Internasional
Pembantaian di Sudan, 2.000 Orang jadi Korban sebagian Warga Bertahan Hidup dengan Makan Pakan Ternak
Kota El-Fasher di Sudan jatuh ke tangan pasukan RSF setelah 18 bulan dikepung. Ribuan warga sipil tewas, rumah sakit diserang, dan ribuan lainnya terjebak tanpa bantuan.
MPN Indonesia 31 Oktober 2025 - Ribuan warga sipil dilaporkan tewas setelah kota El-Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, Sudan, jatuh ke tangan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pada Minggu (26/10).
Dikutip MPN Indonesia dari Al Jazeera, El-Fasher direbut dari Tentara Nasional Sudan (Sudanese Armed Forces atau SAF) setelah dikepung selama 18 bulan dalam konflik yang terus meningkat.
El-Fasher merupakan kota terakhir di kawasan Darfur yang sebelumnya masih dikuasai SAF. Dengan jatuhnya kota ini, RSF kini menguasai sebagian besar wilayah barat Sudan.
Tentara Sudan melaporkan sekitar 2.000 warga sipil tewas hingga Rabu (29/10), sementara Jaringan Dokter Sudan memperkirakan korban mencapai 1.500 jiwa.
Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), sekitar 177.000 warga masih terjebak di dalam kota, dan lebih dari 26.000 lainnya melarikan diri ke Kota Tawila, sekitar 70 kilometer di barat El-Fasher.
PBB menyebut sekitar 1,2 juta penduduk El-Fasher kini bertahan hidup dengan memakan pakan ternak karena akses makanan dan bantuan kemanusiaan terputus akibat pengepungan.
RSF juga membangun barikade sepanjang 56 kilometer untuk menghalangi bantuan dan jalur evakuasi.
Video yang telah diverifikasi oleh Al Jazeera menunjukkan tindakan kekerasan, termasuk eksekusi dan penyiksaan warga sipil oleh pasukan RSF.
Serangan Brutal ke Rumah Sakit dan Tenaga Medis
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 460 pasien dan pendamping mereka ditembak mati di Rumah Sakit Bersalin Saudi di El-Fasher.
Fasilitas tersebut merupakan satu-satunya rumah sakit yang masih berfungsi sebagian di kota itu.
Dalam serangan yang terjadi pada Minggu (26/10), seorang perawat tewas dan tiga tenaga medis lainnya terluka.
Dua hari kemudian, enam petugas medis diculik oleh pihak bersenjata yang terdiri dari empat dokter, satu perawat, dan satu apoteker.
Laboratorium Penelitian Kemanusiaan Universitas Yale juga mengidentifikasi tanda-tanda pembunuhan massal di sekitar Rumah Sakit Saudi dan bekas Rumah Sakit Anak di timur El-Fasher.
Lokasi terakhir disebut digunakan RSF sebagai tempat penahanan.
Citra satelit menunjukkan adanya kluster objek dan perubahan warna tanah yang diduga merupakan kumpulan jenazah dan genangan darah di area tersebut.
Tuduhan Pembunuhan Massal dan Motif Etnis
Kantor HAM PBB mengungkap dugaan eksekusi terhadap warga sipil yang mencoba melarikan diri, dengan indikasi adanya motif etnis dalam pembunuhan tersebut.
Organisasi medis dan HAM Sudan mencatat penahanan warga, serangan terhadap rumah sakit, serta pembunuhan massal oleh RSF.
Pemerintah Sudan menuduh pasukan RSF menyerang masjid dan membunuh lebih dari 2.000 warga sipil, termasuk pekerja kemanusiaan dari Palang Merah di El-Fasher.
Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) melaporkan bahwa di Kota Bara, lima relawan tewas dan tiga lainnya hilang setelah wilayah itu direbut oleh RSF pada Sabtu (25/10).
Posisi Strategis dan Penguasaan Wilayah
Jatuhnya El-Fasher membuat Sudan kini terbagi menjadi dua kekuatan besar.
Bagian barat, termasuk Darfur, berada di bawah kendali RSF, sedangkan bagian timur dan tengah, termasuk El-Obeid, masih dikuasai SAF.
El-Obeid, ibu kota Negara Bagian Kordofan Utara, memiliki cadangan minyak besar dan menjadi jalur penghubung strategis antara Darfur dan ibu kota Sudan, Khartoum.
Meski saat ini masih di bawah kendali SAF, laporan menyebut RSF tengah memperkuat posisi untuk mengepung kota tersebut.
Pada Sabtu (25/10), RSF mengklaim telah menguasai Kota Bara yang berjarak 59 kilometer dari El-Obeid.
Reaksi Pemerintah dan Dunia Internasional
Dalam pernyataannya pada Senin (27/10), Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mengatakan bahwa pasukan SAF mundur dari El-Fasher demi mencegah pembantaian terhadap warga sipil.
Ia menegaskan, “Kami akan membalas apa yang terjadi pada rakyat kami di El-Fasher.”
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan penghentian eskalasi militer dan meminta agar pengepungan serta permusuhan bersenjata segera diakhiri.
Ia menyatakan, “Saya sangat prihatin dengan peningkatan eskalasi militer di El-Fasher.”
Pemimpin RSF, Mohammad Hamdan Daglo, dalam pidatonya pada Rabu (29/10), menyampaikan penyesalan atas peristiwa di El-Fasher dan menegaskan bahwa warga sipil bukan sasaran pasukan RSF.
Namun, laporan lapangan dan analisis satelit menunjukkan fakta berbeda.
Daglo mengklaim RSF berkomitmen menyatukan Sudan di bawah sistem demokrasi dan akan mengadili siapa pun yang terbukti melakukan kejahatan terhadap warga sipil.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
