Connect with us

Berita

Hadiri Peresmian Patrion Nusantara, Guru Gembul: Masalah Terbesar Kita Bukan pada Budaya tapi Identitas Bangsa

Guru Gembul menilai pelestarian budaya Nusantara terhambat karena masyarakat merasa inferior terhadap identitas bangsa sendiri.

Logompn

Published

on

Guru gembul
Guru Gembul dalam Peresmian Patrion Nusatra. Gambar: Instagram/@patrionofficial

MPN Indonesia 12 Juni 2025 - Dalam peresmian Patrion Nusantara yang berlangsung di D’Maritime Cafe, Jakarta Selatan, pada Rabu (11/6), Guru Gembul menyoroti persoalan dalam upaya pelestarian budaya Nusantara.

Menurutnya, tantangan utama bukan terletak pada kualitas budaya itu sendiri, melainkan pada sikap inferior masyarakat terhadap identitas bangsa.

“Masalah utama terbesar kita itu sebenarnya bukan ada pada budayanya, tetapi ada pada inferioritas masyarakat kita terhadap identitas bangsa,” ungkap Guru Gembul di hadapan para hadirin, dikutip MPN Indonesia di lokasi.

Ia mempertanyakan apakah berbagai inisiatif untuk melestarikan tradisi leluhur akan kembali mandek seperti sebelumnya.

Lebih lanjut, Guru Gembul menyoroti contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengamati bahwa banyak produk lokal justru harus dilabeli dengan istilah asing agar dianggap lebih bernilai.

“Di kereta bus itu ada menu makanan utama. Apa itu? Nasi goreng Bangkok. Tetapi kita bahkan malu kalau nasi gorengnya tanpa embel-embel asing,” jelasnya.

Contoh Inferioritas Budaya dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam paparannya, Guru Gembul memaparkan bahwa kecenderungan untuk menampilkan budaya lokal dengan balutan asing merupakan gejala inferioritas kolektif.

Ia mengkritik bagaimana masyarakat cenderung mengasosiasikan nilai jual dengan pengaruh luar, bukan dengan kekayaan budayanya sendiri.

“Di luar sana, Bapak Ibu silakan datang ke kafe mana pun di Jakarta, lihat menunya. Kita selalu bangga makanan kita menang di festival internasional. Tetapi ketika kita bikin kafe, kita tidak mengenal nama-nama itu dalam daftar menu,” tambahnya.

Fenomena ini, menurut Guru Gembul, menjadi penghalang besar bagi keberhasilan upaya pelestarian budaya.

Baca Juga:  Dalam Peresmian Patrion Nusantara, Laksamana Muda TNI Julius Widjojo Dorong Indonesia Ciptakan Superhero dari Budaya Lokal

Ia menegaskan bahwa tanpa kebanggaan atas identitas bangsa, upaya semacam itu berisiko terhenti di tengah jalan.

Pendidikan Dinilai Mempertahankan Perspektif Kolonial

Selain menyoroti pola konsumsi, Guru Gembul juga mengkritisi sistem pendidikan Indonesia.

Ia menilai bahwa narasi sejarah dalam pendidikan formal masih terjebak dalam perspektif kolonial, yang berdampak pada cara masyarakat memandang budayanya sendiri.

“Kenapa pendidikan kita justru malah mempertahankan cara pandang kolonial terhadap bangsa Indonesia dan akhirnya mengkerdilkan tradisi-tradisi dan kebudayaan Nusantara,” tanyanya.

Sebagai contoh, ia memaparkan narasi sejarah yang diajarkan sejak bangku sekolah.

Menurutnya, sejarah Nusantara sering dimulai dari jalur perdagangan maritim India-Cina, tanpa menyoroti peran aktif nenek moyang bangsa sendiri.

“Kita tidak pernah mewariskan tradisi leluhur kita. Kita tidak pernah melestarikan tradisi leluhur kita. Itu masalah utamanya,” tegasnya.

Tantangan Bagi Institusi Pendidikan

Dalam penutup pernyataannya, Guru Gembul menantang institusi pendidikan untuk menulis ulang sejarah bangsa dari sudut pandang bangsa sendiri.

Ia mengajak para pemangku kebijakan untuk tidak lagi menggunakan kacamata penjajah dalam membingkai perjalanan budaya Indonesia.

“Saya tanyakan kembali kenapa sejarah-sejarah kita selalu dilihat dalam kacamata penjajah Belanda 350 tahun,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa bangsa dengan tradisi dan identitas kuat tidak semestinya dapat dijajah dalam rentang waktu yang begitu panjang.

Pelestarian Budaya Nusantara Perlu Fondasi Identitas Kuat

Melalui forum Patrion Nusantara, Guru Gembul menekankan bahwa pelestarian budaya tidak hanya soal menghidupkan kembali tradisi, melainkan juga membangun rasa percaya diri kolektif terhadap identitas bangsa.

Tanpa itu, menurutnya, berbagai upaya pelestarian berisiko tidak berkelanjutan.

“Kalau misalkan ada upaya untuk mempertahankan tradisi leluhur kita, ada upaya untuk mempertahankan budaya kita, siapa yang mau mempertahankannya?” pungkasnya di hadapan peserta peresmian.

Baca Juga:  Patrion Nusantara Diresmikan, Jadi Pedoman Anak Bangsa Menuju Indonesia Emas 2024

(AKM/NID/RAD)

Trending