Connect with us

Viral

Heboh Soal Anak Babi Bermata Satu dengan Telinga Mirip Manusia di NTT, Begini Kata Dokter Hewan

Seekor anak babi bermata satu lahir di NTT dan viral di media sosial. Pakar UGM menjelaskan penyebabnya, bukan mistis tapi kelainan genetik langka.

Actress 1299250

Published

on

Heboh Soal Anak Babi Bermata Satu Dengan Telinga Mirip Manusia Di Ntt, Begini Kata Dokter Hewan
Heboh Soal Anak Babi Bermata Satu dengan Telinga Mirip Manusia di NTT, Begini Kata Dokter Hewan. Gambar: Kolase Tangkapan Layar Instagram/@mood.jakarta

Nusa Tenggara Timur, MPN Indonesia 17 Februari 2025 - Warga Desa Oelami, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), dihebohkan oleh kelahiran seekor anak babi dengan kondisi langka pada Sabtu (15/2).

Anak babi tersebut lahir dengan satu mata di tengah dahi serta telinga yang menyerupai manusia.

Kapolsek Miomaffo Timur, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Aris Salama, membenarkan peristiwa unik tersebut.

Ia menjelaskan bahwa anak babi itu merupakan salah satu dari tiga ekor yang dilahirkan induknya.

Dua lainnya lahir dalam kondisi normal, sedangkan satu mengalami kelainan genetik.

“Ya, kejadian anak babi yang dilahirkan, matanya satu dan memiliki wajah mirip manusia terjadi di Desa Oelami, Kecamatan Bikomi Selatan,” ujar Aris pada Sabtu (15/2).

Setelah dilahirkan, anak babi tersebut hanya bertahan hidup selama 15 menit sebelum akhirnya mati.

Briptu Ryan, bersama pemilik babi, Samuel Ledo, kemudian menguburkannya.

Aris menegaskan bahwa peristiwa unik ini murni disebabkan oleh kelainan genetik dan mengimbau masyarakat agar tidak mengaitkannya dengan isu-isu yang tidak berdasar.

Viral di Media Sosial

Kelahiran anak babi bermata satu ini ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di Instagram.

Sebuah unggahan dari akun Instagram @mood*** pada Minggu (16/2) menyoroti ciri-ciri unik anak babi tersebut, termasuk telinga bagian kiri yang menyerupai telinga manusia serta bentuk batok kepala yang tidak biasa.

Unggahan itu mengundang beragam reaksi dari warganet.

Sebagian mengaitkannya dengan fenomena langka, sementara yang lain mencoba mencari penjelasan ilmiah terkait penyebab kondisi tersebut.

Baca Juga:  Bocah SD di NTT Tewas Gantung Diri, Tinggalkan Surat untuk Sang Ibu

Pakar Sebut Sindrom Cyclopia Sebagai Penyebab

Menanggapi fenomena ini, Dosen Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Slamet Raharjo, menjelaskan bahwa anak babi tersebut kemungkinan mengalami sindrom cyclopia.

“Siklopia dapat terjadi akibat adanya gangguan saat pertumbuhan janin,” kata Slamet saat dihubungi pada Minggu (16/2).

Ia menerangkan bahwa dalam kondisi normal, prosencephalon atau bagian otak depan janin akan membelah, sehingga mata berkembang menjadi dua bagian.

Namun, pada kasus cyclopia, pembelahan itu tidak terjadi, sehingga janin hanya memiliki satu mata besar di tengah.

Gangguan ini juga dapat memengaruhi perkembangan organ lain, seperti hidung dan otak.

Dalam beberapa kasus, individu dengan kondisi ini juga terlahir tanpa hidung atau mengalami kelainan otak.

Kelainan Langka dan Umur yang Pendek

Slamet menambahkan bahwa anak babi dengan sindrom cyclopia tidak dapat bertahan hidup lama karena otak depannya tidak berkembang sempurna.

“Cacat ini melibatkan otak depan. Bayi—baik manusia maupun hewan—dengan kasus cyclopia seperti ini biasanya tidak dapat tumbuh menjadi dewasa,” jelasnya.

Ia juga menyebut bahwa individu dengan kondisi ini umumnya hanya bertahan hidup beberapa jam atau hari saja.

Berdasarkan informasi dari WebMD, tidak ada kasus bayi—baik manusia maupun hewan—dengan sindrom cyclopia yang mampu bertahan hidup lebih dari enam bulan setelah lahir.

Penegasan dari Aparat dan Harapan Masyarakat

Kapolsek Miomaffo Timur, Ipda Aris Salama, kembali menegaskan bahwa peristiwa unik ini sepenuhnya akibat kelainan genetik dan tidak memiliki kaitan dengan hal-hal mistis atau kepercayaan tertentu.

Pihak kepolisian bersama pemerintah desa serta instansi terkait telah melakukan pengecekan terhadap peristiwa unik ini.

Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan informasi yang tidak akurat terkait kejadian tersebut.

Baca Juga:  TN Komodo Batasi Kunjungan Wisatawan, Maksimal 1.000 Orang per Hari

Trending