Connect with us

Berita

Orangutan Tapanuli yang Langka Ditemukan Mati di Bawah Tumpukan Kayu Gelondongan

Seekor orangutan Tapanuli ditemukan mati tertimbun kayu dan lumpur usai banjir bandang dan longsor di Batang Toru, memperkuat ancaman bagi spesies paling langka di dunia.

Logompn

Published

on

Orangutan tapanuli yang langka ditemukan mati di bawah tumpukan kayu gelondongan
Ilustrasi Seekor Orangutan. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 13 Desember 2025 - Seekor orangutan Tapanuli ditemukan mati di bawah tumpukan kayu gelondongan dan lumpur di Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda kawasan pegunungan Batang Toru pada Selasa (25/11).

Temuan ini kembali menyoroti dampak bencana alam terhadap orangutan Tapanuli, spesies orangutan paling langka di dunia dengan populasi yang diperkirakan kurang dari 800 ekor di alam liar.

Relawan evakuasi korban, Decky Chandra, menemukan bangkai orangutan tersebut pada 3 Desember setelah menerima informasi dari warga setempat.

“Ketika pertama kali melihat, saya tidak yakin apa itu karena agak rusak. Mungkin karena terkubur di bawah lumpur dan kayu gelondongan,” ujar Decky dalam keterangannya, dikutip MPN Indonesia dari BBC News Indonesia, Sabtu (13/12).

Ia menjelaskan bahwa bangkai yang ditemukan masih memiliki bulu, dengan kondisi tubuh menunjukkan luka akibat terseret banjir dan longsor.

Kondisi Bangkai dan Konfirmasi Spesies

Pendiri Orangutan Information Centre, Panut Hadisiswoyo, memastikan bahwa bangkai tersebut merupakan orangutan Tapanuli.

Ia menjelaskan bahwa luka-luka pada tubuh satwa tersebut konsisten dengan dampak banjir bandang dan tanah longsor.

“Ya benar, confirm. Orangutan itu dalam kondisi terkena luka akibat terseret air bah dan longsor. Pembusukan aktif terjadi dalam waktu lima hingga 10 hari,” jelas Panut.

Ia menambahkan bahwa longsor terjadi di Blok Barat habitat orangutan Tapanuli, kawasan yang sebelumnya dihuni sekitar 400 hingga 500 individu.

Kerusakan Parah Habitat Batang Toru

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah menewaskan lebih dari 980 orang serta menghancurkan kawasan hutan pegunungan Batang Toru, yang menjadi habitat utama orangutan Tapanuli.

Baca Juga:  Menang Lelang! Raffi Ahmad Tebus Jersey Jay Idzes Rp125 Juta untuk Korban Bencana Sumatra

Direktur Pelaksana Borneo Futures, Erik Meijaard, menyampaikan bahwa analisis citra satelit menunjukkan kerusakan hutan di kawasan tersebut mencapai 7.200 hektare.

“Area yang hancur tersebut diperkirakan dihuni sekitar 35 orangutan. Karena kerusakannya dahsyat, tidak akan mengejutkan jika semuanya mati,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa citra satelit memperlihatkan perubahan drastis dalam waktu singkat.

“Padahal dua minggu lalu masih berupa hutan primer. Hancur total. Banyak petak seluas beberapa hektare yang benar-benar gundul,” kata Meijaard.

Menurutnya, luka pada lanskap pegunungan Batang Toru bahkan membentang lebih dari satu kilometer dengan lebar hampir 100 meter.

Dampak Fatal bagi Populasi Orangutan Tapanuli

Panut menyebutkan bahwa temuan satu bangkai orangutan menjadi bukti konkret dampak bencana terhadap populasi orangutan Tapanuli di alam liar.

“Tempat ini telah menjadi kuburan mereka,” ungkap Decky, yang sebelumnya pernah terlibat dalam kegiatan konservasi orangutan di wilayah tersebut.

Orangutan Tapanuli baru diakui sebagai spesies tersendiri pada 2017. Dengan populasi yang sangat kecil dan wilayah jelajah terbatas di Batang Toru, spesies ini dinilai sangat rentan terhadap gangguan lingkungan berskala besar.

“Setiap tingkat kematian orangutan dewasa yang melebihi satu persen, akan mendorong spesies tersebut menuju kepunahan,” tutur Meijaard.

Para peneliti mencatat bahwa dampak terparah terjadi di Blok Barat, wilayah dengan kepadatan populasi tertinggi.

Sebelum bencana, kawasan ini diperkirakan menjadi habitat sekitar 581 orangutan Tapanuli.

Estimasi awal menunjukkan sekitar 6 hingga 11 persen populasi kemungkinan mati akibat bencana tersebut.

Kerusakan Fasilitas Konservasi dan Satwa Lain

Selain orangutan, satwa liar lain seperti gajah juga dilaporkan terdampak.

Bencana ini turut merusak fasilitas konservasi, termasuk pusat penelitian orangutan di Ketambe, Aceh, yang dilaporkan hancur total.

Baca Juga:  Pelajar di Aceh Tamiang Kembali Masuk Sekolah Pascabanjir

Direktur ilmiah program konservasi orangutan sumatra, Ian Singleton, menyebut kehancuran tersebut sebagai “pukulan besar bagi konservasi orangutan dan akan berdampak jangka panjang.”

Sumatra dikenal sebagai habitat berbagai spesies terancam punah, seperti harimau, gajah, badak, dan orangutan.

Namun, orangutan Tapanuli menjadi perhatian utama karena statusnya sebagai spesies paling langka.

“Yang mengejutkan saya adalah seluruh daging di wajahnya telah terkoyak. Jika berhektare-hektare hutan longsor besar-besaran, orangutan yang perkasa pun tak berdaya,” pungkas Meijaard saat menggambarkan kondisi bangkai yang ditemukan.

Panut menegaskan bahwa meskipun jumlah pasti orangutan yang mati akibat bencana ini belum dapat dipastikan, kerusakan habitat yang masif dan temuan bangkai tersebut menunjukkan dampak nyata terhadap kelangsungan hidup orangutan Tapanuli di alam liar.

(AKM/NID/RAD)

Trending