Connect with us

Lifestyle

Merasa Hidup Cuma Gitu-gitu Aja? Bisa Jadi Kamu Sedang di Fase Ini

Languishing membuat hidup terasa datar meski rutinitas tetap berjalan. Kenali perbedaannya dengan flourishing dan cara membangun hidup bermakna.

Logompn

Published

on

Merasa Hidup Cuma Gitu gitu Aja Bisa Jadi Kamu Sedang di Fase Ini
Merasa Hidup Cuma Gitu-gitu Aja Bisa Jadi Kamu Sedang di Fase Ini. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 21 Agustus 2026 - Pernah merasa hidup hanya berjalan dengan rutinitas yang sama setiap hari? Kondisi itu dapat terjadi ketika seseorang menjalani aktivitas tanpa benar-benar merasakan makna di baliknya.

Dalam psikologi positif, keadaan tersebut dikenal sebagai languishing, sedangkan kondisi ketika seseorang berkembang, memiliki tujuan hidup, dan merasakan kesejahteraan secara utuh disebut flourishing.

Rutinitas Berjalan, tetapi Hidup Terasa Datar

Banyak orang tetap menjalankan tanggung jawab setiap hari tanpa terlihat mengalami masalah.

Mereka bangun, bekerja, menyelesaikan kewajiban, lalu mengulang pola yang sama pada hari berikutnya.

Di balik rutinitas tersebut, sebagian orang merasakan kelelahan, kehilangan semangat, atau kekosongan yang sulit dijelaskan.

Kondisi itu tidak selalu muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara perlahan seiring rutinitas yang terus berulang.

Rutinitas akhirnya hanya dipandang sebagai kewajiban. Aktivitas yang dijalani tidak lagi memberikan kepuasan ataupun rasa bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Seseorang Hanya Bertahan

Psikologi positif menjelaskan kondisi tersebut melalui konsep languishing.

Menurut Keyes (2014), seseorang pada fase ini tidak mengalami gangguan mental yang serius, tetapi kesejahteraannya juga belum berada pada tingkat optimal.

Orang yang mengalami kondisi tersebut umumnya merasakan hidup berjalan di tempat.

Mereka tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi belum merasakan perkembangan yang berarti.

Penelitian Weziak-Białowolska et al. (2021) menjelaskan bahwa kurangnya keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna dapat memengaruhi kesejahteraan seseorang.

Ketika aktivitas dilakukan tanpa minat atau keterlibatan, kepuasan terhadap hidup cenderung menurun.

Akibatnya, seseorang lebih sering merasa hanya menjalani hari demi hari. Kehidupan terus berjalan, tetapi belum memberikan pengalaman yang benar-benar terasa bermakna.

Hidup Bukan Sekadar Merasa Baik

Berbeda dengan kondisi tersebut, seseorang yang berada pada fase flourishing tidak hanya merasakan emosi positif.

Mereka juga memiliki tujuan hidup yang jelas serta menganggap aktivitas yang dilakukan memiliki arti.

Diener et al. (2018) menjelaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari rasa bahagia.

Kondisi tersebut juga mencakup hubungan sosial yang sehat, pencapaian, serta keberadaan tujuan hidup.

Pendekatan psikologi positif memandang kesejahteraan sebagai sesuatu yang multidimensional.

Karena itu, hidup yang lebih baik tidak hanya berkaitan dengan perasaan nyaman, tetapi juga bagaimana seseorang berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.

Tujuan Hidup Menjadi Faktor Penting

Penelitian Luh et al. (2024) menunjukkan bahwa kesejahteraan pada masa dewasa awal dipengaruhi oleh nilai hidup dan arah tujuan yang dimiliki seseorang.

Ketika seseorang memiliki tujuan yang jelas, mereka cenderung lebih mampu merasakan kepuasan dalam menjalani kehidupan.

Sebaliknya, aktivitas yang dilakukan tanpa arah dapat terasa hampa meskipun seluruh tanggung jawab tetap diselesaikan.

Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa seseorang yang terlihat baik-baik saja belum tentu berada pada fase berkembang.

Masih banyak individu yang berada di antara bertahan dan berkembang tanpa menyadari perbedaannya.

Mengapa Sulit Keluar dari Fase Ini?

Banyak orang terlalu fokus pada tuntutan sehari-hari. Target, pekerjaan, dan berbagai ekspektasi membuat hidup lebih banyak diisi daftar kewajiban dibandingkan ruang untuk memahami diri sendiri.

Akibatnya, waktu untuk membangun hubungan yang bermakna maupun menikmati proses kehidupan menjadi semakin terbatas.

Situasi tersebut membuat seseorang lebih mudah bertahan pada kondisi yang sama dalam waktu yang lama.

Beberapa faktor yang dijelaskan dalam penelitian meliputi:

  • Rutinitas yang terus berulang tanpa memberikan makna.
  • Fokus berlebihan pada target dan kewajiban harian.
  • Minimnya waktu untuk memahami diri sendiri.
  • Kurangnya hubungan yang bermakna.
  • Tidak memiliki tujuan hidup yang jelas.

Keyes (2014) menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan fase languishing, sedangkan Luh et al. (2024) menjelaskan bahwa arah tujuan hidup berhubungan dengan tingkat kesejahteraan seseorang.

Dari Bertahan Menuju Berkembang

Peralihan dari kondisi bertahan menuju berkembang tidak berlangsung secara instan.

Langkah awal dapat dimulai dengan memahami prioritas diri serta membangun hubungan yang baik dengan orang lain.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten menjadi bagian dari proses menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Dalam konteks psikologi positif, langkah tersebut berkaitan dengan perjalanan menuju kondisi berkembang yang dikenal sebagai flourishing.

Perbedaan antara languishing dan flourishing dijelaskan melalui tingkat kesejahteraan, tujuan hidup, hubungan sosial, serta keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna sebagaimana dipaparkan dalam berbagai penelitian.

Artikel Karya Nikmah Ramadhani, Lulu Sri Suwandini, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani, Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Continue Reading

Trending