Connect with us

Politik

Tanggapi Demo Aksi Indonesia Gelap, Luhut Binsar Pandjaitan: yang Gelap Kau, Bukan Indonesia

Aksi ‘Indonesia Gelap’ kritik kebijakan Prabowo-Gibran. Luhut Binsar Pandjaitan tanggapi dengan tegas, soroti upaya pemerintah ciptakan lapangan kerja.

Profile Nida MPN Indonesia

Published

on

Tanggapi Demo Aksi Indonesia Gelap, Luhut Binsar Pandjaitan Yang Gelap Kau, Bukan Indonesia
Tanggapi Demo Aksi Indonesia Gelap, Luhut Binsar Pandjaitan yang Gelap Kau, Bukan Indonesia. Gambar : Kompas/Fitria Chusna Farisa

MPN Indonesia 20 Februari 2025 - Aksi demonstrasi bertajuk “Indonesia Gelap” yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mendapat perhatian luas.

Gerakan ini muncul sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, terutama terkait isu lapangan kerja, pendidikan, agraria, serta keadilan sosial.

Sejak Senin (17/2), tagar #IndonesiaGelap viral di media sosial X (Twitter), menjadi simbol perlawanan mahasiswa dan masyarakat sipil terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.

Protes ini juga menampilkan simbol Garuda dengan latar belakang hitam, menandakan eskalasi serius dibandingkan aksi serupa sebelumnya yang menggunakan warna biru.

Para mahasiswa dan aktivis menyuarakan tuntutan konkret, termasuk pendidikan gratis dan demokratis, pembatalan revisi Undang-Undang Minerba, pencabutan proyek strategis nasional yang bermasalah, serta evaluasi terhadap program-program pemerintah yang dinilai kurang tepat sasaran.

Luhut Binsar Pandjaitan: “Yang Gelap Kau, Bukan Indonesia”

Menanggapi gerakan ini, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan pernyataan tegas dalam acara The Economic Insight 2024 yang digelar di The Westin, Jakarta, pada (19/2).

Ia menyayangkan anggapan bahwa kondisi Indonesia mengalami keterpurukan, terutama dalam hal ekonomi dan ketenagakerjaan.

Luhut menegaskan bahwa kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat.

Ia menyebut bahwa masalah ekonomi global turut memengaruhi pasar kerja di berbagai negara.

“Ada orang bilang oh di sini lapangan kerja kurang, di mana yang lapangan kerja enggak kurang? Di Amerika juga bermasalah, di mana saja bermasalah,” ujar Luhut, seperti dikutip Tim Redaksi MPN Indonesia melalui Instagram @kumparancom, pada Rabu (19/2).

Baca Juga:  Profil Ousmane Dembele yang Berhasil Sabet Gelar Juara Ballon d'Or 2025

Ia juga menyoroti bahwa pemerintah terus berupaya menciptakan lapangan kerja dengan berbagai inisiatif, termasuk melalui pengembangan ekosistem government technology (govtech) yang telah memberdayakan sekitar 300 generasi muda.

Dalam pernyataan yang menimbulkan perdebatan, Luhut menyampaikan kritiknya terhadap narasi Indonesia Gelap.

“Jadi kalau ada yang bilang itu Indonesia gelap, yang gelap kau, bukan Indonesia. Jadi kita jangan terus mengklaim sana-sini, itu,” ucapnya dengan nada kesal.

Menurutnya, banyak anak muda yang kini bekerja dalam ekosistem digitalisasi dan justru merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Ia mencontohkan program di Peruri yang melibatkan anak-anak muda dalam pengelolaan keuangan digital.

“Anak-anak muda kegiatan di Peruri sekarang. Mereka tuh kerja selesai keuangan ini, itu melakukan pekerjaan ini. Dan mereka bilang kami bangga jadi orang Indonesia. Karena kami melihat harapan bahwa kemampuan kami digunakan untuk ini,” tambahnya.

Protes dan Tuntutan Mahasiswa

Gelombang demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dari berbagai daerah menyoroti kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Beberapa tuntutan utama mereka mencakup:

  • Pendidikan: Pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis serta penghapusan kebijakan yang dinilai membebani mahasiswa dan tenaga pengajar.
  • Agraria: Pencabutan proyek strategis nasional (PSN) yang dinilai merugikan masyarakat serta reforma agraria yang lebih berpihak kepada petani.
  • Keadilan Sosial: Penolakan revisi Undang-Undang Minerba, penghapusan kebijakan yang dianggap membatasi kebebasan berpendapat, dan evaluasi terhadap berbagai program pemerintah.

Selain itu, mahasiswa juga mendesak agar kebijakan anggaran yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat segera dievaluasi.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi sorotan karena dianggap perlu penyempurnaan agar tepat sasaran dan tidak bermuatan politis.

Respon Publik dan Media Sosial

Pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan mengenai demonstrasi ini memicu beragam reaksi dari masyarakat.

Baca Juga:  Beri Sambutan di Kongres Muslimat NU, Prabowo Subianto: Ada yang Sekarang Mau Misah-misahkan Saya sama Pak Jokowi, Lucu Juga

Beberapa warganet menanggapi pernyataan tersebut dengan kritikan, sementara yang lain mempertanyakan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menangani isu ketenagakerjaan dan kesejahteraan rakyat.

Di media sosial, protes ini terus mendapatkan perhatian luas. Berbagai akun menyuarakan keresahan mereka terkait kondisi ekonomi dan sosial saat ini.

“Gimana ga kurang pak Luhut, kalau semua kerjaan bisa masuk kalau ada orang dalam,” tulis akun @iklma***.

“Selalu anti kritik, sekali-kali dengar aspirasi rakyat pak,” komentar akun @cika*****.

“Maksud gua tuh kek gimana ceritanya bapak ini melihat 300 orang pekerja sebagai angka yang representatip buat ngomongin satu negara,” tambah akun @dean******.

(AKM/NID/RAD)

Trending