Connect with us

Politik

Misteri Kematiannya Kembali Viral di Media Sosial, Wakil Bupati Sangihe Dikenal Vokal Tolak Tambang Emas

Kematian Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong kembali viral. Sosok penolak tambang emas ini meninggal mendadak di pesawat pada 2021 dan masih menyisakan pertanyaan publik.

Logompn

Published

on

Misteri kematiannya kembali viral di media sosial, wakil bupati sangihe dikenal vokal tolak tambang emas
Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong. Gambar : X/@REVOLTOFSAND

Sulawesi Utara, MPN Indonesia 18 Desember 2025 - Misteri kematian Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong, kembali ramai diperbincangkan di media sosial pada pertengahan Desember 2025.

Helmud, yang dikenal vokal menolak aktivitas tambang emas di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, meninggal mendadak saat berada di dalam pesawat Lion Air JT-740 pada (9/6/2021), dan hingga kini peristiwa tersebut masih menyisakan tanda tanya di tengah publik.

Saat itu, Helmud tengah melakukan perjalanan dari Bali menuju Manado melalui Makassar.

Sekitar 20 menit setelah pesawat lepas landas, ia mengeluh pusing dan meminta ajudannya mengoleskan minyak kayu putih.

Tidak lama kemudian, Helmud kehilangan kesadaran di kursi penumpang.

Meski sempat mendapatkan pertolongan dari seorang penumpang yang berprofesi sebagai dokter, nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia di dalam pesawat.

Hasil autopsi resmi menyatakan penyebab kematian Helmud adalah komplikasi penyakit kronis dan tidak ditemukan unsur racun.

Namun, rekam jejaknya sebagai pejabat yang menentang tambang emas membuat spekulasi publik terus berkembang hingga kini.

Sikap Tegas Menolak Tambang Emas Sangihe

Semasa hidup, Helmud Hontong dikenal sebagai Wakil Bupati Sangihe yang secara terbuka menolak izin operasi PT Tambang Mas Sangihe (TMS).

Ia menentang konsesi tambang emas yang dikeluarkan Kementerian ESDM dengan luas mencapai 42 ribu hektare atau sekitar 56,9 persen dari total wilayah Kabupaten Sangihe.

Menurut Helmud, wilayah tersebut tidak layak dijadikan area pertambangan karena Sangihe merupakan pulau kecil yang sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan.

Penolakan itu tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga dituangkan dalam bentuk surat pribadi kepada Kementerian ESDM yang berisi permohonan pembatalan izin tambang.

Baca Juga:  Profil Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong yang Wafat di Penerbangan Denpasar-Makassar

Surat tersebut menjadi salah satu langkah terakhir Helmud sebelum meninggal dunia secara mendadak.

Sorotan Publik dan Isu Lingkungan

Perhatian publik terhadap kematian Helmud kembali menguat seiring meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan dan maraknya bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.

Isu ini turut dikaitkan dengan bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra.

Akun @SaveSangihe di platform X menyuarakan solidaritas atas bencana tersebut sekaligus mengaitkannya dengan eksploitasi lingkungan.

“Kami bersolidaritas untuk bencana alam yang terjadi di Sumatra akibat kerakusan berbagai pihak. Kami tidak akan membiarkannya terjadi dimanapun, Dan juga di tanah air kami, Sangihe,” tulis akun tersebut pada Minggu (14/12), dikutip MPN Indonesia pada Kamis (18/12).

Akun yang sama juga menyampaikan kekecewaan terhadap masih berlanjutnya aktivitas tambang di Sangihe, meski Mahkamah Agung telah mengabulkan gugatan rakyat pada 2022 yang menyatakan pulau kecil seperti Sangihe tidak boleh ditambang.

“Ini adalah keadaan Pulau Sangihe pada hari ini, pergulatan yang dimenangkan Rakyat di Mahkamah Agung pada tahun 2022 lalu sia-sia. Seharusnya, wilayah Sangihe adalah Pulau kecil yang tidak boleh ditambang tetapi Sangihe masih terus dihajar oleh perusahaan tambang emas dari Kanada,” ungkap @SaveSangihe.

Sementara itu, akun @logos_id turut menyindir kepentingan pemilik modal di balik proyek tambang yang pernah ditolak Helmud.

“Jangan cari pemegang saham PT Tambang Mas Sangihe yang ditolak oleh wakil bupati ini ya. Jangan,” tulis akun tersebut.

Kematian Helmud Hontong, bersamaan dengan masih berlangsungnya aktivitas pertambangan di Kepulauan Sangihe, terus memicu diskusi publik.

Media sosial kembali menyorot peran pemerintah serta perusahaan asing dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya di wilayah pulau-pulau kecil seperti Sangihe.

Baca Juga:  Kepala Lapas Enemawira Dinonaktifkan usai Diduga Paksa Napi Makan Daging Anjing

(AKM/NID/RAD)

Trending