Connect with us

Lifestyle

Deretan Tradisi Unik Menyambut Lebaran di Berbagai Daerah Indonesia

Berikut beberapa tradisi Lebaran yang masih dilestarikan hingga kini di berbagai daerah di Indonesia.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 03 18t141031.410
Tradisi unik lebaran di Indonesia | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 29 Maret 2025 - Lebaran merupakan momen yang dinantikan oleh umat Islam di Indonesia sebagai perayaan setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Perayaan ini tidak hanya ditandai dengan salat Idulfitri dan tradisi mudik, tetapi juga beragam tradisi dan adat istiadat yang berbeda di setiap daerah.

Kebudayaan yang beragam membuat setiap wilayah memiliki cara unik dalam menyambut Lebaran.

Berikut MPN Indonesia telah rangkum dari berbagai sumber beberapa tradisi Lebaran yang masih dilestarikan hingga kini di berbagai daerah di Indonesia.

1. Grebeg Syawal di Yogyakarta

Di Yogyakarta, Grebeg Syawal menjadi tradisi yang rutin diadakan setiap 1 Syawal atau Hari Raya Idulfitri.

Tradisi ini berasal dari Keraton Yogyakarta dan telah berlangsung sejak abad ke-16 sebagai ungkapan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.

Grebeg Syawal ditandai dengan arak-arakan tujuh gunungan yang berisi hasil bumi.

Gunungan tersebut dibawa oleh abdi dalem dan dikawal oleh prajurit Bregodo menuju Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman, serta Kantor Kepatihan.

Setelah didoakan, gunungan tersebut diperebutkan oleh masyarakat yang meyakini bahwa hasil bumi tersebut membawa berkah.

2. Perang Topat di Nusa Tenggara Barat

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, masyarakat merayakan Lebaran dengan tradisi Perang Topat, yaitu saling melempar ketupat sebagai simbol persatuan antara umat Islam dan Hindu yang hidup berdampingan di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Wanita Merapat, Intip Tren Mukena Lebaran 2025 yang Elegan dan Nyaman!

Tradisi ini diawali dengan doa dan ziarah ke Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro.

Setelah prosesi doa selesai, masyarakat akan memulai Perang Topat dengan saling melempar ketupat yang dipercaya membawa keberkahan dan kesuburan bagi hasil panen.

Setelah perang selesai, ketupat yang berserakan biasanya dikumpulkan kembali oleh masyarakat untuk dibawa pulang.

3. Ronjok Sayak di Bengkulu

Masyarakat Bengkulu memiliki tradisi unik dalam menyambut Lebaran, yaitu Ronjok Sayak.

Tradisi ini berupa pembakaran batok kelapa kering yang disusun hingga setinggi satu meter.

Ronjok Sayak telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu dan dipercaya sebagai sarana komunikasi dengan leluhur.

Oleh karena itu, tradisi ini dilakukan dengan khidmat serta diiringi doa-doa yang dipanjatkan oleh masyarakat.

Biasanya, Ronjok Sayak dilakukan pada malam hari setelah salat Isya di 1 Syawal.

4. Binarundak di Sulawesi Utara

Di Sulawesi Utara, tepatnya di Motoboi Besar, masyarakat memiliki tradisi Binarundak, yaitu memasak nasi jaha secara bersama-sama.

Tradisi ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut setelah Hari Raya Idulfitri.

Nasi jaha adalah makanan khas Sulawesi Utara yang terbuat dari beras yang dimasak dalam batang bambu dengan campuran santan dan jahe.

Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi antarwarga serta bentuk rasa syukur atas keberkahan yang diberikan.

5. Festival Meriam Karbit di Kalimantan Barat

Festival Meriam Karbit merupakan tradisi Lebaran yang populer di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Festival ini berlangsung selama tiga hari, mulai dari malam takbiran hingga setelah Lebaran.

Meriam karbit yang digunakan dalam festival ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan pendirian Kota Pontianak.

Festival ini menjadi simbol keberanian dan semangat kebersamaan masyarakat setempat.

Baca Juga:  Arus Balik Pemudik dan Wisatawan Meningkat di Jalur Puncak, Polisi Lakukan One Way Arah Jakarta

6. Baraan di Riau

Di Riau, khususnya di Bengkalis, terdapat tradisi Lebaran bernama Baraan. Tradisi ini berupa kunjungan silaturahmi ke rumah-rumah tetangga secara beramai-ramai.

Baraan dilakukan dalam berbagai kelompok, seperti tingkat RT, RW, komunitas, hingga alumni sekolah atau universitas.

Setiap rumah yang dikunjungi akan menyajikan hidangan khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, dan kue kering.

Biasanya, tradisi ini diawali dengan pembacaan doa sebelum melakukan kunjungan.

7. Tari Topeng Muaro Jambi di Jambi

Masyarakat Muaro Jambi memiliki tradisi Tari Topeng Muaro Jambi sebagai bagian dari perayaan Idulfitri.

Tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan berasal dari kisah seorang pemuda yang diasingkan karena penyakit yang dideritanya.

Pemuda tersebut menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya, lalu keluar dari tempat persembunyiannya.

Masyarakat yang melihatnya merasa terhibur dan akhirnya memberikan makanan serta minuman.

Sejak saat itu, tradisi Tari Topeng Muaro Jambi terus dilakukan sebagai bagian dari kebudayaan daerah.

Topeng yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kulit labu tua yang dihias dengan cat berwarna-warni serta tambahan ijuk di bagian atas kepala.

Biasanya, tari ini dibawakan oleh pemuda dan anak-anak dengan jumlah mencapai 50 orang, yang menari dari rumah ke rumah dengan iringan musik tradisional.

8. Nyembah Belari di Kepulauan Riau

Di Tambelan, Kecamatan Bintan, Kepulauan Riau, terdapat tradisi Nyembah Belari yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar setelah salat Idulfitri.

Nyembah Belari merupakan tradisi silaturahmi yang dilakukan dengan mengunjungi rumah-rumah secara berlari atau berjalan cepat.

Anak-anak yang mengikuti tradisi ini membawa kantong untuk mengumpulkan pernak-pernik atau uang yang diberikan oleh tuan rumah.

Mereka hanya menunggu di teras rumah tanpa masuk ke dalam, sehingga rumah tetap rapi meskipun banyak anak-anak yang datang berkunjung.

Baca Juga:  Pemerintah Siapkan 395 Posko Mudik di Seluruh Indonesia

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending