Connect with us

Berita

BMKG Ingatkan Potensi Gempa Megathrust di Selat Sunda dan Mentawai

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai potensi gempa besar di wilayah Indonesia.

Adinda

Published

on

152
BMKG Ingatkan Potensi Gempa Megathrust di Selat Sunda dan Mentawai | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 12 Agustus 2024 - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai potensi gempa besar di wilayah Indonesia.

Berdasarkan analisis terbaru, dua zona gempa megathrust di Indonesia, yaitu Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut, menjadi titik rawan karena telah lama tidak melepaskan energi dan kini dianggap berada dalam fase “menunggu waktu” untuk gempa besar.

Peringatan ini muncul setelah terjadinya gempa berkekuatan Magnitudo 7,1 di Megathrust Nankai, Jepang, pada Jumat (8/8).

Pasalnya, Megathrust Nankai di Jepang memiliki kesamaan dengan dua Megathrust di Indonesia.

Dua Megathrust Indonesia tengah Mengakumulasi Tegangan

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono menjelaskan bahwa Megathrust Nankai di Jepang memiliki kesamaan dengan dua megathrust utama di Indonesia, yakni Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

Kedua zona ini telah ratusan tahun tidak mengalami gempa besar, sehingga kini diperkirakan tengah mengalami akumulasi medan tegangan atau stress di kerak bumi.

“Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut saat ini dalam kondisi yang sangat mirip dengan Megathrust Nankai di Jepang. Gempa besar di kedua segmen megathrust ini boleh dikatakan tinggal menunggu waktu,” ungkap Daryono, Minggu (11/8).

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, Megathrust Selat Sunda terakhir kali melepaskan energinya pada 1699 dan 1780 dengan kekuatan Magnitudo 8,5.

Sementara itu, Megathrust Mentawai-Siberut mengalami gempa besar terakhir pada tahun 1797 dan 1833 dengan kekuatan masing-masing Magnitudo 8,7 dan 8,9.

Pengertian Zona Megathrust

Zona megathrust merupakan daerah pertemuan antarlempeng tektonik yang memiliki potensi besar untuk memicu gempa kuat dan tsunami.

Baca Juga:  BMKG Prediksi Musim Kemarau 2025 Lebih Pendek, Ini Wilayah yang Harus Waspada

Gempa megathrust biasanya disebabkan oleh pergeseran lempeng bumi dengan mekanisme thrust fault, yang dapat mengakibatkan patahan dan pergerakan vertikal di bawah laut, sehingga menciptakan tsunami.

“Setiap gempa besar dan dangkal di zona megathrust akan memicu patahan dengan mekanisme naik yang dapat mengganggu kolom air laut dan menyebabkan tsunami,” tambah Daryono.

Langkah Mitigasi dari BMKG

Untuk mengantisipasi potensi gempa megathrust dan tsunami di Selat Sunda dan Mentawai, BMKG telah mengambil sejumlah langkah mitigasi yang fokus pada peningkatan sistem pemantauan dan penyebaran informasi.

BMKG kini memperkuat sistem monitoring, pemrosesan data gempa bumi, dan peringatan dini tsunami yang diklaim lebih cepat dan akurat.

“BMKG telah menyiapkan sistem monitoring dan peringatan dini tsunami yang semakin cepat dan akurat, serta memberikan edukasi, pelatihan mitigasi, dan drill evakuasi berbasis pemodelan tsunami kepada pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha pariwisata pantai,” ungkap Daryono.

BMKG juga menginisiasi berbagai program mitigasi seperti Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG), BMKG Goes To School (BGTS), serta Pembentukan Masyarakat Siaga Tsunami (Tsunami Ready Community).

Program-program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami di wilayah-wilayah rawan.

Upaya mitigasi ini diharapkan dapat mengurangi dampak bencana alam yang mungkin terjadi, bahkan mencapai target zero victim atau nihil korban jiwa.

“Semoga upaya kita dalam memitigasi bencana gempa bumi dan tsunami dapat berhasil, sehingga risiko dampaknya dapat ditekan seminimal mungkin,” ujar Daryono.

Journalism graduate with a passion for media and technology. With experience in SEO writing, shares insights on the latest trends and developments in the digital world.

Trending