Connect with us

Berita

PMI Manufaktur Anjlok, Ini Dampaknya bagi Pelaku Industri Tekstil

Penurunan tajam Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April menjadi sorotan utama.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 06t143946.671
Ilustrasi industri tekstil | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 6 Mei 2025 - Penurunan tajam Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April tahun ini menjadi sorotan utama.

PMI manufaktur Indonesia tercatat berada di bawah level 50, yang menandakan kontraksi industri, dan angka ini lebih buruk dibandingkan dengan masa pandemi COVID-19.

Kondisi ini memberikan tekanan signifikan terhadap sektor industri nasional, terutama industri tekstil, yang kini menghadapi penurunan permintaan secara drastis.

Dampak bagi Pelaku Industri

Pelaku industri tekstil di Tangerang, Rahmad Rizky menegaskan bahwa dampak penurunan PMI sudah sangat terasa dalam kegiatan produksi.

“Kami melihat memang penurunan PMI ini bahkan bahkan bukan di bulan ini saja. Sebelum sebelumnya pun sama,” kata Rahmad kepada MPN Indonesia.

Umumnya, penurunan permintaan pesanan wajar terjadi pascalebaran. Namun, lebaran tahun ini, kata Rahmad, cukup mengkhawatirkan karena PMI manufaktur berada di level kontraksi 46,7.

“Kalau saya lihat memang di berita PMB ini di bulan ini cukup mengkhawatirkan yang di bulan April karena di bawah 50. Kalau ini kalau enggak salah lebih parah dibandingkan saat Covid,” jelas Rahmad.

Banyak Perusahaan Lakukan PHK

Rahmad juga mengungkap bahwa banyak perusahaan mulai mengambil langkah efisiensi ekstrem, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ia pun menyoroti saran dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang meminta pemerintah memberikan insentif khusus untuk pelaku industri yang mengalami penurunan omzet.

“Nah jadi banyak sekali PHK dan apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah itu adalah salah satunya bisa memberikan insentif kepada para pelaku industri untuk bisa bertahan,” kata Rahmad.

Strategi Bertahan

Menghadapi tekanan yang semakin besar dari penurunan PMI, sejumlah pelaku industri berupaya melakukan inovasi agar tetap bisa bertahan.

Baca Juga:  PMI Manufaktur Anjlok, DPR Desak Pemerintah Lindungi Pasar Domestik dari Produk Impor

Rahmad menyampaikan bahwa pihaknya tidak lagi hanya mengandalkan metode penjualan tradisional, melainkan mulai memanfaatkan platform digital sebagai sarana pemasaran.

“Kita tidak bisa mengharapkan cara-cara lama dan kita harus memberi memulai dengan cara- cara yang baru yang belum pernah kita lakukan,” kata Rahmad.

Inisiatif ini diwujudkan dengan pembuatan konten digital seperti video YouTube yang menampilkan produk-produk unggulan mereka.

“Dari situ diupayakan dan diharapkan bisa mengganti substitusi dari order-order yang belum bisa kita dapatkan dari pelanggan sebelumnya,” kata Rahmad.

(AKM/NID/RAD)



Trending