Connect with us

Internasional

Maskapai Qantas Diretas! Data 6 Juta Pelanggan Terancam Bocor

Qantas diserang siber hingga data 6 juta pelanggan berpotensi bocor. Sistem pihak ketiga jadi celah. Perusahaan pastikan data finansial aman.

Logompn

Published

on

Maskapai qantas diretas! data 6 juta pelanggan terancam bocor
Ilustrasi Serangan Siber. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 2 Juli 2025 - Maskapai Qantas mengalami serangan siber yang berpotensi membocorkan data sekitar 6 juta pelanggan.

Insiden ini diumumkan pada Rabu (2/7), setelah Qantas memastikan sistem yang terdampak telah diamankan.

Serangan tersebut menargetkan sistem layanan pelanggan milik pihak ketiga yang digunakan oleh Qantas.

Data yang kemungkinan terdampak meliputi nama, alamat email, nomor telepon, tanggal lahir, dan nomor keanggotaan frequent flyer.

Meski demikian, Qantas menegaskan bahwa informasi sensitif seperti data kartu kredit, nomor paspor, dan informasi login (password, PIN, dan akses akun) tidak termasuk dalam data yang dikompromikan.

“Kami mendeteksi aktivitas tidak biasa dan segera mengamankan sistem yang terdampak,” ungkap Qantas dalam pernyataan resminya, dikutip MPN Indonesia dari laman The Guardian, Rabu (2/7).

Hingga kini, perusahaan masih mengevaluasi jumlah pasti data yang berhasil dicuri, namun menyebut potensi kebocoran ini cukup signifikan.

Sistem Pihak Ketiga Jadi Celah Akses

Qantas menjelaskan bahwa pelaku berhasil mengakses sistem milik penyedia layanan pelanggan eksternal.

“Pelaku serangan siber menargetkan pusat layanan dan mendapatkan akses ke platform layanan pelanggan pihak ketiga,” tulis Qantas dalam pembaruan kepada pelanggan.

Meski identitas pelaku belum diketahui, metode yang digunakan diduga mirip dengan taktik kelompok ransomware Scattered Spider.

Kelompok ini dikenal menargetkan maskapai dan ritel di AS dan Inggris, menggunakan teknik rekayasa sosial untuk menipu staf TI dan melampaui sistem otentikasi ganda.

FBI sebelumnya menyampaikan bahwa kelompok tersebut kerap menyasar penyedia layanan TI pihak ketiga dalam jaringan maskapai penerbangan.

“Mereka menargetkan perusahaan besar dan penyedia layanan TI pihak ketiga mereka, yang berarti siapa pun dalam ekosistem maskapai, termasuk vendor dan kontraktor tepercaya, bisa menjadi sasaran,” tulis FBI dalam pernyataan yang dirilis di platform X.

Langkah Penanganan dan Permintaan Maaf Resmi

Qantas telah melaporkan insiden ini ke Australian Cyber Security Centre, Office of the Australian Information Commissioner, dan Kepolisian Federal Australia.

Tim ahli independen keamanan siber juga telah direkrut untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

CEO Qantas, Vanessa Hudson, menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pelanggan yang terdampak.

“Kami dengan tulus meminta maaf kepada pelanggan kami dan kami memahami ketidakpastian yang ditimbulkan oleh insiden ini. Pelanggan kami mempercayakan informasi pribadi mereka kepada kami, dan kami mengambil tanggung jawab ini dengan sangat serius,” ujar Hudson.

Qantas menyatakan telah mulai menghubungi pelanggan terdampak dan menyediakan layanan dukungan khusus.

Mereka juga membuka halaman informasi khusus di situs resminya sebagai bentuk transparansi terhadap perkembangan penyelidikan.

Tren Serangan Siber di Australia Meningkat

Insiden yang menimpa Qantas terjadi di tengah meningkatnya serangan siber di Australia.

Pada April lalu, sejumlah dana pensiun menjadi korban peretasan dengan kerugian lebih dari AUD 500.000.

Laporan dari Office of the Australian Information Commissioner menyebutkan, sepanjang 2024 terdapat 1.113 insiden pelanggaran data, meningkat 25% dibanding tahun sebelumnya.

Sekitar 69% dari insiden tersebut disebabkan oleh serangan siber dengan motif jahat.

Metode phishing menjadi yang paling dominan (34%), disusul oleh ransomware (24%).

Sebagian besar insiden memengaruhi kurang dari 5.000 individu, meski dua insiden besar berdampak pada 500.000 hingga 1 juta orang.

Sektor kesehatan mencatat jumlah insiden tertinggi dengan 121 laporan, diikuti sektor pemerintahan (100), keuangan (54), hukum dan akuntansi (36), serta ritel (34).

Informasi yang paling sering terdampak adalah data kontak, identitas, serta informasi finansial dan kesehatan.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Continue Reading

Trending