Lifestyle
Hati-hati! 6 Makanan Ini Ternyata Bisa Picu Kanker
Konsumsi makanan seperti daging olahan, makanan goreng, hingga produk susu dapat meningkatkan risiko kanker.
MPN Indonesia 28 Juni 2025 - Mengonsumsi beberapa makanan tertentu dapat meningkatkan risiko kanker.
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pola makan memainkan peran penting dalam kesehatan fisik dan berpotensi memengaruhi tumbuh kembang sel kanker.
Beberapa jenis makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari mengandung zat yang berpotensi bersifat karsinogenik dan dapat meningkatkan risiko penyakit ini.
Berdasarkan pemantauan MPN Indonesia melalui laman healthline, sejumlah makanan yang dianggap berisiko tersebut meliputi daging olahan, makanan yang digoreng, makanan yang dimasak terlalu matang, produk susu, makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan, serta minuman beralkohol.
Mengacu pada hasil penelitian, makanan-makanan ini dapat memicu peradangan, stres oksidatif, dan kerusakan DNA, yang semuanya berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.
Konsumsi makanan tersebut perlu mendapat perhatian untuk menjaga kesehatan fisik dan menurunkan potensi paparan zat berbahaya yang dapat memicu kanker.
Dalam berbagai studi, disebutkan bahwa sekitar 80 hingga 90 persen tumor ganas berkaitan dengan faktor eksternal, termasuk pola makan yang kurang sehat.
Oleh karena itu, pemilihan makanan yang tepat menjadi langkah penting dalam upaya mengurangi risiko kanker.
Makanan yang Berpotensi Meningkatkan Risiko Kanker
Daging Olahan
Daging olahan seperti sosis, salami, ham, kornet, daging asap, dan daging kalengan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker.
Proses pengawetan seperti pengasapan, pengasinan, dan penggunaan nitrit pada daging olahan dapat menghasilkan senyawa karsinogenik seperti N-nitroso dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH).
Sebuah tinjauan pada tahun 2019 menyatakan bahwa konsumsi daging olahan berisiko tinggi terhadap kanker kolorektal dan kanker lambung.
Selain itu, tinjauan tahun 2018 juga menemukan kaitan antara konsumsi tinggi daging olahan dengan peningkatan risiko kanker payudara.
Metode pengolahan daging olahan dapat memunculkan zat berbahaya yang merusak DNA tubuh dan memicu pertumbuhan sel kanker.
Penelitian mengungkapkan bahwa semakin tinggi konsumsi daging olahan, semakin besar risiko kanker yang mungkin timbul.
Oleh karena itu, penting untuk memahami kandungan dalam makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan risiko kesehatan fisik jangka panjang.
Makanan yang Digoreng
Makanan yang digoreng, khususnya makanan bertepung seperti kentang goreng dan keripik kentang, memiliki kandungan akrilamida yang tinggi.
Akrilamida terbentuk saat makanan bertepung dimasak pada suhu tinggi, seperti dalam proses menggoreng, memanggang, atau membakar.
Tinjauan tahun 2018 menunjukkan bahwa akrilamida bersifat karsinogenik pada hewan, dan International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikannya sebagai zat yang kemungkinan bisa menyebabkan kanker pada manusia.
Selain meningkatkan risiko kanker, konsumsi berlebihan makanan yang digoreng juga berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas.
Kondisi ini dapat menimbulkan peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh, yang semakin memperbesar risiko kanker.
Penelitian tahun 2020 mengungkapkan bahwa akrilamida dapat merusak DNA dan memicu kematian sel, yang menjadi salah satu faktor dalam perkembangan kanker.
Makanan yang Dimasak Terlalu Matang
Makanan yang dimasak dengan suhu tinggi, seperti dipanggang, dibakar, atau digoreng dalam waktu lama, dapat menghasilkan senyawa karsinogenik seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina heterosiklik (HCA).
Menurut artikel tahun 2020, senyawa tersebut dapat meningkatkan risiko kanker dengan cara mengubah struktur DNA dalam sel tubuh.
Risiko pembentukan senyawa berbahaya ini lebih tinggi saat memasak dengan suhu tinggi atau api terbuka, misalnya saat memanggang atau membakar daging.
Selain itu, menurut Food and Drug Administration (FDA), memasak makanan bertepung secara berlebihan juga meningkatkan kadar akrilamida.
Memilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, mengukus, atau memanggang dengan suhu rendah dapat membantu mengurangi paparan zat berbahaya ini.
Produk Susu
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi produk susu seperti susu, keju, dan yogurt dapat meningkatkan risiko kanker prostat.
Tinjauan tahun 2020 mengungkapkan bahwa konsumsi produk susu meningkatkan kadar insulin-like growth factor 1 (IGF-1) dalam tubuh, yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker prostat.
IGF-1 diketahui dapat merangsang proliferasi atau pertumbuhan sel kanker prostat.
Namun, hasil penelitian terkait hubungan produk susu dan kanker masih bervariasi.
Studi tahun 2016 menunjukkan bahwa jenis produk susu yang dikonsumsi juga memengaruhi tingkat risiko.
Meski demikian, perhatian terhadap asupan produk susu tetap penting dalam menjaga kesehatan, khususnya dalam kaitannya dengan risiko kanker prostat.
Makanan Tinggi Gula dan Karbohidrat Olahan
Makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan, seperti minuman manis, roti putih, nasi putih, pasta putih, dan sereal manis, dapat meningkatkan risiko kanker secara tidak langsung.
Menurut studi tahun 2020, konsumsi makanan ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas, yang berkontribusi pada peradangan dan stres oksidatif, faktor yang berhubungan dengan kanker.
Tinjauan tahun 2019 juga menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker ovarium, payudara, dan endometrium.
Selain itu, kadar gula darah yang tinggi yang dihasilkan dari konsumsi berlebihan makanan manis juga dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, seperti yang dilaporkan dalam studi tahun 2017.
Alkohol
Konsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko kanker karena saat diolah oleh tubuh, alkohol berubah menjadi asetaldehida, sebuah senyawa karsinogenik.
Tinjauan tahun 2017 menyebutkan bahwa asetaldehida dapat merusak DNA dan memicu stres oksidatif, serta mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh dalam melawan sel-sel kanker.
Pada wanita, konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan kadar estrogen, yang berkaitan dengan risiko lebih tinggi terhadap kanker payudara dengan reseptor estrogen positif, seperti yang dijelaskan dalam studi tahun 2015.
Alkohol menjadi salah satu faktor yang patut diwaspadai dalam pola makan sehari-hari terkait risiko kanker dan kesehatan fisik.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
