Connect with us

Berita

Menkes: Dokter yang Memusuhi AI akan Terbelakang

Menkes Budi Gunadi Sadikin mendorong dokter untuk beradaptasi dengan AI medis. Sebut AI sebagai teknologi yang mendukung, bukan menggantikan dokter.

Logompn

Published

on

Menkes dokter yang memusuhi ai akan terbelakang
Ilustrasi Dokter Menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) di Rumah Sakit. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 17 Juli 2025 - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya adaptasi dokter terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia medis.

Hal ini ia sampaikan saat menghadiri peluncuran robot bedah The First Da Vinci Xi in Indonesia di RS Siloam, Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (16/7).

“Dokter harus pakai AI. AI enggak mungkin tanpa dokter. Tapi dokter yang memusuhi AI justru akan terbelakang,” ujar Budi dalam acara tersebut.

Ia menambahkan bahwa AI dapat meningkatkan akurasi tindakan medis seperti operasi dan menjadi alat bantu yang signifikan bagi para tenaga kesehatan.

Namun, ia juga menegaskan bahwa teknologi ini tidak menggantikan peran dokter.

Pemanfaatan AI di Dunia Medis

Budi menjelaskan bahwa kecerdasan buatan mulai diterapkan dalam berbagai perangkat medis untuk meningkatkan presisi prosedur kesehatan.

Salah satu contohnya adalah penggunaan robot Da Vinci untuk operasi umum dan Mako Spine untuk prosedur tulang belakang.

“Sekarang masih sangat sederhana, tapi biasanya alat-alat kayak gini yang saya lihat, seperti Da Vinci ya, ada Mako Spine,” kata Budi.

“Mako itu buat tulang belakang, dan menggunakan AI, jadi dikasih tahu titik-titiknya mesti di mana,” tambahnya.

Dengan dukungan AI, perangkat ini mampu menunjukkan lokasi-lokasi presisi dalam tubuh pasien guna meminimalkan kesalahan dan meningkatkan efisiensi prosedur medis.

“Langsung pakai robot, di sini kan lebih precise (tepat). Mereka belajar, tinggal nanti dicocokin dengan orang Indonesia,” ungkapnya.

AI Sebagai Teknologi Pendukung Dokter

Budi menekankan bahwa AI bukan pengganti, melainkan pendukung keahlian dokter.

Baca Juga:  Pria di Jakarta Timur Divonis 18 Tahun Penjara usai Bunuh Suami Selingkuhannya

Ia menyebut teknologi ini sebagai bentuk augmented intelligence, bukan sekadar artificial intelligence.

“Ini AI ini augmented technology, jadi bukan artificial, augmented intelligence,” tegasnya.

Menurutnya, kolaborasi antara dokter dan teknologi akan menjadi kunci dalam transformasi layanan kesehatan di Indonesia.

Dorongan Adaptasi dan Inovasi

Peluncuran robot Da Vinci Xi di RS Siloam menjadi bagian dari langkah integrasi teknologi canggih dalam sistem pelayanan kesehatan.

Budi berharap inovasi ini bisa mendorong rumah sakit lain untuk melakukan hal serupa.

Ia juga mengajak seluruh tenaga medis untuk tidak menolak kemajuan teknologi, khususnya AI, agar tidak tertinggal dalam persaingan global.

Kolaborasi antara kecerdasan buatan dan keahlian manusia dinilai penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.

(AKM/NID/RAD)

Trending