Connect with us

Berita

Dalam Peresmian Patrion Nusantara, Laksamana Muda TNI Julius Widjojo Dorong Indonesia Ciptakan Superhero dari Budaya Lokal

Laksamana Julius Widjojo serukan pentingnya superhero berbasis budaya lokal untuk memperkuat identitas nasional Indonesia.

Logompn

Published

on

Laksamana muda tni
Laksamana Muda TNI dalam Peresmian Patrion Nusantara. Gambar: Instagram/@patrionofficial

MPN Indonesia 12 Juni 2025 - Laksamana Muda TNI Julius Widjojo menegaskan perlunya Indonesia menciptakan pahlawan super yang berakar pada budaya lokal sebagai bagian dari strategi memperkuat identitas nasional.

Hal ini disampaikan dalam acara Patrion Nusantara yang berlangsung pada Rabu (11/6) di D’Maritime Cafe, Jakarta Selatan.

Julius menyebut bahwa Indonesia sudah memiliki sumber daya budaya yang kaya, namun semakin hari mulai tergerus oleh pengaruh asing.

“Kalau di kita manusia-manusia super ilmu-ilmu kebudayaan itu sudah ada… Tapi makin hari makin punah karena adanya unsur-unsur asing yang merubah itu,” kata Julius, dikutip MPN Indonesia di lokasi.

Ia mengingatkan bahwa penguatan simbol budaya pop dapat berfungsi sebagai alat indoktrinasi positif, seperti yang dilakukan negara-negara besar.

Mengambil contoh Amerika Serikat, Jepang, dan Korea, Julius menyebutkan bahwa mereka secara konsisten menyisipkan unsur kekuatan militer, simbol negara, dan pahlawan super dalam karya budaya populer mereka.

Menurutnya, Patrion Nusantara memiliki peluang emas untuk menghadirkan pahlawan fiksi yang menghibur sekaligus mendidik generasi muda Indonesia.

Strategi Budaya Melalui Simbol dan Superhero

Dalam penjelasannya, Julius memaparkan strategi yang diterapkan negara-negara lain dalam membangun narasi nasional melalui budaya pop.

Ia mengatakan bahwa film-film Amerika Serikat wajib melibatkan alur sistem.

“Pasti ada pasukan, pasti ada tag, pasti ada kapal, pasti ada pesawat,” ujar Julius Widjojo.

Selain itu, simbol-simbol negara juga secara konsisten ditampilkan di berbagai media.

“Mereka membangun menciptakan yang namanya superhero, Batman, kemudian Superman, dan sebagainya. Itu mereka lakukan tiga hal itu pokok ya, indoktrinasi bangsanya,” jelas Julius.

Baca Juga:  Prabowo: Tidak Boleh Ada Mafia dalam Pemerintahan

Ia menyoroti bahwa Indonesia pun memiliki karakter dan cerita serupa, seperti kemampuan supranatural dalam legenda lokal, namun belum diolah menjadi kekuatan budaya pop yang modern.

Lebih lanjut, Julius mencontohkan kekayaan budaya yang terdapat di Candi Borobudur.

“Di Borobudur ada sekitar 240 alat musik, mau petik, mau pukul, dan sebagainya itu ada,” katanya.

Ia menekankan bahwa manajemen sumber daya manusia pada masa lalu menunjukkan tingkat kecerdasan dan ketelitian tinggi, yang seharusnya bisa menjadi inspirasi pengembangan budaya pop masa kini.

Tantangan dan Peluang Patrion Nusantara

Julius melihat bahwa Patrion Nusantara dapat menjadi wadah untuk menghidupkan kembali budaya lokal melalui media modern.

Ia menyoroti pentingnya keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk pemerintah, kreator, dan masyarakat.

Dalam konteks ini, nama Hariqo Wibowo disebut sebagai salah satu penggiat yang mendorong pemanfaatan media digital untuk penguatan identitas budaya.

Selain itu, perhatian dari pemimpin nasional seperti Prabowo Subianto dinilai krusial.

Dukungan politik dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal.

Julius berharap upaya ini dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kreatif nasional.

“Kita tidak pernah melakukan itu. Kita tidak pernah menyusupkan budaya-budaya kita atau mendahulukan budaya kita dalam produk-produk itu,” ujar Julius.

Membangun Identitas Bangsa Lewat Budaya Pop

Melalui forum Patrion Nusantara, Julius mengajak semua pihak untuk mulai merumuskan langkah konkret.

Ia meyakini bahwa Indonesia mampu menciptakan pahlawan super yang unik dan berdaya saing global, asalkan kekayaan budaya yang ada diolah secara tepat.

“Yakin enggak bahwa bangsa ini bangsa yang hebat?” tantangnya kepada para hadirin.

(AKM/NID/RAD)

Trending