِهَذَا أَنَّ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ

“Dalam berbagai ibadah lainnya, Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya. Tetapi dalam hal bershalawat kepada Nabi SAW, Allah terlebih dahulu bershalawat kepada beliau, kemudian memerintahkan para malaikat-Nya untuk bershalawat kepadanya, lalu memerintahkan orang-orang beriman agar turut bershalawat kepada beliau. Dari sini dapat dipahami bahwa bershalawat kepada Nabi SAW memiliki kedudukan yang sangat utama di antara berbagai bentuk ibadah.” (Tanbih al-Ghafilin [Beirut: Dar Ibn Katsir], vol. 1, h. 412)

Baca Juga:  Tata Cara dan Niat Salat Taubat beserta Doanya

2. Puasa Sunnah pada Bulan Rabiul Awal

Selain shalawat, puasa sunnah menjadi amalan lain yang dianjurkan. Anjuran tersebut berkaitan dengan kebiasaan Rasulullah SAW berpuasa pada hari Senin.

Ketika ditanya mengenai puasa Senin, Rasulullah SAW bersabda:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ، قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ

Artinya: “Nabi SAW ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab; Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu.” (HR Muslim).

Hadis tersebut menjadi dasar hubungan antara puasa dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali juga menjelaskan bahwa hadis tersebut mengandung isyarat mengenai anjuran berpuasa ketika nikmat Allah SWT kembali dikenang.

وَفِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَتْ عَلَيَّ فِيْهِ النُّبُوَّةُ، إِشَارَةٌ إِلَى اسْتِحْبَابِ صِيَامِ الْأَيَّامِ الَّتِي تَتَجَدَّدُ فِيْهَا نِعَمُ اللهِ تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ. فَإِنَّ أَعْظَمَ نِعَمِ اللهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ إِظْهَارُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ وَبَعْثَتُهُ، وَإِرْسَالُهُ إِلَيْهِمْ… فَصِيَامُ يَوْمٍ تَجَدَّدَتْ فِيْهِ هَذِهِ النِّعَمُ مِنَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ حَسَنٌ جَمِيلٌ، وَهُوَ مِنْ بَابِ مُقَابَلَةِ النِّعَمِ فِي أَوْقَاتِ تَجَدُّدِهَا بِالشُّكْرِ

“Dalam sabda Nabi SAW saat beliau ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: Itulah hari ketika aku dilahirkan dan pada hari itu pula kenabian diturunkan kepadaku. Hadis ini mengisyaratkan anjuran berpuasa pada hari-hari ketika nikmat Allah Ta’ala kembali dikenang dan diperbarui bagi para hamba-Nya. Sebab, di antara nikmat Allah yang paling agung bagi umat ini adalah diutus dan dihadirkannya Nabi Muhammad SAW kepada mereka sebagai rasul. …. Karena itu, berpuasa pada hari yang menjadi momentum datangnya nikmat-nikmat tersebut merupakan amalan yang baik dan terpuji. Hal ini termasuk bentuk mensyukuri nikmat Allah pada waktu ketika nikmat itu kembali dikenang dan dirasakan.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 236)

Baca Juga:  Ustaz Soroti Bahaya Fantasi Sedarah, Desak Negara Bertindak

3. Mengisi Maulid dengan Kegiatan Keagamaan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad juga dapat diisi melalui berbagai kegiatan keagamaan.

Kegiatan tersebut antara lain membaca Al-Qur’an, membaca kisah kelahiran Rasulullah, bershalawat, bersedekah, dan menyediakan jamuan makanan.

Imam Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan bentuk peringatan tersebut dalam Husnul-Maqshud fil-‘Amal al-Maulidi.

أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ، وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطًا يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ، مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِهِ، وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْإِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّرِيْفِ

“Sesungguhnya bentuk dasar peringatan Maulid Nabi adalah berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Alquran yang mudah dibaca, meriwayatkan berbagai kisah tentang awal perjalanan Nabi SAW serta tanda-tanda yang terjadi pada saat kelahiran beliau. Setelahnya, dihidangkan makanan untuk disantap bersama. Kemudian mereka pulang tanpa menambahkan kegiatan lain di luar hal tersebut. Bentuk peringatan semacam ini termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi SAW serta ungkapan kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran beliau yang mulia.” (Husnul-Maqshud fil-’Amal al-Maulidi [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], h. 41)

Membaca kisah kelahiran dan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW juga menjadi salah satu bentuk kegiatan yang banyak dilakukan pada Rabiul Awal.

Imam Suyuthi menjelaskan kegiatan tersebut sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad.

4. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebajikan

Rabiul Awal juga dapat diisi dengan memperbanyak kepedulian kepada sesama.

Bentuknya meliputi sedekah, membantu orang yang membutuhkan, menjenguk orang sakit, hingga menolong masyarakat yang mengalami kesulitan.

Tradisi tersebut juga disebutkan dalam penjelasan Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus al-Makki.

Kaum muslimin sejak dahulu memuliakan bulan kelahiran Rasulullah dengan berbagai bentuk sedekah, jamuan makanan, dan amal kebajikan.

(RAD/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending