Politik
Tentang Kak Nono dan Nadiem Makarim
Tulisan reflektif Ario Djatmiko soal dakwaan Nadiem Makarim dan pentingnya keadilan hukum.
MPN Indonesia 18 Desember 2025 - Saat di Sekolah Rakyat (SR), tahun 50-an, ada pelajaran budi pekerti. Gurunya baik. Jadi, saya ingat terus pelajarannya.
Jangan campuri masalah yang bukan urusanmu. Jangan memberikan pendapat jika kamu tidak betul-betul tahu.
Dakwaan korupsi Nadiem jelas bukan urusan saya. Juga, saya tidak tahu persis masalahnya, apalagi soal hukum.
Namun, tentu kita setuju, kebenaran hukum di negeri ini adalah masalah kita bersama, mengapa? Perangkat hukum adalah rambu yang menjaga perjalanan suatu bangsa menuju arah yang benar.
Rusaknya rambu hukum akan membawa satu bangsa ke kehancuran, itu pasti.
Korupsi adalah kejahatan paling terkutuk, yang telah menghancurkan negeri ini, merusak masa depan anak bangsa.
Upaya pemerintah menumpas habis korupsi di negeri ini harus sepenuhnya kita dukung. Namun, benarkah Nadiem, anak yang dulu saya kenal sebagai anak yang ramah, tampan, sportif, dan cerdas itu, pelaku kejahatan yang paling terkutuk di bumi ini?
Saya terkesan kepada Nadiem, ia anak kecil yang banyak bertanya dan betah berlama-lama bicara dengan orang tua.
Teringat saat usia 6-7 tahun, Nadiem bersama bapak dan ibunya, Nono dan Tika Makarim, datang ke rumah di Surabaya.
Kami ngobrol-guyon, Nadiem tertarik dengan burung merpati di rumah. Beberapa bulan kemudian saya ke rumah Kak Nono di Kebayoran, eh Nadiem sudah piara burung merpati.
“Ini gara-gara kamu, Mik,” kata Kak Nono.
Nadiem penyayang binatang. Setelah ia dewasa dan terkenal, saya jarang ketemu Nadiem. Saya hanya melihat like father, like son.
Anak semuda itu sudah mampu membuka lapangan kerja untuk jutaan rakyat negeri ini.
Ada rasa bangga anak Nono Anwar Makarim sehebat itu. Terakhir jumpa saat di Jakarta, diundang Kak Tika makan pagi di Kebayoran.
Kak Nono dan Nadiem yang sudah jadi Mas Menteri bergabung. Tetap seperti dulu, kami ngobrol-guyon, tetapi sama sekali tidak bicara tentang Kemendikbud.
Oh ya, pernah dulu saat Gojek baru saja muncul, Nadiem menelepon saya minta dicarikan “orang baik” untuk jadi partner Gojek di Surabaya.
“Wah Dim, saya ini dokter, nggak ngerti bisnis, apalagi bisnis cara baru seperti Gojek.”
“Justru itu, Om Mik. Kalau sekadar partner, saya bisa cari sendiri. Tetapi, kalau cari orang baik, saya harus tanya Om Mik.”
Saya tidak membalas telepon Nadiem bukan karena malas. Banyak pebisnis hebat saya kenal di Surabaya, tapi menjamin bisa mendapatkan orang baik versi Nadiem saya tidak berani.
Namun, saya sangat terkesan, dalam berbisnis pun, Nadiem mengutamakan nilai manusianya.
Lawyer dan Dokter
Selera humor Kak Nono tinggi, ngobrol dengannya selalu asyik, apalagi ditimpali oleh Kak Fikri (Fikri Jufri, Tempo). Wuih, bisa ngakak terus.
Dua puluh tahun lalu, 25 Juni 2005, saya menerima e-mail dari Kak Nono.
Ia membuat tulisan panjang perihal pelayanan medis di Indonesia jika dibandingkan dengan luar negeri.
Ia menceritakan pengalaman buruk penanganan keluarga dan teman-temannya di Jakarta. Kak Nono menulis:
“Apakah di luar negeri pasti lebih baik daripada di Indonesia? Saya tidak tahu, tetapi setidaknya sebagai pasien, saya merasa saya didengar dan saya melihat mereka merawat kami dengan sungguh-sungguh. Biaya mungkin lebih mahal, tetapi sebagai manusia, kami merasa dihargai.”
Dari Kak Nono, saya mendengar satu istilah compassion fatigue, kalau diterjemahkan, artinya, hilangnya rasa iba.
Istilah itulah yang terus saya sebut saat membimbing dokter PPDS1 (pendidikan spesialis).
“Tidak jauh beda dengan duniamu, Mik. Dunia hukum juga sama. Nilai-nilai sakral profesi dokter dan hukum kini sudah makin ditinggalkan. Jelas Mik, pekerja medik dan pekerja hukum harus diawasi.” Saya menjawab e-mail Kak Nono. “Benar Kak Nono, dunia medik dan dunia hukum memang harus diawasi. Itulah yang saya kerjakan selama ini.”
