Internasional
Donald Trump Ajukan Tawaran Penjualan Senjata ke Saudi Senilai Rp1.682 Triliun
Amerika Serikat akan menawarkan paket senjata senilai USD100 miliar kepada Arab Saudi, termasuk pesawat dan rudal, dalam upaya memperkuat hubungan pertahanan.
MPN Indonesia 28 April 2025 - Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, bersiap menawarkan paket persenjataan kepada Arab Saudi dengan nilai lebih dari USD100 miliar (sekitar Rp1.682 triliun).
Informasi ini diungkapkan oleh enam sumber yang memiliki pengetahuan langsung mengenai rencana tersebut kepada Reuters.
Proposal ini direncanakan diumumkan saat kunjungan Presiden Donald Trump ke Arab Saudi pada bulan Mei.
Konteks ini muncul setelah kegagalan pemerintahan mantan Presiden Joe Biden dalam menyelesaikan pakta pertahanan dengan Riyadh, yang semula ditujukan untuk menormalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel.
Proposal Biden menawarkan akses kepada Arab Saudi ke persenjataan Amerika Serikat yang lebih canggih sebagai imbalan atas penghentian pembelian senjata dari China dan pembatasan investasi Beijing.
Tidak jelas apakah proposal Donald Trump memasukkan persyaratan serupa.
Hubungan Pertahanan Amerika Serikat dan Arab Saudi
Hubungan pertahanan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi telah menunjukkan perkembangan yang siginifikan, dengan kedua negara semakin memperkuat kerja sama mereka di bidang keamanan.
“Hubungan pertahanan kami dengan Kerajaan Arab Saudi lebih kuat dari sebelumnya di bawah kepemimpinan Presiden Trump. Mempertahankan kerja sama keamanan kami tetap menjadi komponen penting dari kemitraan ini dan kami akan terus bekerja sama dengan Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan pertahanan mereka,” ujar seorang pejabat pertahanan AS, dikutip MPN Indonesia melalui laman Reuters pada Senin (28/4).
Pada masa jabatan pertama Presiden Trump, penjualan senjata ke Arab Saudi dianggap sebagai langkah strategis yang tidak hanya mendukung kebutuhan pertahanan Saudi, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan di Amerika Serikat.
Paket senjata yang dimaksud melibatkan Lockheed Martin Corp, yang diperkirakan akan memasok pesawat angkut C-130, rudal, dan radar.
Selain Lockheed, perusahaan-perusahaan besar seperti RTX Corp (sebelumnya Raytheon Technologies), Boeing Co, Northrop Grumman Corp, dan General Atomics juga diperkirakan akan menjadi kontraktor utama dalam kesepakatan ini.
“Penjualan militer asing merupakan transaksi antarpemerintah. Pertanyaan tentang penjualan ke pemerintah asing sebaiknya dijawab oleh pemerintah AS,” ungkap pihak Lockheed Martin.
Detail Kesepakatan Senjata
Menurut beberapa sumber, banyak kesepakatan telah diproses sejak lama.
“Misalnya, kerajaan pertama kali meminta informasi tentang pesawat nirawak General Atomics pada tahun 2018,” jelas dua sumber.
Dalam 12 bulan terakhir, fokus negosiasi diarahkan pada kesepakatan senilai USD20 miliar untuk pesawat nirawak MQ-9B SeaGuardian dari General Atomics.
Tiga sumber menyatakan, “Beberapa eksekutif dari perusahaan pertahanan mempertimbangkan melakukan perjalanan ke wilayah tersebut sebagai bagian dari delegasi.”
Amerika Serikat telah lama menjadi pemasok utama senjata ke Arab Saudi.
Pada tahun 2017, Donald Trump mengusulkan penjualan senjata sebesar USD110 miliar, namun hingga tahun 2018, hanya USD14,5 miliar dari penjualan tersebut yang terealisasi.
Kongres kemudian mulai mempertanyakan kesepakatan tersebut setelah pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, di konsulat Saudi di Turki.
Dinamika Politik Internasional Terkait Penjualan Senjata
Pada tahun 2021, Kongres Amerika Serikat di bawah pemerintahan Joe Biden memberlakukan larangan penjualan senjata ofensif ke Arab Saudi sebagai tekanan atas insiden Khashoggi dan keterlibatan kerajaan dalam perang Yaman.
Namun, seiring invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang berdampak terhadap pasokan minyak global, kebijakan ini mulai dilonggarkan.
Akhirnya pada 2024, larangan tersebut dicabut, mempererat hubungan antara Washington dan Riyadh, termasuk untuk rencana masa depan Gaza.
Donald Trump juga dikabarkan akan membahas kemungkinan penjualan jet tempur F-35 Lockheed Martin selama kunjungannya.
Namun, tiga sumber menyatakan bahwa peluang untuk menandatangani kesepakatan F-35 selama kunjungan itu “dikecilkan”.
Amerika Serikat memastikan bahwa sekutunya Israel mendapatkan akses ke senjata lebih canggih dibandingkan negara-negara Arab, sebuah kebijakan yang dikenal sebagai “Keunggulan Militer Kualitatif” (Qualitative Military Edge/QME).
Israel sendiri telah mengoperasikan F-35 selama sembilan tahun dan membangun beberapa skuadron.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
