Connect with us

Ekonomi

Dolar Hari Ini Cetak Rekor Sejarah, Nyaris Tembus Rp17.000!

Nilai tukar rupiah nyaris Rp17.000 per dolar AS akibat tekanan global. BI menilai geopolitik dan ketidakpastian The Fed jadi pemicu utama.

Logompn

Published

on

Dolar hari ini cetak rekor sejarah, nyaris tembus rp17.000!
Ilustrasi Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 15 Januari 2026 - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan dan nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS pada Kamis (15/1).

Pergerakan ini mencerminkan tekanan global yang masih membayangi pasar keuangan, termasuk Indonesia.

Berdasarkan pantauan pasar, rupiah dibuka menguat tipis di level Rp16.860 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB.

Namun, tekanan kembali muncul hingga rupiah melemah 0,08 persen ke posisi Rp16.878 per dolar AS pada pukul 12.26 WIB.

Sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,07 persen atau 12 poin ke level Rp16.865 per dolar AS pada Rabu (14/1).

Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat melemah tipis 0,01 persen ke level 99,14.

Tekanan Global dan Geopolitik

Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Situasi di Iran menjadi salah satu faktor utama, menyusul aksi massa yang dilaporkan menewaskan sekitar 2.000 orang.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa dinamika pasar keuangan global sangat memengaruhi pergerakan nilai tukar.

“Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1).

Dari sisi pasar, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral global juga turut membebani nilai tukar, termasuk adanya penyelidikan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

Selain itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik di awal tahun mendorong rupiah melemah 1,04 persen secara tahunan (year-to-date/yoy).

Baca Juga:  Nilai Tukar Dolar ke Rupiah Anjlok, Sempat Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Langkah Bank Indonesia Jaga Stabilitas

BI memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi aktif di pasar keuangan.

Intervensi dilakukan baik di pasar domestik maupun luar negeri.

Langkah tersebut mencakup transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

“BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Erwin.

Tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan tren regional. Mata uang won Korea tercatat melemah 2,46 persen secara tahunan, sementara peso Filipina melemah 1,04 persen secara tahunan.

Kondisi ini menunjukkan tekanan global turut memengaruhi mata uang kawasan.

Sentimen Inflasi AS dan Risiko Fiskal

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan pasar.

“CPI inti naik 0,2 persen pada bulan Desember dan 2,6 persen secara tahunan, di bawah perkiraan. Ini memperkuat spekulasi penurunan suku bunga di masa mendatang. Pasar sekarang memperkirakan sekitar dua kali penurunan suku bunga pada tahun 2026,” jelas Ibrahim pada Rabu (14/1).

Di sisi lain, ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan tindakan militer serta ancaman tarif 25 persen terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran.

Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Dari dalam negeri, ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,4 persen pada tahun ini, dengan target pemerintah mencapai 6 persen.

Namun, pasar juga mencermati potensi pelebaran defisit anggaran.

“Meskipun demikian, para ekonom memiliki pandangan defisit akan di atas dari apa yang ditargetkan pemerintah. Untuk hasil yang irealistis, dengan defisit 2,8–3,0 persen dari PDB, karena pertumbuhan pendapatan mungkin akan melambat dan reformasi pengeluaran terus berlanjut,” pungkas Ibrahim.

Baca Juga:  Purbaya: Rupiah Menuju Rp15 Ribu per Dolar Tidak Terlalu Sulit

Meski demikian, BI tetap optimistis menghadapi tekanan eksternal dengan dukungan cadangan devisa sebesar US$156,5 miliar serta aliran modal asing senilai Rp11,11 triliun sepanjang Januari 2026.

Kepercayaan investor juga tercermin dari risiko Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang berada di level 72 basis poin.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending