Berita
Kisah di Balik Buku D.I. Pandjaitan: Mengurai Jejak Sang Pahlawan lewat Suara Orang-orang Terdekat
Buku D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran kembali diterbitkan dengan pembaruan dari Andry Hariana.
MPN Indonesia 10 Desember 2025 - Peluncuran dan bedah buku D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran digelar di Ballroom Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta Selatan, pada (8/12), dalam rangka memperingati satu abad kelahiran Mayor Jenderal TNI (Anumerta) D.I. Pandjaitan.
Kegiatan ini dihadiri oleh sivitas akademika Universitas Pertahanan RI (Unhan RI), termasuk kadet mahasiswa program sarjana (S1) dan mahasiswa program magister (S2) pascasarjana, serta dipimpin oleh Mayor Jenderal TNI Dr. Totok Imam Santoso, S.Sos., S.I.P., M.Tr.(Han).
Kehadiran mereka disambut oleh Letjen TNI (Purn.) Hotmangaraja Panjaitan, Duta Besar RI untuk Singapura sekaligus putra D.I. Pandjaitan.
Peran Andry Hariana dalam Penulisan Buku D.I. Pandjaitan
Buku ini merupakan hasil revisi dari edisi sebelumnya yang pertama kali terbit pada tahun 1997, berdasarkan penuturan Marieke Pandjaitan kepada Ramadhan KH dan Sugiarta.
Pada Maret 2025, Letjen (Purn.) Hotmangaraja Panjaitan meminta Andry Hariana untuk menambahkan bab baru dan menyempurnakan buku tersebut guna diterbitkan ulang dalam rangka peringatan seratus tahun kelahiran D.I. Pandjaitan.
“Tentunya saya sambut dengan senang hati, karena suatu kehormatan saya bisa berada dalam satu buku dengan penulis yang saya kagumi, Ramadhan KH,” ungkap Andry Hariana dalam wawancara eksklusif bersama MPN Indonesia, Selasa (9/12).
Dalam sesi bedah buku yang diselenggarakan bersamaan dengan peluncuran, hadir sejumlah narasumber yang memberikan pandangan historis, personal, dan akademis.
Mereka adalah Catherine Pandjaitan, Nurmala Kartini Sjahrir, A. Irianto, dan Andry Hariana.
Diskusi dipandu oleh Dra. Eunike Sri Tyas Suci, Ph.D., psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Proses Penyusunan Buku
Menurut Andry Hariana, penulisan tambahan buku ini tidak membahas polemik peristiwa G30S PKI secara khusus, melainkan fokus pada pengalaman keluarga D.I. Pandjaitan.
“Yang saya tulis adalah seperti apa nilai yang ditinggalkan oleh D.I. Pandjaitan (DIP) untuk keluarga, kerabat, dan masyarakat hingga saat ini,” jelasnya.
Kesulitan dalam pengumpulan data juga diakui karena sebagian besar narasumber berusia di atas 70 tahun.
Kontribusi keluarga D.I. Pandjaitan dinilai sangat besar dalam proses penyusunan buku ini.
Catherine Pandjaitan memberikan kesaksian langsung tentang kejadian malam penculikan sang ayah, termasuk bagaimana ia membasuh wajahnya dengan darah sang ayah setelah penembakan.
Salomo Pandjaitan juga turut terlibat sebagai ketua panitia dan menyampaikan sambutan dalam acara peluncuran.
Selain itu, cucu-cucu D.I. Pandjaitan juga berperan dalam penyediaan informasi.
Jejak Perjuangan D.I. Pandjaitan
Buku ini terdiri dari tiga bagian utama. Bab I hingga X menjelaskan masa muda dan perjalanan pengabdian D.I. Pandjaitan di berbagai wilayah Sumatra, termasuk Pekanbaru, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Sumatra Selatan.
Pada 1956, ia dipanggil ke Markas Besar Angkatan Darat oleh Kolonel A.H. Nasution. Bab XI hingga XIII memuat kiprah internasionalnya sebagai atase militer RI di Bonn, Jerman.
Ia aktif dalam Misi Zending Jerman (RMG), memiliki ketertarikan pada musik klasik, serta terlibat dalam kegiatan kerohanian.
Jenderal Ahmad Yani mencatat, “Kolonel Pandjaitan lebih cocok menjadi pendeta.”
Pada periode ini pula ia bertemu dengan B.J. Habibie dalam Seminar Pembangunan tahun 1958.
Dalam konteks kemiliteran, D.I. Pandjaitan telah terlibat sejak masa pembentukan BKR di Riau, berperan dalam perebutan Irian Barat saat menjadi atase di Bonn, dan terakhir menjabat sebagai asisten logistik TNI AD.
Andry Hariana menyebut bahwa gelar pahlawan bukan hanya karena ia gugur dalam peristiwa G30S PKI, tetapi karena seluruh perjalanan hidupnya mencerminkan nilai-nilai kepahlawanan.
“Sepanjang momen dalam kariernya memang layak untuk menjadi Pahlawan Nasional,” kata Andry.
Nilai Warisan bagi Generasi Muda
Rektor Universitas Katolik Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), menyatakan bahwa peringatan ini merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai pedoman moral bangsa.
Ia menekankan bahwa nilai keberanian moral, keteguhan prinsip, dan tanggung jawab kebangsaan dari D.I. Pandjaitan sangat relevan untuk generasi muda dalam menghadapi tantangan global.
Duta Besar Nurmala Kartini Sjahrir menambahkan bahwa keteladanan D.I. Pandjaitan penting dalam konteks sosial-politik masa kini, terutama untuk membentuk karakter pemuda di tengah disinformasi global.
Melalui buku ini, para kadet dan mahasiswa Unhan RI diajak memperkuat literasi sejarah dan memahami pentingnya kepemimpinan strategis.
Andry Hariana juga mengisahkan nilai keteladanan melalui cerita sederhana yang bermakna, seperti bagaimana D.I. Pandjaitan membantu Sintong Panjaitan mendapatkan tiket pulang saat menjadi taruna karena kesamaan marga, dan bagaimana Letnan Sintong kemudian menemukan sumur tempat jenazah D.I. Pandjaitan dibuang.
Proyek Buku Selanjutnya
Setelah peluncuran buku D.I. Pandjaitan pada Juni 2025 lalu, keluarga M.T. Haryono menghubungi Andry Hariana untuk menyusun biografi lengkap tentang M.T. Haryono.
Ia menyebut proses ini menantang karena minimnya data, namun menarik karena ada keterkaitan kisah antara D.I. Pandjaitan dan M.T. Haryono.
Salah satunya adalah bagaimana D.I. Pandjaitan pernah menjamin pendidikan B.J. Habibie yang sakit saat kuliah di Jerman, serta kisah Ainun, yang dikaitkan dengan keluarga M.T. Haryono.
“Menariknya ada satu benang merah antara buku D.I. Pandjaitan dan MT Harjono. Jadi, saat DIP menjadi atase di Bonn, ada seorang mahasiswa Indonesia menderita penyakit paru-paru dan harus dipulangkan. Ia bisa tetap kuliah kalau ada jaminan. Dan kemudian DIP menjamin mahasiswa Habibie itu,” jelas Andry.
“Sementara di waktu yang berbeda, di rumah keluarga MT Harjono di Prambanan 8 ada seorang mahasiswi FK UI ikut tinggal bersama. terkadang mahasiswi itu dikunjungi pacarnya yg kebetulan libur. Mahasiswi itu Ainun,” tutupnya.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
