Connect with us

Politik

Bahas Pemerkosaan Massal 1998, Dua Legislator Nangis Dengar Pernyataan Fadli Zon

Dalam rapat kerja Komisi X DPR RI yang berlangsung di Senayan, Rabu (2/7), pembahasan pemerkosaan massal 1998 memicu momen emosional.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 07 04t111421.757
Mercy Chriesty Barends (Kiri) dan My Esti Wijayati (kanan) | Gambar: YT/TVR Parlemen

MPN Indonesia 4 Juli 2025 - Dalam rapat kerja Komisi X DPR RI yang berlangsung di Senayan, Jakarta, pada Rabu (2/7), pembahasan mengenai pemerkosaan massal 1998 memicu momen emosional.

Dua legislator, Mercy Chriesty Barends dan My Esti Wijayati, menangis saat mendengar pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait tragedi tersebut.

Pernyataan Fadli Zon dianggap tidak sensitif oleh sejumlah anggota DPR RI yang menilai peristiwa itu adalah pelanggaran HAM serius yang nyata terjadi.

Mercy: Minta Maaf Kali

Mercy Chriesty Barends dari Fraksi PDIP mendesak Fadli Zon untuk meminta maaf atas pernyataannya yang dianggap meragukan keberadaan bukti pemerkosaan massal 1998.

Ia mengatakan dirinya merupakan saksi kekejian yang menimpa perempuan pada masa itu.

“Bapak bicara dari tadi itu saya itu menahan, menahan, sangat menahan. Bapak bilang tidak terima (diksi) yang masal, kebetulan sebagian besar itu satu etnis,” kata Mercy.

“Di luar kita hari itu bahwa data-data kasus kekerasan seksual perempuan dari Aceh, Maluku dan Papua kita 3 hari tidak tidur, tidak bisa makan karena terlalu kejam. Bapak bisa baca itu testimoni yang kami bawa,” imbuhnya.

Mercy pun mendesak Fadli Zon untuk menarik kata-kata yang dinilainya sangat menyakitkan itu. Ia meminta Fadli Zon untuk menyampaikan permintaan maaf.

“Ini minta maaf kali. Sangat terganggu. Apa susahnya menyampaikan (minta maaf). Soal (diksi) massal, satu kasus saja sudah banyak, lebih dari satu itu, duh,” tegasnya sembari menangis.

My Esti: Semakin Fadli Zon Bicara, Semakin Sakit

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati, juga tidak mampu menahan tangis dalam forum tersebut.

Baca Juga:  Viral! Ahmad Sahroni Ditantang Debat Influencer Salsa Erwina

Ia menyatakan kekecewaannya terhadap Fadli Zon yang dinilai tidak peka terhadap penderitaan korban pemerkosaan massal 1998.

“Semakin Pak Fadli Zon ini bicara kenapa semakin sakit ya? Soal pemerkosaan mungkin sebaiknya enggak perlu di forum ini, Pak,” kata Esti.

Esti mengaku merupakan saksi dari kekejian itu. Saat kejadian, ia menuturkan tak bisa kembali ke rumah selama beberapa hari.

Menurutnya, pernyataan Fadli Zon soal pemerkosaan massal 1998 hanya menunjukkan Fadli Zon tak memiliki kepekaan terhadap korban pemerkosaan.

“Sehingga menurut saya penjelasan Bapak yang sangat berteori seperti ini dengan mengatakan Bapak juga aktivis pada saat itu, itu justru akan semakin membuat luka dalam,” tegasnya.

Pernyataan Fadli Zon soal Pemerkosaan Massal 1998

Sebelumnya, dalam rapat tersebut Fadli Zon menjelaskan bahwa ia telah membaca laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) terkait peristiwa 1998.

Ia mengakui adanya kasus pemerkosaan, tetapi mempertanyakan narasi yang menyebut kejadian tersebut sebagai pemerkosaan massal.

“Memang ada data dari TGPF, data ini saya punya dan saya sudah baca di tahun ’98 data TGPF ini dan saya punya bundelnya lebih lengkap dan cukup banyak, kita bisa berdebat kalau ada, kita harus kutuk dan kita harus kecam dan harus orang yang melakukan itu harus ada,” kata Fadli Zon.

Fadli Zon juga menyoroti pemberitaan media massa yang menurutnya memuat narasi yang bisa memecah belah.

Ia mencontohkan laporan majalah Tempo yang memuat bahwa pelaku pemerkosaan massal berambut cepak yang diasosiasikan dengan militer.

“Ditulis di majalah Tempo ini kan mengadu domba, begitu juga mereka yang melakukan perkosaan massal itu berambut cepak arahnya ke militer. Kita tidak ingin ini menjadi narasi adu domba dan kita kemudian mengenyamnya ketelitian, pendokumentasian yang kokoh itu masalahnya,” ujar Fadli Zon.

Baca Juga:  Ibu Kerudung Pink yang jadi Simbol Aksi Protes Diduga Alami Gangguan Jiwa

Menurut Fadli Zon, ada foto-foto yang dipublikasikan dalam laporan Far Eastern Economic Review yang menurutnya diambil dari situs-situs luar negeri, bukan dari Indonesia.

“Di sini bisa dibaca ini masih tahun ’98, pertama kali Tempo ini kan dulu dibredel baru ’98 terbit kembali, di sini ada jadi kemudian ada juga di Far Eastern Economic Review tentang foto-foto yang ketika itu diambil dari situs-situs website, jadi bukan di Indonesia, itu ditulis oleh Jeremy Wagstaff,” jelas Fadli Zon.

“Jadi ada hal-hal yang menurut saya perlu pendokumentasian yang lebih teliti, supaya jangan sampai kita nanti menimbulkan satu hal yang memecah belah, ini sebenarnya yang kita harapkan,” tambahnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending