Connect with us

Lifestyle

Waspada Bahaya Doomscrolling, Kebiasaan Buka HP saat Bangun Tidur untuk Cari Berita

Doomscrolling memang terdengar asing bagi sebagian orang, tapi perilakunya sangat umum.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 27t151920.706
Waspada Bahaya Doomscrolling, Kebiasaan Buka HP saat Bangun Tidur untuk Cari Berita | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 29 Juni 2025 - Apa hal pertama yang kamu lakukan setelah bangun tidur? Kalau jawabannya membuka ponsel lalu langsung membaca deretan berita buruk dari berbagai platform, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam kebiasaan yang disebut doomscrolling.

Istilah ini memang terdengar asing bagi sebagian orang, tapi perilakunya sangat umum.

Terutama di zaman sekarang, di mana setiap bangun tidur kita langsung disuguhi kabar soal perang, bencana, politik panas, atau krisis iklim dari layar kecil di genggaman tangan.

Kenapa Kita Melakukannya?

Menurut para ahli dari Harvard, kebiasaan ini punya akar biologis. Otak kita secara alami dirancang untuk bertahan hidup, dan bagian otak yang disebut amigdala akan membuat kita jadi lebih waspada terhadap bahaya.

Dalam konteks digital, ini membuat kita terus-menerus mencari berita buruk—bahkan tanpa sadar.

“Kita seperti sedang mencari ancaman,” jelas Profesor Psikiater di Harvard, Dr. Nerurkar.

“Semakin kita scroll, semakin besar dorongan untuk melanjutkannya,” imbuhnya.

Kebiasaan ini makin mengakar sejak pandemi COVID-19. Saat itu, dunia sedang kacau dan banyak orang merasa perlu memantau perkembangan kasus tiap hari. Tapi sejak pandemi mereda, kebiasaan ini belum menghilang.

Siapa yang Paling Rentan?

Menurut Dr. Richard Mollica dari Harvard Medical School, siapa pun yang memiliki perangkat digital bisa terkena.

Tapi dua kelompok paling rentan adalah perempuan dan orang dengan riwayat trauma.

“Sebagian besar media kekerasan menampilkan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak,” ujarnya.

Oleh sebab itu, tak heran jika perempuan lebih mudah terdampak secara emosional.

Bagi mereka yang pernah mengalami kekerasan, doomscrolling justru bisa memicu trauma.

Baca Juga:  Lagi Stres? Ini 10 Hobi yang Bisa Menyegarkan Pikiranmu!

“Mereka tidak merasa aman dan terus mencari tahu keadaan sekitar agar merasa tenang,” kata Mollica.

“Tapi yang terjadi justru sebaliknya,” imbuhnya.

Dampak pada Tubuh dan Mental

Jika kamu mengalami doomscrolling, jangan anggap sepele. Kebiasaan ini tak hanya membuat kita cemas, tapi juga bisa berdampak langsung pada fisik.

Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain sakit kepala, tegang otot, nyeri leher dan bahu, susah tidur, bahkan tekanan darah tinggi.

“Kalau seseorang doomscrolling berjam-jam, itu juga berarti mereka duduk diam terlalu lama,” jelas Nerurkar.

“Dampaknya meluas dan serius,” imbuhnya.

Secara mental, risikonya makin besar. Penelitian tahun 2023 menunjukkan bahwa doomscrolling berkaitan erat dengan penurunan kualitas hidup dan kesehatan mental.

Bahkan bisa menimbulkan kecemasan eksistensial, rasa panik yang muncul saat menyadari betapa rapuhnya hidup.

Dalam dunia kerja, karyawan yang gemar doomscrolling cenderung kurang fokus dan tidak produktif.

Nerurkar menyebut ini sebagai popcorn brain—istilah untuk menggambarkan otak yang terlalu terstimulasi akibat dunia digital.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Berita buruk tak bisa dihindari sepenuhnya. Tapi bukan berarti kita harus membiarkan diri larut di dalamnya.

Berikut beberapa tips dari para pakar Harvard untuk memutus siklus doomscrolling:

  • Jauhkan ponsel dari tempat tidur. “Ini bisa jadi game changer untuk stres akibat doomscrolling,” kata Nerurkar. Bangunlah dengan cahaya matahari, bukan cahaya layar.
  • Buat jarak dengan ponsel di tempat kerja. Simpan di laci atau letakkan lebih dari 3 meter dari meja kerja.
  • Jangan bawa ponsel ke meja makan. Letakkan dalam mode senyap dan jauh dari jangkauan.
  • Ubah layar jadi abu-abu (grayscale). “Ini membuat layar jadi kurang menarik,” kata Nerurkar.
  • Matikan notifikasi. “Tinjau pengaturan ponselmu. Ini soal mengambil kembali kendali,” tegas Nerurkar.
  • Fokus pada berita lokal. Biasanya lebih ringan dan solutif dibanding berita global yang suram.
  • Tolak cerita menakutkan. Bilang saja, “Maaf, saya tidak mau dengar itu sekarang.” Ini bentuk menjaga kesehatan mentalmu.
  • Lakukan aktivitas yang positif. Seperti menjadi relawan, ikut kelas menari, atau berjalan di alam.
Baca Juga:  Sering Cemas Berlebih? Kenali Gejala dan Penyebab Anxiety Disorder

Dan jika semuanya terasa terlalu berat, jangan ragu bicara dengan tenaga medis. Beberapa orang memang perlu bantuan profesional, dan tempat terbaik untuk memulai adalah dengan dokter.

Berita buruk akan selalu ada. Tapi kamu bisa memilih bagaimana menyikapinya. Alih-alih langsung menggulir ponsel setelah bangun tidur, cobalah tarik napas, buka jendela, dan rasakan udara pagi. Siapa tahu, itu cara sederhana untuk mulai hari dengan lebih tenang.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending