Connect with us

Berita

Orang Kaya Indonesia Berbondong-bondong Pindahkan Aset ke Luar Negeri, Takut Krismon?

Orang kaya Indonesia berbondong-bondong pindahkan aset ke luar negeri karena ketidakstabilan ekonomi dalam negeri.

Arthur

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 04 14t104104.259
Orang Kaya Indonesia Berbondong-bondong Pindahkan Aset ke Luar Negeri | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 14 April 2025 - Kekhawatiran terhadap ketidakstabilan ekonomi domestik dan langkah kebijakan fiskal Presiden Prabowo Subianto membuat orang kaya Indonesia mulai memindahkan aset ke luar negeri.

Laporan tersebut disampaikan Bloomberg pada 11 April 2025 lalu dengan mengatakan orang-orang kaya di Indonesia mengalihkan ratusan juta dolar ke luar negeri.

“Orang-orang kaya di Indonesia tengah mengalihkan ratusan juta dolar ke luar negeri di tengah kekhawatiran yang meningkat terkait disiplin fiskal Presiden Prabowo Subianto dan stabilitas ekonomi negara,” demikian laporan Bloomberg, dikutip MPN Indonesia pada Senin (14/4).

Target Pertumbuhan Ekonomi Prabowo Turut Mempengaruhi

Lebih dari selusin manajer kekayaan, bankir swasta, dan penasihat keuangan yang diwawancarai Bloomberg mengonfirmasi adanya lonjakan signifikan dalam transfer dana internasional oleh individu dengan kekayaan tinggi asal Indonesia.

Menurut informasi yang diperoleh, eksodus dana ini mulai terjadi sejak Oktober 2024 dan meningkat tajam setelah pelemahan rupiah pada Maret 2025.

Penurunan tajam mata uang lokal terjadi di tengah kekhawatiran terhadap ketegangan perdagangan global dan belanja negara yang besar di bawah pemerintahan Prabowo.

Prabowo, yang mulai menjabat sejak Oktober 2024, menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Target ini memerlukan belanja negara dalam jumlah besar, yang memicu kekhawatiran pasar mengenai disiplin fiskal, potensi kenaikan utang, peningkatan pajak, dan tekanan inflasi.

Selain itu, perluasan peran militer dan kebijakan terhadap BUMN turut menambah kecemasan investor akan stabilitas politik jangka panjang.

Investasi di Properti dan Kripto Jadi Pilihan

Dalam proses memindahkan aset, investasi real estat dan emas menjadi pilihan utama sebagai safe haven.

Properti residensial dan komersial di kawasan Timur Tengah, seperti Dubai dan Abu Dhabi, menjadi sasaran investasi baru.

Baca Juga:  Resmikan 218 Jembatan di Daerah Terpencil, Presiden Prabowo Prioritaskan Akses untuk Anak-Anak Sekolah

Beberapa individu bahkan mendirikan perusahaan cangkang serta mengajukan visa kerja agar dapat mengalihkan aset secara legal namun tersembunyi.

Strategi ini dilakukan untuk menghindari pengawasan ketat dan proses due diligence yang lebih ketat di negara seperti Singapura.

Sementara itu, stablecoin seperti USDT menarik perhatian para pemilik kekayaan tinggi.

Seorang bankir menyebut klien-klien dengan kekayaan bersih antara USD100 juta hingga USD400 juta telah mengalihkan hingga 10 persen aset mereka ke mata uang kripto.

Pemanfaatan kripto dipandang sebagai cara fleksibel untuk menghindari deteksi regulator, khususnya dalam transaksi bernilai lebih dari USD100 ribu.

Penggunaan kripto, khususnya USDT, meningkat karena memungkinkan pemindahan dana lintas negara tanpa harus melewati sistem keuangan tradisional yang diawasi.

Individu dengan kekayaan tinggi memanfaatkan celah ini untuk menjaga nilai aset mereka sekaligus menghindari risiko yang ditimbulkan oleh volatilitas ekonomi nasional.

Tanda-Tanda Krismon Mulai Terlihat

Meski arus keluar dana belum setara dengan eksodus besar yang terjadi selama krisis moneter (krismon) 1998, namun menurut sumber Bloomberg, beberapa tanda mulai terlihat jelas.

Sejak Februari 2025, salah satu firma penasihat keuangan mencatat pemindahan dana senilai USD50 juta ke Timur Tengah, meningkat signifikan dari hanya USD10 juta pada kuartal sebelumnya.

Langkah ini tidak hanya memengaruhi nilai tukar dan stabilitas pasar domestik, tetapi juga berdampak pada pilihan investasi real estat dan minat terhadap saham individu di dalam negeri.

(AKM/NID/RAD0

Trending