Connect with us

Entertainment

Ikut Komentari Film Merah Putih One for All, Hanung Bramantyo: Bukan Salah Kreatornya

Hanung Bramantyo ikut buka suara tanggapi film Merah Putih One for All yang ramai dikritik netizen.

Logompn

Published

on

Ikut komentari film merah putih one for all, hanung bramantyo bukan salah kreatornya
Ikut Komentari Film Merah Putih One for All, Hanung Bramantyo Bukan Salah Kreatornya | Gambar: Kolase Instagram/@hanungbramantyo

MPN Indonesia 12 Agustus 2025 - Film Merah Putih One for All mendapat perhatian publik setelah kualitasnya dinilai tidak sesuai ekspektasi sejumlah penonton. Sutradara Hanung Bramantyo pun turut memberikan komentar, menyatakan bahwa hal ini bukan kesalahan kreator film tersebut.

Melalui Instagram Story yang diunggah pada Minggu (10/8), Hanung mengatakan bahwa kurangnya kualitas film tersebut bukan salah kreator melainkan orang yang memberi proyek tersebut.

“Saya yakin ini bukan salah kreatornya. Tapi salah yang ngasih proyek,” kata Hanung sebagaimana tertulis dalam unggahan tersebut, dikutip MPN Indonesia pada Selasa (12/8).

Film animasi produksi Perfiki Kreasindo ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai Kamis (14/8). Merespons hal itu, Hanung menilai film tersebut kemungkinan dibuat terburu-buru karena dipaksakan rilis bertepatan dengan momen Hari Kemerdekaan.

“Maksain harus tayang 17 Agustus karena ngasih proyek ngejar momen ditonton pejabat kementerian yang masih bertugas. Kalo belain kualitas, keburu si pejabat turun,” lanjutnya dalam postingan yang sama.

Hanung Sebut Dana Rp6,7 Miliar Kurang untuk Buat Film Animasi

Lebih lanjut, Hanung juga menanggapi unggahan Bobby Batara di X terkait anggaran film ini yang disebut mencapai Rp6,7 miliar. Menurutnya, angka tersebut masih terlalu kecil untuk menghasilkan film animasi berkualitas tinggi.

“7 miliar untuk film animasi, potong pajak 13 persen kisaran 6 miliar, kalo toh tidak dikorupsi hasilnya tetap jelek!” jelasnya.

Hanung menegaskan standar film animasi berkualitas minimal membutuhkan dana Rp30 miliar ditambah Rp10 miliar untuk promosi, dengan proses produksi selama lima tahun.

Ia juga membandingkan kondisi ini dengan film Indonesia lainnya, yakni Jumbo, yang disebut memerlukan waktu lima tahun produksi dan melibatkan lebih dari 400 kreator lokal.

Proses tersebut diungkap oleh sutradara Ryan Adriandhy. Hanung menyampaikan bahwa budget Jumbo diperkirakan mencapai Rp30 miliar, meski ia tidak secara langsung menyebut judul film tersebut.

Baca Juga:  Pecinta Drakor Merapat! Ini Rekomendasi Drama Korea yang Mirip Film Sore: Istri dari Masa Depan

Sebagai penutup unggahannya, Hanung meminta Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan wakilnya, Giring Ganesha, untuk mempertimbangkan penundaan penayangan Merah Putih One for All.

“@fadlizon @giring Bapak-bapak semua, mohon untuk ditunda penayangannya, dan dibantu menyelesaikan hingga menghasilkan karya yang bagus,” tulisnya.

Sutradara Jumbo Ikut Tanggapi Film Merah Putih

Ryan Adriandhy, sutradara Jumbo, juga menanggapi rencana penayangan Merah Putih One for All. Setelah menonton trailer film tersebut, ia menyampaikan pendapatnya melalui X yang diunggah pada Jumat (8/8).

“Kita upayakan terus yang bagus semampunya. Terus, terus, sampai akhirnya, yang dibuat dengan niat tidak tulus dan cara asal-asalan semakin tersingkirkan dan tidak punya alasan untuk minta didukung,” tulisnya dikutip MPN Indonesia pada Selasa (12/8).

Ryan menilai adanya karya yang kurang maksimal justru menjadi dorongan untuk menciptakan masa depan lebih cerah bagi industri film animasi Indonesia.

“Memang perlu yang gelap untuk tahu masa depan animasi Indonesia bisa terang,” ujarnya.

(ELG/NID/RAD)

Trending