Connect with us

Berita

Alasan Basarnas Tak Gunakan Alat Berat saat Awal Evakuasi Korban Ponpes Al Khoziny

Basarnas tidak gunakan alat berat dalam evakuasi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. Evakuasi manual dilakukan demi mencegah keruntuhan susulan dan menyelamatkan korban.

Logompn

Published

on

Alasan basarnas tak gunakan alat berat saat awal evakuasi korban ponpes al khoziny
Alasan Basarnas Tak Gunakan Alat Berat saat Awal Evakuasi Korban Ponpes Al Khoziny. Gambar : X/@BDRT_1927

Jawa Timur, MPN Indonesia 6 Oktober 2025 - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) tidak menggunakan alat berat seperti ekskavator atau crane dalam proses awal evakuasi korban runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, yang terjadi pada Senin (29/9).

Langkah ini diambil untuk mencegah keruntuhan susulan yang dapat membahayakan santri yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Salah satu anggota Basarnas, Ega Prasutia, menyebut bahwa bangunan Ponpes Al Khoziny mengalami pola keruntuhan pancake, di mana struktur bangunan bertumpuk dan sangat tidak stabil.

“Bangunan pesantren ini mengalami pola keruntuhan pancake, di mana material satu menimpa material lain dan memiliki stabilitas yang sangat rendah. Karena itu dibutuhkan shoring atau penopang untuk menstabilkan material sebelum evakuasi,” ujar Ega dalam keterangan video di TikTok pribadinya @egaprasutiaa, dikutip MPN Indonesia pada Senin (6/10).

Ia menegaskan bahwa pemindahan material secara paksa dikhawatirkan memicu reruntuhan susulan dan memperburuk kondisi korban.

“Jika dilakukan pemindahan material, dikhawatirkan akan memicu reruntuhan susulan yang memperburuk kondisi korban atau bisa membuat korban tersebut yang harusnya selamat menjadi tidak selamat karena tertimpa reruntuhan bangunan,” jelas Ega.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii, menegaskan bahwa sejak awal proses pencarian korban, penggunaan alat berat tidak dimungkinkan karena getaran dari alat berat dapat mengubah struktur bangunan yang rapuh.

“Untuk menyelamatkan korban dalam kondisi selamat, penggunaan alat berat belum dimungkinkan lantaran potensi getaran yang dapat mengubah struktur bangunan,” kata Syafii kepada wartawan di lokasi kejadian pada Selasa (30/9).

Penanganan Manual oleh Tim SAR

Evakuasi dilakukan secara manual dengan sistem bergantian menggunakan peralatan khusus, demi keselamatan korban dan petugas di lokasi.

Baca Juga:  Viral! Pengantin Wanita Meninggal Dunia Usai Ijab Kabul, Janur Kuning Langsung Diubah Jadi Bendera Kuning

Material tidak boleh dipindahkan secara paksa karena berisiko memicu keruntuhan lanjutan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan bahwa proses penyelamatan tidak bisa dilakukan terburu-buru karena kondisi struktur reruntuhan yang kompleks.

“Mengapa penanganan ini terkesan lambat? Bukan lambat. Tapi karena ini penyelamatan tidak bisa kita mengonversi satu nyawa dengan berapa-berapa. Basarnas tidak berani mengambil risiko,” ungkap Khofifah pada Rabu (1/10) saat menghadiri acara Jatim Fest di Grand City.

Ia menambahkan bahwa penggunaan alat berat seperti ekskavator dan crane belum memungkinkan karena bisa mengganggu proses penyelamatan.

Tim SAR akhirnya menggali dari bawah reruntuhan secara manual dengan kedalaman sekitar 80 cm, karena di bawah terdapat keramik, beton, dan sisa bangunan lainnya.

Kondisi Korban dan Penanganan di Lapangan

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Rabu (1/10), masih ada 91 korban yang diperkirakan tertimbun reruntuhan bangunan.

Pada hari ketiga pencarian, Tim SAR kembali menemukan tujuh korban, terdiri dari dua meninggal dunia dan lima selamat.

Tim SAR gabungan terdiri dari 379 personel dari 65 instansi yang bekerja bergantian setiap tiga jam, dengan proses evakuasi 24 jam penuh.

Beberapa korban masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan dapat berkomunikasi melalui celah di reruntuhan.

Kepala Basarnas, Syafii, menyebut peluang korban untuk bertahan masih ada jika mendapat suplai makanan, minuman, oksigen, vitamin, dan infus.

“Selama mendapatkan suplai makan minum serta infus, maka memungkinkan korban dapat bertahan lebih lama alias lebih dari batas waktu krusial 72 jam,” tuturnya.

SAR Mission Coordinator (SMC) Nanang Sigit menambahkan bahwa sekitar 15 titik korban telah terdeteksi, terdiri dari delapan berstatus kesadaran hitam (tidak bisa berkomunikasi) dan tujuh berstatus merah (masih bisa merespons).

Baca Juga:  Klarifikasi Wanita yang Diduga Marah-Marah saat Gym di Bali

Beberapa korban masih bisa menggerakkan kaki atau anggota tubuh lainnya meski terjepit beton.

Tantangan di Lapangan

Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Freezer, menjelaskan bahwa hingga hari ketiga, total 11 korban telah berhasil dievakuasi, terdiri dari tiga meninggal dunia dan delapan selamat.

Kendala utama yang dihadapi tim di lapangan adalah struktur bangunan yang rapuh, tumpukan beton yang menyulitkan pergerakan tim, dan posisi korban yang terjepit di antara reruntuhan.

Nanang Sigit menekankan bahwa alasan utama tidak menggunakan alat berat adalah untuk menjaga keselamatan korban dan tim.

“Kami berusaha membuat lubang dari bawah supaya bisa sampai ke para korban dan bisa menjadi jalan untuk mengevakuasi mereka,” pungkasnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending