Connect with us

Viral

Tangan Santri Terpaksa Diamputasi saat Masih Berada di Dalam Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

Santri Nur Ahmad selamat dari reruntuhan musala di Sidoarjo setelah tim medis amputasi darurat lengan kirinya. Lebih dari 100 santri jadi korban ambruknya bangunan.

Logompn

Published

on

Tangan santri terpaksa diamputasi saat masih berada di dalam reruntuhan ponpes al khoziny
Petugas SAR Gabungan Evakuasi Korban Reruntuhan Bangunan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur. Gambar : Dok. SAR Surabaya

Jawa Timur, MPN Indonesia 2 Oktober 2025 - Tim medis dari RSUD R.T. Notopuro melakukan amputasi darurat terhadap lengan kiri seorang santri bernama Nur Ahmad untuk menyelamatkan nyawanya.

Tindakan ini dilakukan langsung di bawah reruntuhan musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9) sore.

Insiden terjadi sekitar pukul 15.00 WIB ketika para santri tengah melaksanakan salat Asar.

Nur Ahmad menjadi satu-satunya korban yang berhasil dievakuasi hidup dari bawah reruntuhan, meski harus kehilangan lengan kirinya.

Proses Evakuasi dan Keputusan Amputasi

Dokter Larona Hydravianto, spesialis ortopedi dan traumatologi RSUD R.T. Notopuro, menjelaskan bahwa ia menerima laporan dari Basarnas sekitar pukul 19.30 WIB mengenai seorang korban terjepit reruntuhan dengan lengan tergencet beton.

Untuk mencapai lokasi, tim medis harus merayap sejauh 10 meter di ruang sempit setinggi 40–50 sentimeter.

“Jadi masuk itu ada kayak ruangan tempat ambrolnya juga, tapi kita masih lebih masuk ke dalam gitu,” ujar Dokter Larona kepada wartawan di RSUD R.T. Notopuro, Rabu (1/10).

Dalam perjalanan, tim medis menemukan dua korban meninggal sebelum akhirnya menjangkau Nur Ahmad yang dalam kondisi syok berat.

“Saya dekati korban, saya cek nadi dan sebagainya. Dia masih hidup. Komunikasi tidak, dia hanya diam saja,” ucapnya.

Pemeriksaan menunjukkan lengan kiri korban terjepit di bagian siku dengan jaringan yang sudah rusak total.

Karena kondisi darurat dan oksigen terbatas, tim segera memutuskan amputasi untuk menyelamatkan nyawa korban.

Tindakan Medis di Bawah Reruntuhan

Sebelum amputasi, Dokter Larona memanggil dua dokter tambahan, yakni Dokter Aron (ortopedi) dan Dokter Faruq (anestesi), serta membawa peralatan medis lebih lengkap.

Baca Juga:  Viral! Seorang Ibu Pecah Ketuban saat Asyik Nonton Konser Maroon 5 Jakarta

“Karena kita melakukan amputasi pada daerah lengan, pastinya ada risiko syok kemudian nyeri yang sangat hebat ya. Sehingga mungkin perlu obat-obatan dari anestesi begitu. Sudah, langsung kita kontak anestesi dari Rumah Sakit Sidoarjo. Langsung beberapa menit kemudian sudah datang. Akhirnya kita masuk lagi dengan tim yang lebih lengkap dan peralatan yang lebih memadai,” ungkapnya.

Proses amputasi berlangsung sekitar 20 menit dengan penerangan lampu portabel.

Pemotongan dilakukan secara bertahap sambil menarik tubuh korban sedikit demi sedikit hingga lengan terlepas.

“Kita lakukan amputasi setinggi siku di tempat lokasi kejadian di bawah reruntuhan. Jadi kita melakukan pemotongan siku secara cepat ya. Jadi sekitar 20 menit sudah terpotong. Sambil pasien sedikit kita tarik karena memang sikunya itu sangat susah dimobilisasi. Jadi kita tarik sedikit, kita cut, kita tarik sedikit, kita cut, kita cut, sampai betul-betul lepas,” jelasnya.

Setelah amputasi, korban segera ditarik keluar dalam posisi tiarap, kemudian diberikan oksigen, cairan infus, dan stabilisasi awal sebelum dibawa ke Instalasi Gawat Darurat RSUD R.T. Notopuro.

Tindakan Lanjutan di Rumah Sakit

Sesampainya di rumah sakit, tim medis melakukan operasi lanjutan untuk membersihkan dan menutup bekas amputasi.

Operasi selesai pada Selasa (30/9) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.

Direktur Utama RSUD R.T. Notopuro, Dokter Atok Irawan, menjelaskan bahwa amputasi dilakukan tanpa persetujuan keluarga karena keterbatasan komunikasi dan kondisi darurat.

Ia mengakui sempat ada protes dari keluarga, namun setelah penjelasan disertai dokumentasi, pihak keluarga menerima tindakan tersebut dan menyampaikan apresiasi atas upaya penyelamatan.

Kondisi Pasien dan Perawatan Lanjutan

Per Rabu (1/10), kondisi Nur Ahmad stabil, tanpa tanda infeksi, dan mulai bisa berkomunikasi.

Baca Juga:  Viral! Anggota Satpol PP Kebumen Tewas Dibacok ODGJ

Ia masih menjalani observasi sekitar satu minggu sebelum diperbolehkan pulang.

Selain Nur Ahmad, delapan korban lainnya juga dirawat intensif di RSUD R.T. Notopuro.

Selama proses evakuasi, dua perawat, Yusuf Turkhan Efendi dan Adi, membantu secara aktif dengan mengirimkan alat medis secara estafet ke dokter di titik paling dalam reruntuhan.

Kondisi Reruntuhan dan Korban

Bangunan musala tiga lantai Pondok Pesantren Al Khoziny ambruk pada Senin sore saat salat Asar berjamaah.

Akibat insiden ini, lebih dari 100 santri mengalami luka-luka dan sejumlah korban meninggal dunia.

Tiga rumah sakit di Sidoarjo menampung para korban, yaitu RSI Siti Hajar, RSUD R.T. Notopuro, dan RS Delta Surya.

Alat berat sempat dikerahkan, namun pencarian korban lebih banyak dilakukan manual karena masih ada dugaan tanda kehidupan di bawah reruntuhan.

(AKM/NID/RAD)

Trending