Connect with us

Ekonomi

Jelang Lebaran, Pasar Tanah Abang Malah Sepi Pengunjung, Kenapa?

Pasar Tanah Abang sepi jelang Lebaran 2025, pedagang alami penurunan omzet. Daya beli melemah, persaingan e-commerce meningkat. Simak dampaknya bagi ekonomi.

Logompn

Published

on

Jelang lebaran, pasar tanah abang malah sepi pengunjung, kenapa
Jelang Lebaran, Pasar Tanah Abang Malah Sepi Pengunjung, Kenapa? Gambar : Kompas/Firda Janati

MPN Indonesia 17 Maret 2025 - Menjelang Lebaran tahun ini, suasana di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Jika sebelumnya lorong-lorong pasar dipenuhi pembeli yang berburu kebutuhan Hari Raya, kini banyak pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pelanggan yang cukup signifikan.

Kondisi ini mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat dan menjadi perhatian berbagai pihak.

Penurunan Pendapatan dan Dampaknya pada Pedagang

Sejumlah pedagang di Pasar Tanah Abang merasakan perubahan yang cukup drastis dibandingkan tahun lalu.

Edo (35), salah satu pedagang di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa kondisi tahun ini jauh lebih sepi.

“Tahun sebelumnya pembeli bagaikan tawaf karena jalan cuma selangkah. Padat, full banget,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia dari kompas.com, pada Senin (17/3).

Namun, saat ini beberapa lorong pasar bahkan tampak kosong. Tidak hanya mengalami penurunan jumlah pembeli, para pedagang juga merasakan dampak langsung terhadap pendapatan mereka.

Novi, seorang pedagang di Pasar Tanah Abang, menyebutkan bahwa jika tahun lalu dalam sehari bisa mendapatkan Rp10 juta, tahun ini pendapatannya hanya mencapai sekitar Rp5 juta.

Senada dengan Novi, Atun (48), seorang pedagang lainnya, juga mengalami penurunan omset yang cukup drastis.

Menurutnya, pendapatan bulanannya kini berkurang hingga 75 persen dibandingkan sebelumnya.

Ia juga mengeluhkan bahwa banyak pembeli membandingkan harga barang di toko fisik dengan yang dijual di platform e-commerce, yang cenderung menawarkan harga lebih murah.

“Kami cuma bisa bela diri bahwa bahan di sini beda, ukurannya juga beda,” ujar Atun, menjelaskan perbedaan kualitas barang yang dijual di Pasar Tanah Abang dengan toko online.

Baca Juga:  4 Pegawai Proyek di Jaksel Meninggal usai Diduga Hirup Gas Beracun

Melemahnya Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat

Fenomena sepinya Pasar Tanah Abang ini diduga berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang melemah.

Pengamat politik Rocky Gerung menilai bahwa daya beli masyarakat, khususnya emak-emak yang menjadi penggerak utama konsumsi rumah tangga, semakin menurun.

“Pasar Tanah Abang adalah ukuran yang sudah melegenda. Jadi kalau ada berita Pasar Tanah Abang sepi, itu penanda bahwa dompet emak-emak tipis,” ungkap Rocky Gerung, dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube miliknya, pada Minggu (16/3).

Edo juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai sepinya pembeli di Pasar Tanah Abang disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sedang lesu.

“Pembeli sepi karena ekonomi Indonesia melemah, pembeli jadi terdampak,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa banyaknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara turut berkontribusi terhadap kondisi ekonomi yang sulit.

Dampak Sosial dari Lesunya Aktivitas Perdagangan

Selain berdampak pada ekonomi pedagang, kondisi sepi di Pasar Tanah Abang juga berpotensi memengaruhi tradisi sosial menjelang Lebaran.

Rocky Gerung menyoroti bahwa dalam budaya masyarakat Indonesia, mudik bukan sekadar pulang kampung, tetapi juga momen berbagi hasil kerja keras di kota dengan membawa oleh-oleh untuk keluarga di daerah.

Namun, dengan kondisi ekonomi yang sulit, tradisi ini bisa terganggu.

“Tapi sekarang mulai ada frustrasi. Orang yang hendak pulang mungkin membatalkan karena malu nggak bawa oleh-oleh,” jelas Rocky Gerung.

Jika kondisi ini terus berlanjut, maka ikatan sosial yang biasanya terjalin melalui tradisi berbagi oleh-oleh saat Lebaran bisa melemah.

Persaingan dengan Toko Online

Selain faktor ekonomi, keberadaan toko online juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang di Pasar Tanah Abang.

Banyak pembeli yang membandingkan harga di pasar dengan yang ditawarkan di e-commerce.

Baca Juga:  Viral! Penghulu Zidni Ilmi Kuasai Tiga Bahasa untuk Nikahkan Pengantin

Akibatnya, pedagang sering kali kesulitan menjual barang mereka dengan harga yang menguntungkan.

Menurut Atun, salah satu pedagang, perbandingan harga ini sering menjadi alasan mengapa pembeli lebih memilih berbelanja secara online.

“Sering banyak yang membandingkan barang di sini lebih mahal daripada online atau e-commerce,” katanya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending