Film
Banyak Dikritik Publik, Film Merah Putih One for All akan Rilis Sekuel Tiap Tahun
Dalam podcast bersama Richard Lee, sutradara film Merah Putih One for All mengungkap rencana lanjutan film tersebut yang akan ditayangkan setiap 17 Agustus.
MPN Indonesia 18 Agustus 2025 - Film animasi Merah Putih One for All akan tetap merilis sekuel setiap tahun, meskipun menuai banyak kritik dari publik.
Rencana ini disampaikan oleh sang sutradara, Endiarto dalam podcast di kanal YouTube dr. Richard Lee, MARS yang diunggah pada Jumat (15/8).
Keputusan tersebut muncul di tengah minimnya minat penonton karena hingga Sabtu (16/8), film Merah Putih One for All hanya disaksikan oleh 1.516 penonton di seluruh Indonesia.
Ia memastikan bahwa setiap tanggal 17 Agustus, film lanjutan dari Merah Putih One for All akan ditayangkan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.
“Kan tadi udah saya bilang, setiap tahun, 17 Agustus pasti muncul Merah Putih One for All,” jawab Endiarto menjawab pertanyaan Richard Lee mengenai sekuel film tersebut, dikutip MPN Indonesia pada Senin (18/8).
Bantah Isu Anggaran Rp6,7 M
Terkait isu bahwa film Merah Putih One for All didanai sebesar Rp6,7 miliar dari pemerintah turut menambah kecaman publik.
Namun, Endiarto membantah klaim tersebut dan menyebut bahwa anggaran yang beredar merupakan kesalahpahaman.
“Nggak bener. Kami juga syok, kaget, bisa muncul narasi begitu. Apalagi ada embel-embel itu anggaran. Wow gitu,” jelas Endiarto dalam video yang sama.
Ia mengatakan bahwa salah satu produser hanya menyebut estimasi biaya jika dikalkulasikan berdasarkan usaha dan nilai yang diberikan tim produksi.
“Kalau effort kami, value kami, diangkakan, ya kurang lebih sekitar 7 M bahkan lebih,” tambahnya.
Endiarto menegaskan bahwa sejak awal, Merah Putih One for All bukan ditujukan untuk tujuan komersial atau festival. Ia menyatakan bahwa para kreator hanya ingin berkontribusi dalam merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia melalui film animasi buatan dalam negeri ini.
Konten Kreator Kritik Rencana Sekuel Merah Putih
Kritik terhadap rencana sekuel film Indonesia tersebut kemudian dilayangkan oleh kreator konten asal Surabaya, Stanley Hao.
Dalam unggahan Instagram @stanleyhaooo pada Sabtu (16/8), ia membandingkan kebijakan Endiarto dengan strategi studio besar seperti DC Universe.
Menurut Stanley, ketika sebuah proyek tidak mendapat respons positif dari penonton, seharusnya dilakukan perombakan menyeluruh.
“Setahu saya studio segede DC aja begitu universe-nya nggak works, film-film sebelumnya flop, fansnya nggak suka, banyak dapat kritikan, itu diberhentiin Pak sama mereka,” ujar Stanley Hao.
Stanley juga menyayangkan keputusan Endiarto untuk tetap menggunakan judul yang sama pada sekuel berikutnya. Ia menilai langkah tersebut tidak mempertimbangkan masukan dari masyarakat yang sudah kecewa.
“Harusnya diterima masukannya, coba perbaiki. Kalau bisa pakai judul yang lain, jangan pakai judul itu lagi. Karena itu sudah traumatik buat masyarakat, buat penonton. Bukan malah dibuat sekuel, part 2,” lanjutnya.
(ELG/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
