Internasional
China Desak Dunia Tolak Tekanan AS, Ancam Negara yang Negosiasi Tarif Trump
China memperingatkan negara-negara agar tidak tunduk pada tekanan tarif Amerika Serikat.
MPN Indonesia 22 April 2025 - China mendesak negara-negara di dunia untuk menolak tekanan kebijakan tarif yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Peringatan keras ini disampaikan Beijing sebagai respons atas tindakan-tindakan yang dinilai merugikan kepentingan nasionalnya.
China Keluarkan Peringatan terhadap Negara-Negara yang Negosiasi Tarif
Beijing, melalui Kementerian Perdagangan China, pada Senin (21/4), menyatakan penolakannya terhadap negara-negara yang tengah menjalin negosiasi dengan Amerika Serikat terkait kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Dalam pernyataannya, China menegaskan akan mengambil tindakan balasan secara tegas terhadap pihak-pihak yang menyepakati kebijakan tersebut dengan mengorbankan kepentingan China.
Pernyataan ini menanggapi rencana Donald Trump yang kembali menggunakan kebijakan tarif impor sebagai alat tekanan terhadap negara mitra dagang AS, termasuk untuk membatasi hubungan ekspor impor mereka dengan China.
Menurut Kementerian Perdagangan China, pendekatan tersebut merupakan penyalahgunaan prinsip kesetaraan dalam perdagangan internasional.
Tuduhan Penyalahgunaan Tarif oleh AS dan Ancaman Balasan dari China
Kementerian Perdagangan China menuduh AS telah menyalahgunakan kebijakan tarif impor terhadap seluruh mitra dagangnya. AS disebut memaksa negara lain untuk memulai negosiasi tarif resiprokal demi kepentingan sepihaknya dan sebuah tindakan yang menurut China dapat membawa perdagangan internasional kembali ke sistem “Hukum rimba.”
“China dengan tegas menentang pihak mana pun yang mencapai kesepakatan dengan mengorbankan kepentingan China. Jika hal itu terjadi, China tidak akan menerimanya dan akan mengambil tindakan balasan secara tegas dan sepadan,” ujar juru bicara kementerian perdagangan China, dikutip MPN Indonesia dari AFP pada Selasa (22/4).
Sebagai bentuk pembalasan atas tarif impor AS, China telah menaikkan tarif hingga 125% terhadap barang-barang asal Amerika Serikat.
Selain itu, ekspor sejumlah mineral penting juga dibatasi, dan beberapa perusahaan Amerika Serikat, terutama perusahaan kecil, dimasukkan ke daftar hitam sehingga dilarang bekerja sama dengan mitra Tiongkok.
Tanggapan atas Kenaikan Tarif AS dan Strategi Diplomasi Regional
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya telah memberlakukan tarif dasar hingga 145% terhadap barang-barang impor dari China dan bahkan menerapkan tarif resiprokal yang mencapai 245%. Hampir seluruh negara mitra dagang AS dikenai tarif dasar sebesar 10%.
Beijing menilai bahwa negara-negara yang mengikuti kebijakan tarif AS secara tidak langsung merugikan China.
Menurut pernyataan Kementerian Perdagangan, tindakan melunak terhadap tekanan AS tidak akan menghasilkan perdamaian dan kompromi dalam konteks ini dinilai “tidak terhormat.”
“Pelunakan tidak akan mendatangkan perdamaian, dan kompromi amat tidak terhormat,” ujar juru bicara Kementerian Perdagangan China.
Juru bicara Kementerian Perdagangan China juga menyebut bahwa negara-negara yang menomorsatukan kepentingan pribadi jangka pendek dengan mengorbankan pihak lain seolah sedang “mencari kulit harimau,” sebuah peribahasa China untuk tindakan yang menimbulkan risiko besar.
Perubahan Strategi dan Gugatan di WTO
Untuk memperkuat posisi dalam perdagangan internasional, China melakukan rotasi pejabat penting dengan menunjuk Li Chenggang sebagai kepala negosiator perdagangan internasional.
Li Chenggang, yang sebelumnya menjabat sebagai duta besar untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), kini juga menjabat sebagai wakil menteri.
Sebagai bagian dari respons hukum, China mengajukan gugatan terhadap AS ke WTO terkait dengan kebijakan tarif impor terbaru yang diberlakukan Donald Trump.
Langkah tersebut menunjukkan upaya China untuk menempuh jalur hukum dalam menyelesaikan perselisihan tarif dengan Amerika Serikat.
Xi Jinping Galang Dukungan Regional
Dalam kunjungan luar negeri pertamanya pada tahun 2025, Presiden China, Xi Jinping mendatangi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja.
Dalam pertemuan dengan para pemimpin ketiga negara tersebut, Xi menyerukan kerja sama regional dalam menolak tarif sepihak dan kebijakan perdagangan yang menindas.
China, yang sebelumnya menjadi target utama tarif Trump, kini terus memperkuat hubungannya dengan negara-negara Asia Tenggara.
Kawasan tersebut kini telah menjadi mitra dagang regional terbesar bagi China. Meski demikian, Amerika Serikat tetap menjadi mitra dagang tunggal terbesar China dalam konteks ekspor impor dan perdagangan internasional.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
