Connect with us

Lifestyle

Masih Percaya Bulan Sial untuk Nikah? Begini Kata Ustaz!

Percaya bulan sial untuk menikah? Simak penjelasan Ustaz di sini.

Logompn

Published

on

Masih percaya bulan sial untuk nikah begini kata ustaz!
Pernikahan dalam Islam merupakan ibadah yang dianjurkan tanpa terikat bulan tertentu. Gambar : unsplash.com/Ahmad Mufti

MPN Indonesia 13 April 2025 - Dalam ajaran Islam, pernikahan merupakan anjuran yang sangat dianjurkan sebagai bagian dari penyempurnaan ibadah.

Sebagaimana dijelaskan oleh ustaz Agan Priam Bagus kepada MPN Indonesia melalui pesan WhatsApp pada Rabu (9/4) dalam penuturannya, “Dari beberapa banyak hadis yang ada, pernikahan sangat-sangat dianjurkan atau sunnah yang ditekankan, bahkan bisa menjadi wajib dari beberapa ulama jika itu bisa menyebabkan perzinahan atau maksiat lain.” 

Hal ini menunjukkan bahwa urgensi menikah berkaitan erat dengan upaya menjaga moral dan akhlak umat Islam.

Islam juga tidak menetapkan syarat bulan tertentu untuk melangsungkan akad nikah. “Islam mengajarkan kami bahwa pernikahan yang baik adalah pernikahan yang sederhana tapi tidak menghilangkan wibawa atau sakralnya pernikahan,” ujarnya. 

Ketentuan waktu yang dianggap baik atau buruk tidak menjadi dasar dalam hukum Islam terkait pernikahan.

Tradisi menikah di bulan Syawal

Bulan Syawal kerap menjadi waktu yang dipilih oleh masyarakat Muslim untuk menikah, meskipun tidak ada tuntunan langsung mengenai hal tersebut. 

Mengenai hal ini, ustazAgan Priam Bagus menjelaskan, “perlu dilihat datanya jika memang pada bulan tersebut meningkat, pasti ada faktor di luar keutamaan Syawal, seperti bulan ini identik dalam kebudayaan kita masyarakat Indonesia adalah adanya uang lebih atau biasanya tabungan dihitungnya pada bulan ini karena setelah mendapatkan THR.”

Momentum pasca-Idulfitri juga kerap digunakan sebagai waktu untuk menyampaikan rencana pernikahan.

 “Ada juga pada bulan ini beberapa orang pulang ke rumahnya karena mudik dan liburan panjang, dan itu momen yang pas untuk menyampaikan perihal pernikahan dari anak ke orang tuanya atau sebaliknya,” tambahnya.

Baca Juga:  Ada Jeda dalam Ijab Kabul Maxime Bouttier saat Menikahi Luna Maya, Apakah Sah dalam Islam?

Mitos Bulan Sial: Warisan Jahiliyah yang Ditepis Rasulullah

Mitos mengenai bulan sial dalam pernikahan berasal dari kepercayaan masyarakat Arab jahiliyah. 

Menurut ustaz Agan Priam Bagus, “Pada masa jahiliyah Arab, bahwa bulan ini sikap mengada-ada di kalangan awam bahwa makruh menikah, menikahkan, atau berhubungan suami istri di bulan Syawal.”

Untuk membantah anggapan ini, Nabi Muhammad SAW menikahi Sayyidah Aisyah pada bulan Syawal. 

“Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama Syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut dan berdalil dengan hadits ini,” jelas.

Tindakan Rasulullah tersebut menjadi contoh langsung bahwa tidak ada dasar bagi mitos kesialan pernikahan di bulan tertentu.

Pandangan Islam tentang bulan “baik” dan “buruk” untuk menikah

Islam tidak mengenal konsep bulan baik atau buruk untuk melaksanakan pernikahan. Dalam keterangannya, ustaz Agan Priam Bagus menyatakan, “Tidak ada bulan yang sial untuk pernikahan.” Ia juga menambahkan bahwa pernikahan Rasulullah dengan Aisyah merupakan cara untuk “menepis anggapan Arab jahiliyah bahwa Syawal adalah bulan yang sial.”

Rasulullah juga menikahkan putrinya, Fatimah, dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan lain. “Rasul pun menikahkan anaknya Fatimah dan Ali bin Abi Thalib bukan pada bulan Syawal tapi di bulan Shafar, ini juga menandakan bahwa jika sudah ada sinyal perjodohan atau sudah waktunya maka segerakanlah untuk akad nikah,” terangnya.

Pernikahan dan keberkahan dalam perspektif Islam

Pernikahan membawa keberkahan dan menjadi bagian dari ibadah jika dijalankan sesuai sunnah. Menurut ustaz Agan Priam Bagus, “Dalam pernikahan pasti ada keberkahan dan berpahala karena ini sesuai dengan sunnah Rasul, tidak ada aturan pada bulan atau tanggal tertentu jika ada itu hanya tradisi dari nenek moyang kita, ada beberapa mitos dll.”

Baca Juga:  Benarkah Menikah di Bulan Syawal Penuh Keberkahan? Ini Penjelasannya

Penjelasan ini menekankan pentingnya kembali kepada ajaran Islam dan mengesampingkan kepercayaan yang tidak memiliki dasar dalam syariat. 

Pernikahan seharusnya diperlakukan sebagai ibadah yang penuh keberkahan tanpa terikat pada mitos atau tradisi turun-temurun yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending