Connect with us

Lifestyle

Kisah Rahim Copot Viral, Ini Penjelasan dari Dokter Obgyn!

Kisah ibu disebut alami “rahim copot” viral. Dokter obgyn menjelaskan istilah itu tidak dikenal secara medis dan menjelaskan risiko prolaps serta inversio uteri.

Logompn

Published

on

Kisah rahim copot viral, ini penjelasan dari dokter obgyn!
Ilustrasi Melahirkan. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 17 November 2025 - Cerita tentang seorang ibu yang disebut mengalami “rahim copot” setelah melahirkan dengan bantuan paraji atau dukun beranak menjadi viral di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, dokter spesialis obstetri dan ginekologi (dokter obgyn), dr Prita Kusumaningsih, menegaskan bahwa istilah tersebut tidak dikenal dalam dunia medis.

“Istilah rahim copot memang tidak dikenal dalam dunia medis. Tapi mungkin istilah itu dipakai hanya untuk menjelaskan dengan bahasa awam yang mudah dimengerti,” ujar dr Prita dalam keterangannya, dikutip MPN Indonesia dari laman resmi JIH RSIA Al-Fauzan, Senin (17/11).

Ia menjelaskan bahwa rahim berada dalam rongga panggul dan ditopang oleh sejumlah ligamen dari berbagai arah sehingga posisinya tetap stabil, bahkan saat menampung janin dengan berat 3-4 kilogram.

Karena itu, istilah medis yang tepat untuk kondisi serupa adalah prolaps uteri, bukan rahim copot.

Penjelasan Medis Mengenai Kondisi Rahim

Menurut dr Prita, prolaps uteri terjadi saat ligamen penyangga melemah sehingga rahim turun ke dalam vagina, namun tidak sampai keluar atau terlepas.

“Memang ada istilah rahim turun, itu ada namanya prolaps uteri. Itu terjadi apabila ligamen penyangga mengalami kelemahan, sehingga rahim turun ke dalam vagina. Tapi prolaps uteri tidak menyebabkan rahim keluar atau terlepas, melainkan hanya turun dari posisi normalnya,” jelasnya.

Ia menduga kasus viral tersebut lebih mengarah pada kondisi yang jauh lebih serius, yaitu inversio uteri.

Kondisi ini merupakan komplikasi persalinan yang langka, di mana rahim terbalik sebagian atau seluruhnya hingga menonjol ke dalam vagina atau keluar tubuh.

Baca Juga:  Viral di Binjai Ayah Berjalan Kaki Bantu Anaknya yang Pendarahan Hendak Melahirkan, Diduga Tak Mampu dan Ditinggal Suami

Inversio uteri dapat terjadi akibat penarikan tali pusar terlalu kuat sebelum plasenta terlepas atau kasus plasenta akreta yang tidak ditangani dengan benar.

Plasenta akreta adalah kondisi ketika plasenta menempel terlalu dalam pada dinding rahim sehingga tidak dapat terlepas secara normal.

Jika plasenta ditarik paksa, bagian dalam rahim dapat ikut tertarik keluar dan menyebabkan rahim terbalik.

“Inversio uteri itu termasuk kondisi gawat. Rahimnya terbalik dan bagian dalamnya keluar. Perdarahannya bisa sangat banyak, jadi perlu diwaspadai,” ungkap dr Prita.

Risiko Persalinan oleh Paraji

dr Prita menambahkan bahwa kasus seperti inversio uteri lebih berisiko terjadi jika persalinan ditangani oleh paraji yang tidak memiliki bekal medis memadai.

Ia mengungkapkan adanya laporan tindakan berbahaya yang pernah dilakukan paraji, seperti menarik bayi atau tali pusat terlalu kuat, mendorong perut ibu menggunakan kaki, hingga menahan tubuh pada tembok untuk menambah tenaga saat membantu persalinan.

“Dan di daerah itu, apalagi dulu pas saya masih sekolah kedokteran, banyak laporan paraji yang menarik bayi atau tali pusat terlalu kuat, bahkan mendorong perut ibu menggunakan kaki atau menahan tubuh pada tembok untuk menambah tenaga. Tindakan-tindakan itu dapat menyebabkan inversio uteri tadi,” tuturnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak memilih persalinan dengan bantuan paraji.

Bila tidak memungkinkan untuk ditangani dokter obgyn, setidaknya proses persalinan perlu dilakukan oleh bidan terlatih.

Akses Kesehatan di Daerah

dr Prita menyebut pemerintah sudah lama mengimbau masyarakat untuk tidak melahirkan di paraji atau dukun beranak, namun perubahan kebiasaan masyarakat memang tidak mudah.

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan keberadaan bidan di desa-desa agar proses persalinan lebih aman.

“Pemerintah saya kira dari dulu sudah bikin anjuran jangan melahirkan di paraji atau dukun beranak, tapi memang tidak mudah mengubah kebiasaan di masyarakat. Tapi sekarang kan ada bidan di desa ya, masyarakat saya kira bisa memanfaatkan itu,” imbuhnya.

Baca Juga:  Viral Kisah Rahim Wanita Copot Usai Melahirkan di Dukun Beranak, dr Gia Pratama: Tali Pusar Ditarik Paksa

Ia juga mendorong pemerintah untuk terus meningkatkan akses layanan kesehatan di wilayah terpencil dan terluar di Indonesia.

“Jangan sampai ada lagi peristiwa ibu yang akan melahirkan harus ditandu atau naik perahu belasan jam untuk mencapai RS terdekat,” pungkas dr Prita.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending