Connect with us

Lifestyle

Kapal KM Barcelona V Terbakar, Psikolog Beberkan Dampak Mental Penyintas

Tragedi KM Barcelona V menimbulkan luka psikologis pada penyintas. Psikolog Kasandra Putranto ungkap dampak PTSD, risiko depresi, dan strategi pemulihan trauma.

Logompn

Published

on

Kapal km barcelona v terbakar, psikolog beberkan dampak mental penyintas
Kapal KM Barcelona V Terbakar, Psikolog Beberkan Dampak Mental Penyintas. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 23 Juli 2025 - Tragedi kecelakaan kapal KM Barcelona V yang terjadi pada Minggu (20/7) di perairan Pulau Talise, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, memicu duka mendalam dan keprihatinan nasional.

Kapal yang mengangkut 580 penumpang ini terbakar sekitar 60 kilometer dari Pelabuhan Manado, menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan ratusan penumpang lainnya terpaksa menyelamatkan diri dengan melompat ke laut.

Di balik upaya pencarian korban, terdapat luka tak kasat mata yang dialami para penyintas (orang yang mampu bertahan hidup).

Gangguan psikologis seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), gangguan kecemasan akut, hingga disosiasi mengintai para korban, terutama anak-anak, ibu hamil, dan individu yang menyaksikan kematian atau mengalami penyelamatan dramatis.

Salah satu gambaran nyata trauma tersebut terlihat dalam video yang menampilkan penyelamatan seorang balita perempuan oleh Abdul Rahman Agu, yang menemukan balita itu terombang-ambing di laut tanpa pelampung.

Sambil menggendong sang balita, Abdul Rahman terdengar berteriak meminta bantuan, “Om, anak kecil, tolong,” kepada kapal nelayan yang melintas.

Dra. A. Kasandra Putranto, psikolog klinis forensik, menegaskan bahwa dampak psikologis yang muncul dari tragedi ini bisa lebih berat dibanding luka fisik jika tidak segera ditangani.

Dampak Psikologis yang Dialami Penyintas

Dra. Kasandra menjelaskan bahwa penyintas kecelakaan laut berisiko mengalami sejumlah gangguan psikologis, seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang ditandai dengan kilas balik, mimpi buruk, dan penghindaran terhadap ingatan traumatis.

Selain itu, survivor’s guilt dan depresi juga kerap muncul.

“Perasaan bersalah karena selamat sementara orang lain tidak, dapat memicu gejala depresi berat, seperti putus asa dan menarik diri dari kehidupan sosial,” jelasnya kepada MPN Indonesia dalam pesan singkat, Senin (21/7).

Baca Juga:  Dampak Buruk jadi People Pleaser dan Cara Mengatasinya!

Gangguan psikologis lain yang umum terjadi meliputi:

  • Gangguan kecemasan akut dengan gejala ketakutan ekstrem atau serangan panik.
  • Gangguan tidur dan mimpi buruk berulang akibat stres dan hiperaktivasi sistem saraf.
  • Disosiasi, yaitu perasaan terlepas dari tubuh atau situasi.
  • Trauma pada anak-anak yang dapat mengganggu perkembangan emosional dan sosial.

Penanganan Awal Trauma

Terkait penanganan, Dra. Kasandra merekomendasikan Psychological First Aid (PFA) sebagai langkah awal.

“PFA adalah pendekatan noninvasif yang diberikan segera setelah kejadian traumatis untuk menenangkan dan menstabilkan korban,” katanya.

Dra. Kasandra juga menekankan pentingnya validasi emosi.

“Biarkan korban mengungkapkan perasaannya tanpa dihakimi. Hindari menyuruh mereka ‘kuat’ atau ‘jangan menangis’, validasi perasaan takut, marah, atau sedih mereka,” tambahnya.

Penanganan awal lainnya mencakup:

  • Stabilisasi psikologis dengan teknik grounding bagi korban yang panik atau disosiasi.
  • Menghindari intervensi terlalu dini yang mengorek trauma.
  • Pemantauan berkelanjutan dan rujukan ke psikolog atau psikiater jika gejala berat tidak mereda.

Risiko Trauma Jika Tidak Ditangani

Dra. Kasandra menegaskan bahwa trauma yang tidak ditangani dapat berdampak jangka panjang.

“Reaksi trauma akut bisa berkembang menjadi PTSD jangka panjang, ditandai dengan kilas balik berulang, mimpi buruk, hingga penghindaran sosial,” paparnya.

Dampak lainnya termasuk depresi berat, penyalahgunaan zat, gangguan relasi sosial, risiko bunuh diri, dan trauma transgenerasional yang dapat memengaruhi pola asuh korban terhadap anak-anak mereka.

Kondisi Anak-anak dan Ibu Hamil

Dalam wawancara, Dra. Kasandra menyebut anak-anak dan ibu hamil sebagai kelompok paling rentan.

Pada anak-anak, ia menyebutkan respons emosional intens seperti tangisan tanpa henti, regresi perilaku (kembali mengompol, berbicara cadel), gangguan tidur, dan rasa bersalah.

Pada ibu hamil, risiko yang muncul meliputi kecemasan tinggi, gangguan ikatan ibu-janin (prenatal bonding), hingga risiko PTSD perinatal.

Baca Juga:  Kapal Basarnas Meledak di Ternate, 3 Orang Tewas dan 1 Wartawan Dikabarkan Hilang

Strategi Pemulihan Komunitas

Dra. Kasandra menekankan perlunya pemulihan psikologis yang bersifat sistematis, seperti:

  • Pemetaan kebutuhan psikososial komunitas.
  • Penyediaan PFA berskala komunitas.
  • Ruang aman untuk pemulihan sosial seperti kegiatan bersama atau ritual keagamaan.
  • Edukasi publik mengenai trauma dan resiliensi.
  • Layanan psikologis tingkat lanjut untuk korban dengan gejala berat.
  • Monitoring dan dukungan berkelanjutan untuk anak-anak serta kelompok rentan lainnya

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending