Connect with us

Viral

Detik-detik Longsor di Banjarnegara, Warga Panik Berusaha Selamatkan Diri

Longsor di Banjarnegara menimbun puluhan rumah dan memaksa lebih dari 660 warga mengungsi. BPBD dan tim gabungan terus melakukan evakuasi.

Logompn

Published

on

Detik detik longsor di banjarnegara, warga panik berusaha selamatkan diri
Detik-detik Longsor di Banjarnegara, Warga Panik Berusaha Selamatkan Diri. Gambar : Kolase Tangkapan Layar Instagram/@jabodetabek24info

Jawa Tengah, MPN Indonesia 17 November 2025 - Bencana alam tanah longsor terjadi di Dukuh Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Minggu (16/11) sekitar pukul 15.45 WIB.

Tebing runtuh secara tiba-tiba dan menimbulkan kepanikan warga yang berlarian menyelamatkan diri, sebagaimana terlihat dalam rekaman video yang viral di Instagram @jabodetabek24info.

Berdasarkan pemantauan MPN Indonesia dalam video tersebut terlihat warga, termasuk anak-anak dan ibu-ibu, berusaha menjauhi lokasi dengan berlari maupun mengendarai sepeda motor.

Longsor ini menimbun sekitar 20 hingga 30 rumah dan menyebabkan lebih dari 660 warga mengungsi ke sejumlah titik, seperti kantor kecamatan dan area perkebunan.

Sebanyak 49 warga lainnya sempat melarikan diri ke hutan karena panik saat kejadian berlangsung.

Total penduduk terdampak mencapai sekitar 700 jiwa atau 180 kepala keluarga.

Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menjelaskan bahwa posko pengungsian telah disiapkan di berbagai titik untuk menampung warga terdampak.

Pengungsi dari hutan kini telah didampingi tim SAR dan Basarnas untuk dievakuasi.

Korban akibat longsor tercatat sebanyak lima orang, terdiri dari tiga warga luka-luka dan dua korban yang masih dalam proses evakuasi karena terjebak di rumah tertimbun.

Salah satu korban, Klewih (50), mengalami patah tulang dan sedang dirawat intensif di Puskesmas Pandanarum.

Satu korban lain yang sebelumnya dilaporkan selamat, pagi harinya dinyatakan meninggal dunia setelah sempat pingsan dan mengalami luka-luka.

Dampak Longsor dan Penanganan Darurat

Menurut BPBD Banjarnegara, total 30 rumah mengalami kerusakan akibat longsor.

Hingga Minggu sore (16/11), jumlah pengungsi yang berada di Pendopo Kecamatan Pandanarum mencapai 179 jiwa, sementara sebagian lainnya bertahan di area perkebunan dan 49 warga sebelumnya berada di hutan.

Baca Juga:  Gunung Marapi Erupsi, BPBD Imbau Warga Waspada

“Data terakhir mencatat 30 rumah rusak akibat longsor dan 660 jiwa mengungsi,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarnegara dalam keterangannya.

Ia menegaskan bahwa proses evakuasi masih berlangsung di medan yang sulit.

Kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah, mencakup kerusakan rumah, lahan pertanian, serta infrastruktur desa.

BPBD dan BNPB menyebut hujan deras sejak siang hari sebagai pemicu utama terjadinya longsor.

Pemerintah daerah bersama BNPB kini fokus pada evakuasi darurat, pendataan kerusakan, dan pengamanan wilayah dari ancaman longsor susulan.

“Kami masih berupaya mengevakuasi dua korban yang terjebak. Tim gabungan terus bekerja. Warga diminta menjauhi lokasi karena potensi longsor susulan,” jelas Raib.

Bergas Catursasi Penanggungan, juga menegaskan adanya satu korban meninggal dunia.

“(Korban meninggal) masih satu. Tapi sebenarnya kemarin kan dikabarkan meninggal, dievakuasi ke layanan kesehatan. Sampai di layanan kesehatan, hidup, dinyatakan pingsan dengan fraktur, luka-luka. Pagi tadi diinformasikan oleh layanan kesehatan yang bersangkutan MD,” ungkap Bergas.

Upaya Lanjutan dan Imbauan

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Banjarnegara segera dikerahkan untuk melakukan penanganan awal.

BPBD juga membuka klaster pengungsian, menyediakan logistik, layanan kesehatan, sarana penunjang, serta peralatan evakuasi.

Pemerintah daerah bersama unsur terkait, termasuk Bupati dan Wakil Bupati, telah menggelar rapat koordinasi untuk membahas langkah teknis penanganan lanjutan di wilayah terdampak.

Bergas mengimbau masyarakat di daerah rawan longsor agar segera mengungsi ke tempat aman saat hujan deras atau berkepanjangan.

“Masyarakat yang berkebun di pegunungan, jika menemukan ada patahan, retakan, yang sifatnya tapal kuda atau horizontal, segera melaporkan ke kepala desa, perangkat desa, untuk bisa dilakukan langkah-langkah antisipasi selanjutnya,” pungkas Bergas.

Baca Juga:  Viral Video, Warga Ramai-ramai Gunakan Sound Horeg di Tengah Laut

(AKM/NID/RAD)

Trending