Connect with us

Berita

Virus Shamonda Pertama Kali Terdeteksi di Manusia, Pasien Meninggal Dunia

Virus Shamonda terdeteksi pada manusia di Prancis untuk pertama kali. Pasien meninggal, sementara penyebab kematiannya masih diselidiki.

Actress 1299250

Published

on

Virus Shamonda Pertama Kali Terdeteksi di Manusia, Pasien Meninggal Dunia
Virus Shamonda Pertama Kali Terdeteksi di Manusia, Pasien Meninggal Dunia. Gambar: Dok. Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 27 Oktober 2026 - Prancis mengonfirmasi kasus pertama infeksi virus Shamonda pada manusia yang menyebabkan seorang pasien meninggal pada awal Oktober 2026.

Dikutip MPN Indonesia dari Reuters, Menteri Kesehatan Prancis mengumumkan kasus tersebut pada Jumat (23/10).

Menurutnya, pasien tersebut menjalani perawatan penyakit serius di Hospices Civils de Lyon, Prancis, dan mengalami gangguan kekebalan tubuh berat.

Otoritas kesehatan menduga infeksi terjadi melalui gigitan serangga Culicoides di wilayah timur Prancis.

Namun, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan hubungan antara infeksi dan kematian pasien.

Pemerintah Prancis menyebut kasus tersebut sebagai kejadian yang belum pernah terdokumentasi sebelumnya.

“Oleh karena itu, ini adalah kasus luar biasa yang terjadi pada pasien dengan imunodefisiensi berat,” ucap pihak berwenang Prancis, dikutip MPN Indonesia dari Serbian News Media pada Selasa (27/10).

Pemerintah Prancis menyatakan belum menemukan indikasi risiko kesehatan bagi masyarakat umum.

Otoritas kesehatan juga belum menemukan bukti penularan langsung antarmanusia.

Pasien yang terinfeksi diketahui mengalami imunodefisiensi berat yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi dan komplikasi.

Dikutip MPN Indonesia dari Euro News, pemeriksaan medis menemukan infeksi virus Shamonda pada pasien yang mengalami komplikasi otak sebelum meninggal.

Otoritas kesehatan menduga komplikasi tersebut berkaitan dengan infeksi yang ditemukan.

Namun, penyelidikan belum memastikan apakah infeksi tersebut secara langsung menyebabkan kematian atau menjadi faktor yang memperburuk kondisi pasien.

Pemeriksaan klinis, laboratorium, dan epidemiologi masih berlangsung untuk menentukan hubungan tersebut.

Baca Juga:  Prancis Diterjang Tornado, 39 Orang Terluka

Kasus ini merupakan infeksi manusia pertama yang terdokumentasi setelah virus tersebut ditemukan pada hewan selama beberapa dekade.

Sebelumnya, virus Shamonda dianggap tidak dapat menginfeksi manusia.

Penularan Diduga Melalui Gigitan Serangga Culicoides

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyatakan, virus Shamonda termasuk dalam kelompok Orthobunyavirus.

Virus tersbeut diketahui dapat menginfeksi hewan melalui gigitan serangga pengisap darah dari genus Culicoides.

Otoritas Prancis menduga pasien tertular melalui gigitan serangga tersebut di wilayah timur Prancis.

Wilayah tersebut merupakan salah satu lokasi peredaran virus pada hewan selama musim semi dan musim panas 2026.

Namun, pihak berwenang belum memastikan spesies serangga yang terlibat dalam infeksi manusia tersebut.

Penyelidikan masih dilakukan untuk mengetahui sumber infeksi dan mekanisme penularannya.

Di Eropa, serangga Culicoides umumnya aktif sejak musim semi hingga musim gugur. Aktivitas serangga tersebut bervariasi berdasarkan spesies, lokasi, dan kondisi cuaca.

Aktivitas sebagian besar spesies serangga tersebut mulai menurun seiring turunnya suhu di Eropa.

Riwayat Penemuan dan Penyebaran Virus di Eropa

Virus Shamonda pertama kali ditemukan di Nigeria pada pertengahan 1960-an.

Sejak saat itu, infeksi dilaporkan secara sporadis pada hewan di sejumlah wilayah Afrika dan Jepang.

Kementerian Kesehatan dan Pertanian Prancis menjelaskan riwayat penyebaran virus tersebut melalui pernyataan resminya.

“(Virus Shamonda) pertama kali ditemukan di Nigeria pada pertengahan 1960-an dan dilaporkan secara sporadis pada sapi di Afrika Barat, Afrika Timur, Afrika Selatan, serta Jepang,” ungkap kedua kementerian tersebut.

Pada musim panas 2026, virus tersebut untuk pertama kalinya teridentifikasi pada hewan ternak di Eropa.

Gejala klinis pada hewan mulai dilaporkan sejak Juni, sedangkan identifikasi virus dilakukan pada akhir Juli.

Baca Juga:  Ruce Nuenda Minta Maaf usai Dihujat karena Keluar Rumah saat Terkena Campak

ECBC juga menyebutkan, penyebaran virus pada hewan ternak telah terdeteksi di sejumlah negara dan wilayah Eropa.

Wilayah tersebut meliputi Austria, Belgia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Liechtenstein, dan Luksemburg.

Selain itu, penyebaran virus juga terdeteksi di Belanda, Portugal, Spanyol, Swiss, dan Jersey.

Temuan tersebut melibatkan sejumlah spesies hewan ternak.

Sapi merupakan hewan utama yang diketahui dapat terinfeksi, sementara kasus lain ditemukan pada domba, kambing, dan kuda.

Gejala Infeksi pada Hewan Ternak

Infeksi virus Shamonda pada sapi menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan, seperti demam, lesu, diare, hingga penurunan prodiksi susu pada sapi perah.

Sementara itu, informasi mengenai gejala dan dampak infeksi pada manusia masih terbatas.

Sampai pengumuman pemerintah Prancis, hanya satu kasus infeksi manusia yang telah terdokumentasi.

Keterbatasan data tersebut membuat pemeriksaan lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui karakteristik infeksi pada manusia.

ECDC dan WHO Pantau Potensi Risiko Penyakit Menular

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) terus memantau perkembangan kasus pertama infeksi virus Shamonda pada manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menerima pemberitahuan mengenai temuan di Prancis.

ECDC berkoordinasi dengan otoritas Prancis dan mitra Eropa untuk menyelidiki potensi dampak terhadap kesehatan masyarakat.

Koordinasi tersebut juga melibatkan Komisi Eropa dan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA).

Selain itu, ECDC bekerja sama dengan Laboratorium Rujukan Uni Eropa untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan.

Kerja sama tersebut mencakup kemampuan negara-negara anggota dalam mengidentifikasi kemungkinan kasus infeksi lainnya.

Penyelidikan mengenai penyakit menular ini masih berfokus pada sumber infeksi, mekanisme penularan, dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

(AKM/NID/RAD)

Trending