Berita
BMKG Ungkap Kerugian Akibat Karhutla Capai Rp6,7 Triliun
BMKG melaporkan kerugian akibat karhutla 2025 mencapai Rp6,7 triliun, jauh menurun dari Rp75 triliun pada 2019 saat El Nino moderat.
MPN Indonesia 14 Oktober 2025 - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2025 mencapai Rp6,7 triliun.
Data tersebut diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan disampaikan langsung oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta, pada Senin (13/10).
Menurut Dwikorita, angka tersebut dihitung berdasarkan dampak bencana karhutla yang terjadi selama 2025, termasuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dan berbagai upaya penanggulangan lainnya.
“Tahun 2025 yang kita lakukan baru saja ini, terutama ini dengan operasi modifikasi cuaca, tentunya didukung dengan yang lain-lain, itu kerugiannya adalah sebesar Rp 6,7 triliun,” ujar Dwikorita.
Perbandingan dengan Tahun 2019
Dwikorita menjelaskan bahwa nilai kerugian pada 2025 jauh lebih kecil dibandingkan tahun 2019.
Saat itu, Indonesia mengalami fenomena El Nino moderat yang menyebabkan kerugian akibat karhutla mencapai Rp75 triliun.
“Di tahun 2019, saat itu terjadi El Nino moderat, itu kerugian yang terjadi akibat karhutla sebesar Rp 75 triliun, ini data dari BNPB,” jelas Dwikorita.
Penurunan signifikan ini menunjukkan adanya peningkatan efektivitas dalam penanganan karhutla dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Manfaat Penanganan Karhutla dan Nilai Ekonomi
Lebih lanjut, Dwikorita menuturkan bahwa terdapat selisih besar antara nilai kerugian ekonomi akibat karhutla tahun 2025 dan 2019.
Berdasarkan perhitungan, manfaat dari upaya penanganan karhutla saat ini mencapai 1.030 kali lebih besar dibandingkan nilai kerugiannya.
“Sehingga kalau dihitung cost benefit ratio-nya itu 1.030 banding 1. Jadi manfaatnya itu 1.030 kali lebih besar dari kerugian setelah penanganan karhutla yang dilakukan saat ini,” ungkapnya.
Dwikorita juga menekankan bahwa angka kerugian tersebut hanya mencakup aspek ekonomi dan belum memasukkan kerugian lingkungan yang juga signifikan.
“Jadi kerugian yang dihitung tadi, ini sebetulnya datanya dari BNPB. Nah ini terutama kerugian nilai ekonomi, belum memasukkan lingkungan, seperti itu. Jadi ada kerugian ekonomi, tapi juga ada kerugian lingkungan,” pungkasnya.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
