Connect with us

Berita

Gadis Asal Aceh Diperkosa hingga Digilir oleh Pria Bangladesh, China, India, dan Jepang di Malaysia

Seorang gadis asal Aceh berinisial P (17) menjadi korban pemerkosaan oleh pria Bangladesh, Cina, India, Melayu, dan Jepang.

Logompn

Published

on

Gadis Asal Aceh Diperkosa hingga Digilir oleh Pria Bangladesh, China, India, dan Jepang di Malaysia
Gadis Asal Aceh Diperkosa hingga Digilir oleh Pria Bangladesh, China, India, dan Jepang di Malaysia. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 29 Desember 2024 - Seorang gadis asal Aceh berinisial P (17) menjadi korban tindak kejahatan seksual dan perdagangan manusia di Malaysia.

Peristiwa ini terungkap setelah korban, warga Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, dilaporkan telah diperkosa oleh lima pria dari berbagai negara.

Dijebak dengan Iming-Iming Pekerjaan

Korban awalnya dibujuk oleh agen yang menjanjikan pekerjaan dengan gaji besar di Malaysia.

Namun, setelah tiba di negara tersebut, gadis ini justru dijual kepada pria-pria hidung belang. Kejahatan ini terungkap setelah video pengakuan korban beredar luas di media sosial.

Video tersebut direkam oleh seorang warga Aceh yang tinggal di Malaysia.

Dalam video itu, korban mengungkapkan dirinya diperkosa secara bergilir dengan kondisi tangan dan kaki terikat di sebuah hotel.

Pelaku pemerkosaan disebut berasal dari beberapa negara, yaitu Bangladesh, Cina, India, Melayu, dan Jepang.

Sekretaris Jenderal TOMPi, Muhammad Nur, menjelaskan bahwa korban mengalami trauma fisik dan psikologis akibat kejadian tersebut.

Ia juga menyatakan bahwa korban akan segera dipulangkan ke Indonesia.

Permintaan Monitoring dan Pemeriksaan

Sekretaris Jenderal TOMPi mendesak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP2PAKB) Kabupaten Pidie untuk segera memantau kasus ini.

Monitoring diperlukan untuk memastikan keamanan korban dan melakukan pemeriksaan tahap awal terhadap keluarganya.

Muhammad Nur menambahkan bahwa kasus perdagangan manusia seperti ini sering kali menargetkan perempuan dengan latar belakang sosial yang lemah.

Korban biasanya adalah perempuan yang mengalami masalah keluarga atau memiliki keterbatasan mental.

Mereka kerap dijebak dengan janji pekerjaan yang ternyata tidak nyata.

Langkah-Langkah Pencegahan

Pemkab Pidie diminta segera melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian.

Baca Juga:  Fantastis! Kerugian Korban WO Ayu Puspita Capai Rp16 Miliar

Muhammad Nur mencurigai adanya jaringan besar di balik praktik perdagangan manusia ini, yang kemungkinan melibatkan lebih banyak korban dari Aceh.

Ia juga menekankan pentingnya pengungkapan kasus ini hingga tuntas, termasuk penyelidikan terhadap agen yang terlibat.

Para pelaku diduga menggunakan dokumen palsu untuk memuluskan tindakan mereka.

Usia korban dalam dokumen resmi, seperti KTP dan KK, diubah dari 17 tahun menjadi 24 tahun.

Oleh karena itu, investigasi lebih lanjut diperlukan, terutama di kantor imigrasi terkait pembuatan paspor korban.

Muhammad Nur berharap aparat kepolisian Aceh dapat mengambil langkah-langkah preventif untuk menghentikan rantai perdagangan manusia di wilayah tersebut.

Trending