Berita
BMKG Prediksi El Nino bakal Aktif dan Bertahan sampai 2027
BMKG memprediksi El Nino 2026 aktif mulai pertengahan tahun dan berpotensi membuat kemarau di Indonesia lebih kering hingga awal 2027.
MPN Indonesia 12 Juni 2026 - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui prediksi iklim dan cuaca dengan memperkirakan fenomena El Nino akan segera aktif mulai pertengahan 2026 dan berpotensi bertahan hingga awal 2027.
Prediksi ini disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (10/6), berdasarkan pemantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan musim kemarau di Indonesia berlangsung lebih kering dari normal serta berdurasi lebih panjang di berbagai wilayah.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik telah mencapai +1,0 derajat Celsius dan melewati batas netral selama lima dasarian.
“Anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama lima dasarian. BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ungkap Ardhasena, dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube info BMKG pada Jumat (12/6).
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa peluang intensitas El Nino berada pada kategori moderat hingga kuat.
“Prediksi El Nino yang terjadi mulai pertengahan tahun 2026 dengan peluang intensitas El Nino pada kategori moderat sebesar 98% dan kategori kuat sebesar 62%,” ujarnya.
Perkembangan Fenomena dan Dampak Global
Fenomena El Nino diketahui menyebabkan penyimpangan iklim dan cuaca di berbagai belahan dunia dengan pola yang berbeda.
“Fenomena El Nino menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Indonesia, termasuk di wilayah lain dengan pola dan periode dampak yang berbeda,” ujar Ardhasena.
“El Nino meliliki signatur pada wilayah tropis. Untuk wilayah Indonesia, kita terpengaruh untuk menekan curah hujan. Jadi kondisinya lebih kering pada bulan Juni hingga Januari pada umumnya,” jelasnya.
Dampak global juga terlihat di wilayah lain seperti Brasil, subkontinen Asia, dan Afrika bagian selatan yang mengalami penurunan curah hujan.
Di sisi lain, peningkatan curah hujan terjadi di wilayah Pasifik tengah hingga April tahun berikutnya serta pesisir Amerika Latin pada Januari hingga Mei.
Potensi Penguatan Kekeringan di Indonesia
Selain El Nino, BMKG juga memantau potensi terbentuknya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia pada Juli hingga November 2026.
Kombinasi kedua fenomena ini diperkirakan memperkuat kondisi kering di Indonesia sehingga semakin banyak wilayah memasuki musim kemarau.
Pada Juni 2026, sebanyak 198 zona musim atau 31,6 persen wilayah Indonesia mulai mengalami musim kemarau, mencakup sebagian Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Pada Juli 2026, tambahan 66 zona musim atau 7,26 persen wilayah diperkirakan menyusul memasuki musim kemarau.
Awal dan Puncak Musim Kemarau 2026
BMKG mencatat awal musim kemarau 2026 cenderung lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020.
Sebanyak 308 zona musim atau 39,7 persen wilayah mengalami kemajuan awal musim kemarau, sementara 165 zona musim (17,03 persen) normal dan 113 zona musim (9,52 persen) mengalami keterlambatan.
Wilayah yang mengalami kemarau lebih awal meliputi Aceh, sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sementara itu, puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
“Puncak musim kemarau sebagian besar wilayah Indonesia di 369 zona musim yang mencakup 48,84 persen luas daratan Indonesia, diprediksi terjadi pada Agustus 2026,” ujar Teuku Faisal
Sifat Curah Hujan dan Wilayah Terdampak
Dari sisi curah hujan, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kondisi di bawah normal.
Tercatat 482 zona musim atau 56,18 persen wilayah akan lebih kering dari biasanya, sedangkan 210 zona musim (43,14 persen) berada pada kondisi normal.
Hanya tujuh zona musim atau 0,68 persen wilayah yang diperkirakan mengalami curah hujan di atas normal akibat faktor lokal.
Wilayah yang cenderung lebih kering mencakup sebagian Sumatra, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
“Sebanyak 200 zona musim atau 11,83 persen luas daratan Indonesia telah mengalami musim kemarau,” ujar Ardhasena.
Durasi musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia tahun ini juga diperkirakan lebih panjang dari normal.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
