Ekonomi
Laporan Keuangan KAI Ungkap Whoosh Rugi Rp1 Triliun di Semester I 2025
Laporan keuangan PT Kereta Api Indonesia per Juni 2025 menunjukkan adanya kerugian sebesar Rp1 triliun dari proyek Whoosh.
MPN Indonesia 19 Agustus 2025 - Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) mencatat kerugian Rp1 triliun pada semester I-2025 berdasarkan laporan keuangan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) per Juni 2025.
Kerugian tersebut berasal dari kepemilikan mayoritas saham KAI di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium pengelola proyek Whoosh.
Laporan keuangan KAI menunjukkan nilai kerugian bersih PSBI yang dikontribusikan ke perusahaan mencapai Rp951,48 miliar per Juni 2025.
Sementara itu, secara konsolidasi PSBI tercatat menderita kerugian Rp1,625 triliun sepanjang semester I-2025. Angka ini menambah akumulasi kerugian yang harus ditanggung KAI dari proyek Whoosh sejak resmi beroperasi komersial pada Oktober 2023.
Jika dijumlahkan dengan catatan rugi semester II-2024, total kerugian yang ditanggung KAI dari proyek Whoosh sudah mencapai Rp1,9 triliun dalam setahun terakhir. Sementara sepanjang tahun kalender 2024, beban kerugian tercatat sebesar Rp2,69 triliun.
Struktur Kepemilikan dan Beban Konsorsium
PT PSBI merupakan perusahaan patungan empat BUMN Indonesia yang mengelola proyek Kereta Cepat Whoosh. Komposisi kepemilikan saham adalah sebagai berikut:
- PT KAI: 58,53 persen (pemegang saham mayoritas sekaligus pemimpin konsorsium)
- PT Wijaya Karya (Persero) Tbk/WIKA: 33,36 persen
- PT Jasa Marga (Persero) Tbk/JSMR: 7,08 persen
- PTPN VIII: 1,03 persen
Di sisi lain, pihak China melalui konsorsium China Railway yang terdiri dari lima perusahaan, memegang 40 persen saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
PT PSBI sendiri mewakili pihak Indonesia dengan kepemilikan 60 persen saham di KCIC.
Kerugian KCIC yang mencakup beban bunga pinjaman hingga kewajiban utang ke China Development Bank (CDB), secara otomatis harus ditanggung PSBI dan berimbas langsung pada laporan keuangan PT KAI.
Sumber Pendanaan dan Pembengkakan Biaya
Pendanaan proyek Whoosh sebagian besar bersumber dari pinjaman CDB, dengan tambahan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan penyertaan modal gabungan BUMN Indonesia bersama perusahaan China.
Namun, sejak mulai dikerjakan pada 2016, proyek ini mengalami pembengkakan biaya atau cost overrun sebesar US$1,2 miliar atau sekitar Rp18,02 triliun yang membuat total investasi proyek mencapai US$7,2 miliar atau setara Rp116,54 triliun.
APBN dan tambahan utang dari China kemudian digunakan untuk menutup kekurangan biaya tersebut sehingga menambah beban keuangan konsorsium.
Hingga kini, pendapatan operasional Whoosh belum mampu menutup tingginya biaya investasi dan beban operasional.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
