Connect with us

Lifestyle

Apa Itu Munggahan? Kenali Tradisi Sunda untuk Menyambut Bulan Ramadan

Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Sunda di Jawa Barat rutin menggelar tradisi munggahan sebagai bentuk penyambutan.

Logompn

Published

on

Apa Itu Munggahan Kenali Tradisi Sunda untuk Menyambut Bulan Ramadan
Apa Itu Munggahan? Kenali Tradisi Sunda untuk Menyambut Bulan Ramadan | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 12 Februari 2026 - Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Sunda di Jawa Barat rutin menggelar tradisi munggahan sebagai bentuk penyambutan.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada akhir bulan Sya’ban, satu hingga tiga hari sebelum memasuki bulan puasa.

Pelaksanaan munggahan dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga, makan bersama, berdoa, saling memaafkan, hingga ziarah kubur.

Lantas apa sebenarnya munggahan dan makna yang terkandung di baliknya? Berikut ulasannya.

Apa Itu Munggahan?

Dikutip MPN Indonesia dari laman resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, munggahan adalah tradisi masyarakat Islam suku Sunda untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.

Munggahan berasal dari kata “munggah” dalam bahasa Sunda yang berarti naik atau meningkat.

Makna ini merujuk pada persiapan masyarakat Muslim untuk “naik” menuju bulan suci Ramadan dengan hati yang lebih bersih dan semangat spiritual yang lebih tinggi.

Tradisi ini telah mengakar kuat dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sunda sebagai bentuk syukur atas datangnya bulan Ramadan.

Tradisi ini menyimbolkan peralihan dari kehidupan sehari-hari ke suasana Ramadan yang lebih religius dan penuh refleksi diri.

Makna Munggahan

Munggahan tidak sekadar menjadi kegiatan makan bersama. Tradisi ini memuat nilai spiritual seperti ungkapan syukur kepada Tuhan, refleksi diri, serta permohonan maaf atas kesalahan yang pernah terjadi.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat biasanya berkumpul di rumah orang tua atau anggota keluarga tertua.

Acara dimulai dengan makan bersama, lalu ditutup dengan doa dan saling bermaafan.

Ziarah ke makam leluhur juga menjadi bagian penting dari tradisi ini. Masyarakat biasanya membawa bunga setaman dan air kendi untuk membersihkan makam serta memanjatkan doa.

Baca Juga:  Apakah Saat Puasa Boleh Olahraga? Ini Penjelasan dari Dokter!

Tujuannya adalah mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia sekaligus menyambung kasih antar generasi.

Tradisi ini juga mengajarkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Masyarakat saling berbagi makanan dan bersedekah kepada yang membutuhkan.

Sementara itu, aktivitas belanja menjelang munggahan turut menggerakkan roda ekonomi lokal, terutama di pasar tradisional dan pusat kuliner.

Sejarah Munggahan

Sejumlah literatur menyebutkan bahwa munggahan telah berlangsung sejak lama dan tidak terlepas dari peran dakwah para ulama serta Wali Songo di tanah Sunda.

Proses Islamisasi dilakukan dengan pendekatan budaya lokal, sehingga tradisi seperti munggahan bisa diterima masyarakat tanpa menghilangkan identitas Islam.

Meskipun berasal dari masyarakat Sunda, praktik munggahan kini juga dilakukan oleh masyarakat dari berbagai daerah di luar Jawa Barat.

Adaptasi dilakukan dengan cara masing-masing, namun tetap mempertahankan unsur utama seperti berkumpul, berdoa, dan menjaga silaturahmi.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending