Connect with us

Internasional

China Hentikan Pembelian Pesawat Boeing sebagai Respons Tarif Trump

China hentikan pengiriman pesawat Boeing dari AS akibat tarif 145%, picu ketegangan dagang dan pengaruh besar pada industri penerbangan global.

Logompn

Published

on

China hentikan pembelian pesawat boeing sebagai respons tarif trump
China Hentikan Pembelian Pesawat Boeing sebagai Respons Tarif Trump. Gambar : Reuters/Peter Cziborra

MPN Indonesia 18 April 2025 - China menghentikan seluruh pengiriman pesawat Boeing buatan Amerika Serikat sebagai langkah balasan atas kebijakan tarif sebesar 145 persen yang diberlakukan oleh pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump terhadap produk asal China.

Kebijakan ini mulai berlaku pada Selasa (15/4), dan memengaruhi rencana pembelian pesawat oleh tiga maskapai utama China yang semula dijadwalkan berlangsung hingga 2027.

Instruksi Pemerintah China dan Dampaknya

Pemerintah China menginstruksikan tiga maskapai besar, Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines untuk menunda seluruh pengiriman pesawat dari Boeing.

Ketiga maskapai ini sebelumnya berencana menerima 179 unit pesawat Boeing dalam tiga tahun ke depan, termasuk 45 unit oleh Air China, 53 unit oleh China Eastern, dan 81 unit oleh China Southern. Nilai total kontrak ini mencapai miliaran dolar AS.

Selain menghentikan pengiriman pesawat, otoritas China juga meminta maskapai nasional untuk menghentikan pembelian peralatan dan suku cadang pesawat buatan AS.

Langkah ini mencerminkan ketegangan yang terus meningkat dalam perang dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Respons Terhadap Tarif Tinggi dan Eskalasi Perdagangan

Penghentian pengiriman ini terjadi sebagai tanggapan langsung atas tarif impor sebesar 145 persen yang diberlakukan AS terhadap barang-barang asal China.

Sebagai balasan, China meningkatkan tarif barang-barang dari AS menjadi 125 persen.

Baca Juga:  Pertunjukan Kembang Api dan Drone di China Berujung Kebakaran

Langkah tersebut memperbesar risiko stagnasi perdagangan bilateral, yang sebelumnya mencatat nilai lebih dari 650 miliar dolar AS pada 2024.

Kebijakan tarif Trump ini tidak hanya memengaruhi produsen pesawat, tetapi juga menyulitkan maskapai penerbangan yang harus mengevaluasi ulang kontrak dan pengeluaran mereka.

Beberapa CEO maskapai bahkan menyatakan niat untuk menunda pengambilan pesawat ketimbang menanggung beban tarif tambahan.

Dampak terhadap Industri Penerbangan Global dan Boeing

Meskipun penghentian pengiriman ini berdampak besar terhadap hubungan perdagangan China-AS, analis menilai efek jangka pendek terhadap Boeing tidak terlalu signifikan.

Pesawat yang awalnya dijadwalkan dikirim ke China dapat dialihkan ke maskapai lain di tengah tingginya permintaan global terhadap armada baru.

Mmenurut konsultan penerbangan internasional Neil Hansford, situasi ini justru bisa menjadi peluang bagi Boeing.

Dengan permintaan global yang tinggi terhadap pesawat dan keterbatasan ketersediaan armada, Boeing berpotensi mengalihkan pengiriman unit ke pelanggan lain yang juga membutuhkan. 

“Membantu Boeing karena dapat mengalihkan pengiriman ke pelanggan lain. Semua orang kekurangan peralatan, dan dunia sedang berupaya melakukan perawatan terhadap armada,” ujar Neil Hansford, dikutip MPN Indonesia dari laman Bloomberg News, pada Jumat (18/4).

Namun, Hansford juga menyebut bahwa China tetap membutuhkan pesawat Boeing karena pandemi COVID-19 telah memperlambat produksi pesawat global selama bertahun-tahun.

Posisi Boeing di Pasar China dan Tantangan Tambahan

China merupakan salah satu pasar pertumbuhan terbesar bagi Boeing. Meski demikian, pesaing utamanya, Airbus dari Eropa masih mendominasi pasar di wilayah tersebut.

Kapasitas Airbus yang terbatas juga membuat tidak mudah bagi China untuk langsung mengganti sumber armada mereka, sementara produsen domestik seperti COMAC masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut.

Baca Juga:  China Buat Rute Penerbangan Terpanjang di Dunia, Tempuh Waktu 29 Jam

Penangguhan ini menambah daftar tantangan yang dihadapi Boeing selama beberapa tahun terakhir, termasuk insiden panel pintu pada MAX 9, pemogokan tenaga kerja, pengawasan regulasi yang lebih ketat, serta gangguan rantai pasokan.

Di sisi lain, Boeing juga belum memberikan komentar resmi terkait keputusan ini.

Potensi Dampak bagi Industri Dalam Negeri China

Penghentian pembelian suku cadang pesawat dari AS berpotensi mengganggu operasional armada pesawat yang telah ada, termasuk program domestik seperti C919.

Analis dari Bank of America menyebutkan bahwa tanpa komponen dari AS, program C919 bisa terhenti sepenuhnya.

Pemerintah China saat ini mempertimbangkan langkah-langkah untuk mendukung maskapai yang menyewa pesawat Boeing dan menghadapi kenaikan biaya operasional akibat tarif baru tersebut.

Pernyataan Resmi dari Kedua Negara

Dalam pernyataan resmi, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa negara tersebut akan terus membuka diri terhadap investasi dan perdagangan internasional.

“Kami akan terus memperluas lingkaran pertemanan dalam perdagangan, memperkuat medan gravitasi investasi, dan menyuntikkan stabilitas dan energi positif ke dalam ekonomi dunia,” ungkap Lin Jian. 

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa “Presiden telah menyampaikan posisinya secara jelas bola kini ada di tangan China. China perlu membuat kesepakatan dengan kami, bukan sebaliknya.”

Ketegangan Politik dan Perdagangan yang Semakin Meningkat

Situasi ini mencerminkan eskalasi dalam perang dagang dan ketegangan diplomatik antara China dan AS.

Pernyataan keras dari pejabat Partai Komunis China di Hong Kong, Xia Baolong, menanggapi komentar dari Wakil Presiden AS JD Vance, menunjukkan ketegangan tidak hanya terbatas pada isu perdagangan, tetapi juga menyentuh aspek politik dan budaya.

(ADN/NID/RAD)

Trending