Connect with us

Film

Cinepolis Batal Tayangkan Film Merah Putih One For All

Jaringan bioskop Cinepolis Indonesia resmi membatalkan penayangan film Merah Putih: One for All yang semula dijadwalkan tayang pada Kamis (14/8).

Logompn

Published

on

Cinepolis batal tayangkan film merah putih one for all
Tangkapan layar trailer film Merah Putih One For All | Gambar: YouTube/Cinepolis Indonesia

MPN Indonesia 15 Agustus 2025 - Jaringan bioskop Cinepolis Indonesia resmi membatalkan penayangan film Merah Putih: One for All yang semula dijadwalkan tayang pada Kamis (14/8).

Pembatalan ini diumumkan bertepatan dengan hari pertama perilisan film animasi tersebut, yang disiapkan untuk menyambut peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

“Film #MerahPutih: One For All, yang sebelumnya dijadwalkan tayang untuk menyambut momen kemerdekaan, resmi tidak jadi ditayangkan di seluruh jaringan Cinépolis Indonesia. Terima kasih atas pengertiannya,” tulis Cinepolis di Instagram resminya, @cinepolisid.

Keputusan ini terjadi di tengah sorotan publik terhadap film animasi tersebut.

Sejumlah kritik dari penonton dan pengamat muncul sejak trailer film dirilis, dengan sorotan utama pada kualitas animasi yang dinilai belum layak tayang di bioskop.

Komentar Netizen

Unggahan Cinepolis ini langsung menuai banyak komentar netizen. Alih-alih kecewa, banyak netizen yang justru mendukung keputusan Cinepolis.

“Ya ampunnn kecewa banget pas hari H tayang malah dibatalin, knapa gak dari kemaren-kemaren?! 🥹😭” kata netizen.

“WE DID IT GUYS,” tulis warganet.

“Nah gini lho cancel culture 🙌🔥” saut yang lain.

“Suara rakyat menang!!! Kita menang🔥🔥🔥” ujar netizen.

Lolos Sensor

Film animasi Merah Putih: One for All telah lulus sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF) dan mendapatkan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) dengan klasifikasi Semua Umur (SU).

Ketua LSF, Naswardi, menyatakan bahwa film ini tidak melanggar kriteria sensor dan memenuhi seluruh aspek penilaian.

“Berdasarkan hasil penilaian dan juga penelitian yang dilakukan oleh kelompok penyensoran, maka film ini tidak ada kaidah kriteria yang dilanggar,” kata Naswardi pada Rabu (13/8).

Naswardi juga menegaskan bahwa tugas LSF adalah menilai kesesuaian konten dengan peraturan sensor, bukan menilai kualitas artistik film.

Baca Juga:  13 Film Islami dan Religi Indonesia yang Cocok Ditonton saat Libur Lebaran

“Jadi, kami di Lembaga Sensor Film tidak diberikan kewenangan untuk menilai kualitas. Itu rating penilaian rendah, tinggi, buruk, sedang, jelek, itu yang bisa memberikan adalah kritikus film, ataupun penonton dari film itu sendiri,” ujarnya.

(ELG/NID/RAD)

Trending