Connect with us

Film

Apa Itu Operasi Seroja 1975? Kisah Nyata Prajurit yang Diangkat jadi Film Believe

Operasi Seroja 1975 menjadi latar utama dalam film Indonesia terbaru berjudul Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian, yang akan tayang pada Kamis (24/7).

Logompn

Published

on

Apa Itu Operasi Seroja 1975? Kisah Nyata Prajurit yang Diangkat jadi Film Believe
Apa Itu Operasi Seroja 1975? Kisah Nyata Prajurit yang Diangkat jadi Film Believe | Gambar: Ig/@filmbelieve

MPN Indonesia 23 Juli 2025 - Operasi Seroja 1975 menjadi latar utama dalam film Indonesia terbaru berjudul Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian, yang akan tayang pada Kamis (24/7).

Film Believe mengangkat kisah prajurit TNI Agus, putra dari veteran Operasi Seroja, yang mengikuti jejak ayahnya mengabdi kepada bangsa melalui jalur militer.

Berawal dari tragedi keluarga akibat luka perang, Agus menemukan makna pengorbanan dan keberanian.

Disutradarai oleh Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana, film Believe merupakan adaptasi dari buku biografi Believe – Faith, Dream, and Courage.

Kisahnya mencakup perjalanan militer Indonesia di Timor Timur, dimulai dari operasi seroja 1975 hingga penugasan pada tahun 1995 dan 1999.

Melibatkan tokoh militer nyata Jenderal Agus Subiyanto sebagai salah satu penulis naskah, film ini menyajikan kisah personal yang didasari peristiwa sejarah otentik, termasuk dilema emosional prajurit TNI di medan tempur.

Film ini bukan hanya menampilkan ketegangan militer, tetapi juga memperlihatkan dinamika keluarga prajurit, tekanan batin saat tugas negara, serta sisi kemanusiaan dalam konflik.

Apa Itu Operasi Seroja 1975?

Dikutip MPN Indonesia dari Jurnal Kesejahteraan Prajurit dan Keluarga Prajurit dalam Operasi Seroja 1975-1978 karya Frido Paulus Simbolon, Operasi Seroja 1975 terjadi pada 7 Desember 1975 sebagai respons Indonesia terhadap konflik internal di Timor Timur pascakejatuhan rezim Portugal.

Konflik bermula ketika Fretilin mendeklarasikan kemerdekaan secara sepihak pada 28 November 1975, memproklamasikan berdirinya Republik Demokratik Timor Lorosae.

Padahal, saat itu Timor Timur telah berintegrasi dengan Indonesia sejak 17 Juli 1976 sebagai provinsi ke-27.

Proklamasi Fretilin ini tidak diakui oleh partai-partai lainnya, yang justru merespons dengan mengeluarkan Deklarasi Balibo dua hari setelahnya, yakni pada 30 November 1975.

Baca Juga:  Satu Oknum TNI Diduga jadi Pelaku Penembakan 3 Polisi yang Tewas di Way Kanan

Partai yang menolak langkah Fretilin terdiri dari empat partai. Mereka kompak menyatakan keinginan integrasi Timor Timur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menanggapi pergolakan yang terjadi, TNI mengerahkan kekuatan penuh melalui gabungan tiga matra, Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

“Indonesia pada saat itu di bawah kekuasaan Presiden Soeharto, bahwasanya setiap ada yang menentang terhadap pemerintah Indonesia akan dilakukan perlawanan juga,” demikian laporan jurnal Konflik Indonesia Terhadap Timor Leste Tahun 1975-1999 karya Nisfi Sulpina pada 2023.

Rekrutmen besar-besaran dilakukan oleh ABRI, termasuk dari resimen mahasiswa dan relawan, demi memperkuat pasukan.

Operasi yang digadang-gadang sebagai operasi militer terbesar Indonesia ini diperkirakan telah menewaskan sekitar 100 ribu hingga 180 ribu jiwa yang terdiri dari tentara dan warga sipil.

Menurut penuturan Peltu (Purn TNI) Kasbin, dikutip MPN Indonesia dari jurnal yang dipublikasikan Universitas Negeri Yogyakarta, prajurit Operasi Seroja hanya menjalankan perintah atasan tanpa mengetahui ada campur tangan internasional.

“Tugas yang diemban oleh prajurit ABRI di Timor Timur merupakan hal yang
berat. Bagi prajurit-prajurit ABRI, mereka hanya melaksanakan perintah dari atasan
tanpa mengetahui campur tangan internasional di dalamnya,” demikian bunyi jurnal itu.

Representasi Operasi Seroja dalam Film Believe

Dalam film Believe, gambaran tentang operasi seroja 1975 disajikan dalam bentuk narasi lintas waktu, memperlihatkan dampaknya terhadap keluarga prajurit dan pilihan hidup generasi selanjutnya.

Karakter Agus tumbuh di bawah bayang-bayang pengorbanan sang ayah. Ketegangan militer tidak digambarkan sebagai aksi semata, tetapi sebagai situasi yang melibatkan keputusan moral.

Penampilan tokoh-tokoh kuat, termasuk Evi (Adinda Thomas), Dedi (Wafda Saifan Lubis), dan tokoh pendukung lainnya, mengilustrasikan kompleksitas kehidupan keluarga militer.

Baca Juga:  Satu Orang Prajurit TNI Anggota UNIFIL Gugur akibat Serangan Israel di Lebanon

Kru produksi melakukan riset mendalam agar elemen sejarah seperti seragam, senjata, hingga suasana desa era 1970-an divisualisasikan secara akurat, memperkuat daya otentik film ini sebagai bagian dari genre film Indonesia bertema militer.

(ELG/NID/RAD)

Trending