Connect with us

Lifestyle

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Dimusnahkan? Ini Faktanya

Pemprov DKI lakukan operasi pembasmian ikan sapu-sapu di lima wilayah di Jakarta. Ikan ini dinilai berbahaya bagi kesehatan dan ekosistem perairan.

Logompn

Published

on

Kenapa Ikan Sapu Sapu Dimusnahkan Ini Faktanya
Kenapa Ikan Sapu-Sapu Dimusnahkan Ini Faktanya. Gambar: Freepik

MPN Indonesia 20 April 2026 - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggalakkan operasi pembasmian ikan sapu-sapu di sejumlah wilayah Ibu Kota setelah spesies invasif tersebut dinilai berbahaya bagi kesehatan dan ekosistem perairan, terutama di Sungai Ciliwung dan kawasan lain yang tercemar.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut meninjau penangkapan ikan sapu-sapu di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4).

Dalam keterangannya, ia mengungkapkan hasil laporan terkait kandungan residu pada ikan tersebut.

“Kemarin dalam rapat saya dilaporin oleh Kepala KKP bahwa di ikan ini rata-rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Dan itu berbahaya sekali,” ujar Pramono Anung dalam keterangannya.

Pernyataan itu merujuk pada temuan kandungan logam berat yang melebihi batas aman.

Sebelumnya, Kepala Dinas KPKP Pemprov DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok menyatakan permasalahan ikan sapu-sapu bukan hal baru karena pernah terjadi di Kali Ciliwung dan telah ditangani.

Setelah dilakukan penangkapan, ikan-ikan tersebut dibawa ke Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Ciganjur.

“Bangkai ikan sapu-sapu yang telah mati akan dikubur karena daya tahan ikan sapu-sapu ini memang jika tidak dipastikan mati, maka bisa hidup tanpa berada di air,” terangnya.

Alasan Ikan Sapu-Sapu Dimusnahkan

Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) merupakan ikan air tawar yang dikenal sebagai pembersih akuarium karena kemampuannya memakan alga dan sisa makanan.

Hewan ini berasal dari habitat asli di Sungai Amazon, Amerika Selatan, dan masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias sebelum menyebar ke perairan umum.

Baca Juga:  12 Fakta Menarik Lobster, Hewan Kanibal yang Memiliki Gigi di Perut

Sebagai spesies hewan invasif, ikan sapu-sapu mampu bertahan di perairan dengan kadar oksigen rendah dan kondisi tercemar.

Berikut alasan mengapa ikan sapu-sapu dimusnahkan oleh Pemprov DKI Jakarta.

1. Mengandung Logam Berat Berbahaya dan Tidak Layak Dikonsumsi

Sebagai pemakan dasar atau bottom feeder, ikan sapu-sapu mengonsumsi detritus, alga, dan sedimen di dasar sungai yang kerap tercemar limbah industri maupun domestik.

Kemampuan adaptasinya membuat ikan sapu-sapu menyerap dan menyimpan berbagai zat berbahaya dari lingkungan.

Dikutip MPN Indonesia melalui artikel penelitian Kandungan 10 jenis logam berat pada daging ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) asal Sungai Ciliwung wilayah Jakarta pada Senin (20/4).

Penelitian yang ditulis oleh Laksmi Nurul Ismi dkk dalam Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi pada 2019 tersebut menemukan kandungan logam berat dalam tubuh ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung kawasan MT. Haryono.

Analisis menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) menunjukkan kadar arsen, kadmium, merkuri, dan timbal dalam sampel ikan tersebut melampaui batas maksimum yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga dinyatakan tidak layak dikonsumsi.

Temuan tersebut diperkuat penelitian Dewi Elfidasari dkk yang dipublikasikan di National Library of Medicine pada 2023.

Studi itu menemukan hubungan antara kandungan logam berat dengan sistem biologis ikan, termasuk keberadaan bakteri usus yang membantu ikan bertahan di lingkungan tercemar.

Logam berat yang terakumulasi bersifat bioakumulatif dan tidak dapat dihilangkan melalui proses memasak, sehingga pengolahan seperti digoreng atau dijadikan siomay tidak mengurangi kandungan zat berbahaya tersebut.

Risiko kesehatan akibat konsumsi ikan sapu-sapu dari perairan tercemar meliputi potensi keracunan makanan dengan gejala mual, muntah, dan diare akibat akumulasi zat berbahaya dalam daging ikan.

Baca Juga:  5 Fakta Unik Ular Piton Karet yang Memiliki Corak Seperti Karpet

Konsumen juga berpotensi mengalami reaksi alergi seperti gatal-gatal, ruam kulit, atau gangguan pencernaan, terutama jika ikan telah terkontaminasi zat berbahaya.

2. Spesies Invasif yang Merusak Ekosistem

Selain aspek kesehatan, ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai ikan asing invasif sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020.

Spesies ini mampu menguasai sumber makanan di perairan, memangsa telur dan larva ikan lokal, serta mengganggu keseimbangan ekosistem.

Ikan sapu-sapu juga gemar membuat lubang di bantaran sungai sebagai sarang yang berpotensi memicu erosi, pendangkalan, dan peningkatan kekeruhan air.

Di wilayah perkotaan seperti Jakarta, kondisi tersebut dinilai dapat memperparah risiko banjir dan degradasi infrastruktur sungai.

3. Daya Tahan Tinggi, Sulit Dikendalikan

Ikan ini mampu bertahan di kondisi ekstrem (air kotor, minim oksigen), sehingga populasinya cepat berkembang dan sulit dikendalikan tanpa pemusnahan.

Seekor ikan sapu-sapu betina dapat menghasilkan ratusan hingga ribuan telur dalam satu kali bertelur.

Hal ini menjadikan ikan sapu-sapu mendominasi populasi ikan-ikan di perairan Jakarta dan menggeser keberadaan ikan lokal.

Dengan berbagai temuan tersebut, Pemprov DKI Jakarta memilih melakukan penangkapan dan pemusnahan ikan sapu-sapu di sejumlah lokasi.

Bangkai ikan sapu-sapu yang telah dipastikan mati dikubur untuk mencegah keberlangsungan hidup kembali spesies tersebut.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari pengendalian populasi spesies invasif sekaligus mengurangi potensi risiko kesehatan masyarakat dan kerusakan ekosistem perairan di Ibu Kota.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending