Connect with us

Berita

BMKG Minta Masyarakat Waspada Tsunami saat Mudik Lebaran, Ini Titik Rawannya!

BMKG memperingatkan masyarakat agar waspada potensi tsunami selama periode mudik Lebaran 2025.

Profile Nida MPN Indonesia

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 03 17t101831.280
BMKG Minta Masyarakat Waspada Tsunami saat Mudik Lebaran | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 17 Maret 2025 - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat agar waspada potensi tsunami selama periode mudik Lebaran 2025.

Salah satu titik yang menjadi perhatian khusus adalah Jalan Underpass Lintas Selatan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo, Yogyakarta.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR RI menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan zona rawan tsunami.

“Titik risiko yang perlu diwaspadai salah satunya, ya jalan underpass lintas selatan Bandara Yogyakarta di Kulonprogo, underpass di situ adalah zona rawan tsunami,” kata Dwikorita, Selasa (11/3), dikutip MPN Indonesia dari Youtube TVR Parlemen.

Skema Buka-Tutup di Jalan Underpass NYIA

Untuk meminimalisir korban jiwa, BMKG mengusulkan penerapan sistem buka-tutup lalu lintas di underpass tersebut guna mengurangi risiko kendaraan terjebak jika terjadi bencana alam.

Dwikorita menjelaskan bahwa underpass di sekitar Bandara NYIA memiliki panjang sekitar 1,4 kilometer.

Dengan volume kendaraan yang meningkat selama mudik Lebaran 2025, diperlukan pengaturan lalu lintas yang ketat agar tidak terjadi kemacetan, terutama jika terjadi evakuasi akibat tsunami.

“Mohon dipastikan dari Kementerian PUPR bahwa gate buka-tutupnya jangan sampai macet. Jika macet, kendaraan bisa terjebak di dalam terowongan saat evakuasi tsunami.” ujar Dwikorita.

BMKG meminta kementerian dan lembaga terkait untuk segera mensosialisasikan langkah mitigasi ini kepada masyarakat.

Selain itu, upaya mitigasi yang lebih luas juga harus dilakukan agar pemudik memahami risiko dan jalur evakuasi di sekitar kawasan rawan tsunami.

Peningkatan Jumlah Pemudik

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik pada Lebaran 2025 diperkirakan meningkat menjadi 146,48 juta orang, setara dengan 52% dari total penduduk Indonesia.

Baca Juga:  BMKG: Puncak Musim Kemarau Terjadi pada Agustus 2026

Pergerakan terbesar masih diprediksi terjadi di Pulau Jawa, dengan puncak arus mudik jatuh pada 28 Maret, sementara arus balik diperkirakan mencapai puncaknya pada 6 April.

Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana, terutama di daerah pesisir selatan Jawa yang rentan terhadap tsunami akibat aktivitas tektonik di dasar laut.

Upaya Mitigasi Tsunami oleh BRIN

Sementara itu, upaya mitigasi lainnya juga terus dikembangkan oleh berbagai pihak.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini tengah mengembangkan Radar Intelligent Coastal Multi-Fungsi, yang berfungsi untuk mendeteksi dan memantau gelombang laut, termasuk potensi tsunami.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Yuyu Wahyu menjelaskan bahwa teknologi ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (machine learning) untuk meningkatkan akurasi deteksi tsunami.

Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai bagian dari sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) dan mendukung pengambilan keputusan saat terjadi bencana.

“Radar pemantau gelombang permukaan memiliki peran penting dalam pengelolaan kawasan laut. Secara khusus, radar dapat berfungsi sebagai pendeteksi bencana gelombang tinggi, termasuk tsunami,” ujar Yuyu dikutip MPN Indonesia dari laman BRIN.

Polri Siapkan Langkah Antisipasi

Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Kakorlantas Polri), Inspektur Jenderal Agus Suryo Nugroho menyatakan bahwa Polri telah menyiapkan langkah darurat untuk menghadapi berbagai skenario bencana alam selama arus mudik 2025.

“Kalau BMKG itu kan baru prediksi, boleh-boleh saja. Tetapi yang skenario daripada persiapan, cara bertindak, itu kan juga harus kita persiapkan,” ujar Agus dikutip MPN Indonesia dari Liputan6.com.

“Bagaimana skenario untuk mengurai kepadatan, bagaimana skenario untuk melakukan one way, bagaimana skenario ketika kontingensi, itu sudah ada,” imbuhnya.

Baca Juga:  Banjir Tak Kunjung Usai, Warga Kebon Pala Desak Relokasi ke Rusun Pasar Rumput

(AKM/NID/RAD)

Trending