Eh, ia telepon, “Mik, banyak teman dan keluarga saya dirawat di RS mu, kesannya sangat baik, dirawat seperti keluarga. Kalau kamu ke Jakarta, mampir ya Mik, kita omong-omong. Nanti Tika akan menyiapkan makanan favoritmu.”
Benar, mungkin karena lawyer Kak Nono itu pendengar yang baik, saya coba terangkan tentang perubahan paradigma pelayanan kesehatan dari doctor center ke hospital center dan akhirnya ke patient center care.
“Hal itulah yang saya lakukan di RS kami. Prinsipnya, kami menjaga manusia dengan hati kita dan sistem yang rapi, Kak Nono. Doctor center sudah harus ditinggalkan karena hati manusia bisa berubah. Harus ada sistem yang bisa menjaga lebih disiplin, objektif dan transparan.”
Saya terangkan perihal perlunya kerja tim, multi-disciplinary approach (MDT), dan tumor board meeting untuk menjaga layanan agar tepat dan selalu terukur.
Juga, tentang patient experience, pentingnya kita mengetahui apa yang dirasakan pasien saat berinteraksi dengan kita. “Ia merasa terlindungi atau dikerjain, ini penting Kak Nono.”
Tiba-tiba Kak Nono berdiri, memegang erat tangan saya. “Malam ini saya belajar banyak dari kamu, Mik. Memang hakikatnya tugas dokter dan lawyer adalah menjaga manusia. Tidak cukup menjaga hak asasi manusia hanya dengan hati, harus ada sistem yang solid. Saya akan menerapkan prinsipmu di law firm saya.”
Ada pesan Kak Nono yang sangat ingat.
“Mik, pengetahuan adalah taruhan masa depan bangsa ini. Dalam menimba ilmu, kita harus mempunyai akses ke pusat pendidikan termaju di dunia. Kita hanya bisa membangun negeri ini kalau kita menjadi orang global, setara atau bahkan lebih pintar daripada mereka. Tapi sayang, saya lihat anak-anak pintar Indonesia yang sekolah di luar negeri banyak yang tidak mau pulang.”
Hal itu tidak akan terjadi pada anak-anak saya, Mik. Pesan saya pada anak-anak saya, ‘bagaimanapun pintarnya kamu dan sehebat apa pun kamu, kamu makan dan minum dari tanah yang disebut Indonesia. Pulanglah ke tanah airmu, bangunlah negerimu karena dia yang melahirkan kamu, bukan negeri lain.’
Kak Nono PhD dari Harvard University, Nadiem MBA dari Harvard University, Hanna master dari Yale University, Rayya master dari Goldsmith University of London.
Benar, mereka orang-orang global yang bisa tinggal di mana saja di belahan bumi ini, tetapi mereka memilih pulang untuk membangun negerinya.
To err is human, kita tahu kesalahan itu tidak selalu merupakan kejahatan.
Namun, kita juga tahu kesalahan bisa diperbuat oleh terdakwa, tapi juga bisa dibuat oleh sang pendakwa.
Lebih dari 50 tahun saya mengenal keluarga baik itu, sungguh tidak setitik pun saya membayangkan keluarga tersebut bisa melakukan kejahatan terkeji di negeri ini: korupsi.
Namun, perasaan saya itu tentu tidak ada artinya, bukan alat bukti. Pengadilanlah yang akan membuktikan kebenarannya dan menjatuhkan vonis. Bila Nadiem benar terbukti melakukan kejahatan, sungguh saya terpukul.
Keluarga Kak Nono yang begitu lama menjadi role model keluarga saya ternyata tidak becus mendidik anak. Tidak bisa dihindari, pengadilan Nadiem ini akan menjadi sorotan mata nasional, internasional, dan catatan sejarah negeri ini.
Saat dunia sudah begitu terbuka seperti ini, pengadilan sungguh bukan merupakan kotak hitam yang tertutup lagi. Terang dan semua orang bisa membaca. Bahwa Nadiem bisa salah dan pendakwa pun bisa salah.
Yang jelas, tidak bisa negeri ini dibangun di atas fondasi hukum yang rapuh. Bila itu terjadi, kehancuran negeri ini tinggal menunggu waktu.
Saat akan ke Melbourne 6 Desember 2025, saya sempatkan mampir Jakarta, ketemu Kak Tika. Saya lega senyum wanita tegar itu tidak pernah berkurang. Kak Nono dengan segala keterbatasannya tetap berusaha berdialog.
Terasa benar keluarga itu tetap rasional dan percaya benar kepada kebenaran hukum. Saat pulang, saya melihat Mumu, anak Nadiem terkecil berusia 1 tahun, yang terus tersenyum.
Apakah anak manis dan tak berdosa itu harus ikut menanggung keruwetan dunia yang dia tidak mengerti. Tiba-tiba air mata saya menetes.
Saya teringat pesan Saint Mathew satu abad sebelum Masehi, justice is the province of God, pasti ada balas di alam sana….
Penulis: Ario Djatmiko
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
