Connect with us

Berita

PMI Manufaktur Anjlok, DPR Desak Pemerintah Lindungi Pasar Domestik dari Produk Impor

Anggota Komisi VII DPR RI menyatakan prihatin terhadap PMI manufaktur Indonesia pada April 2025 yang anjlok.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 06t141504.547
Anggota Komisi VII DPR RI Ilham Permana | Gambar: DPR RI

MPN Indonesia 6 Mei 2025 - Anggota Komisi VII DPR RI Ilham Permana menyatakan keprihatinan terhadap Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2025 yang anjlok ke level 46,7 atau terendah sejak COVID-19.

Ilham menilai penurunan PMI merupakan dampak nyata dari kebijakan proteksionis global, khususnya penerapan tarif resiprokal Amerika Serikat, serta membanjirnya produk impor dari negara-negara yang tengah mencari pasar alternatif.

“Situasi ini tidak hanya mengganggu daya saing industri nasional, tetapi juga mengancam ketahanan struktur industri dalam negeri,” ujar Ilham, dikutip MPN Indonesia dari laman resmi DPR RI.

Dorong Penguatan Manufaktur

Ilham menekankan perlunya respons terintegrasi dari berbagai kementerian serta dukungan lintas sektor untuk menghadapi tantangan ini.

Ia mendorong penguatan struktur manufaktur nasional secara menyeluruh.

Mengutip data Kemenperin, Ilham menyebutkan bahwa sekitar 80 persen produk manufaktur Indonesia diserap oleh pasar domestik.

Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pasar dalam negeri agar tidak dibanjiri oleh produk asing.

Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor

Ilham juga memberikan dukungan terhadap Kemenperin dalam merespons kekhawatiran pelaku industri, mulai dari diplomasi perdagangan internasional hingga kebijakan substitusi impor.

“Kami di DPR RI siap mengawal kebijakan pro-industri dan memastikan kebijakan fiskal, tarif, hingga investasi berpihak pada penguatan industri dalam negeri,” tambahnya.

Politikus Partai Golkar ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengantisipasi efek domino dari tekanan global.

Ia menilai kondisi wait and see dari pelaku industri tidak boleh dibiarkan terlalu lama karena bisa berdampak pada pengurangan tenaga kerja.

“Harus ada kepastian kebijakan, perlindungan yang konkret, dan dorongan optimisme dari pemerintah agar pelaku usaha kembali percaya diri untuk ekspansi, bukan justru melakukan efisiensi berlebihan,” ujarnya.

Baca Juga:  Kapolri Temui Keluarga Korban Ojol yang Tewas Dilindas Mobil Rantis Brimob

Belajar dari Tiongkok

Ilham mengatakan bahwa negara-negara seperti Filipina dan Tiongkok mampu mempertahankan ekspansi industrinya melalui kebijakan protektif terhadap pasar domestik.

Oleh sebab itu, ia mengajak pemerintah untuk belajar dari kebijakan tersebut.

“Indonesia harus segera menyelaraskan arah industrinya agar tidak menjadi sasaran pelimpahan barang-barang asing,” tegas Ilham.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending