Connect with us

Politik

Didit Prabowo Kunjungi Rumah Dedi Mulyadi, Ada Apa?

Putra Prabowo Subianto, Didit Prabowo, melakukan kunjungan ke kediaman Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan, Jawa Barat, Kamis (19/6).

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 20t115252.134
(Kiri ke kanan) Dedi Mulyadi, Didit Prabowo, Happy Salma | Gambar: TikTok/@dedimulyadiofficial

Jawa Barat, MPN Indonesia 20 Juni 2025 - Putra Presiden Prabowo Subianto, Didit Prabowo, melakukan kunjungan ke kediaman Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan, Subang, Jawa Barat, Kamis (19/6).

Dalam kunjungan tersebut, Didit didampingi oleh Happy Salma dalam rangka riset untuk penulisan buku bertema silat dan kuliner tradisional Nusantara.

Salah satu fokus pembahasan mereka adalah sambal, yang dipandang sebagai representasi penting dari budaya Sunda.

Momen keakraban Didit Prabowo, Dedi Mulyadi, dan Happy Salma ini dibagikan oleh Dedi Mulyadi di akun media sosial pribadinya.

Dedi Racik Sambal Khusus Didit

Selama pertemuan, Dedi Mulyadi tidak hanya menjelaskan filosofi sambal tetapi juga secara langsung meracik sambal tradisional khas Jawa Barat untuk tamunya itu.

“Jadi gini, sambal itu sebenarnya cerita tentang bagaimana kreatifnya kaum ibu di Jawa Barat. Cermin dari kemiskinan juga bisa dilihat dari sambal,” ujar Dedi dalam video yang diunggah di akun Instagram @dedimulyadi71.

Ia mengulek sambal dari bahan-bahan sederhana seperti cengek (cabai rawit), garam, dan terasi, lalu menyajikannya dengan ulen (uli ketan) dan pepes ikan.

Ceritakan Filosofi Sambal dalam Budaya Sunda

Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa sambal di masyarakat Sunda bukan hanya pelengkap makanan, tetapi juga mencerminkan sejarah dan nilai hidup.

“Makanan Indonesia itu lahir dari keprihatinan. Dari keadaan, dari kemiskinan. Dari bahan baku yang sangat terbatas,” kata Dedi sambil mengulek sambal.

Ia menyebut bahwa dengan bahan sesederhana cengek dan garam, masyarakat Sunda sudah bisa menghasilkan sambal goang.

Baca Juga:  Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading-Manggarai, Tarif Rp8 Berlaku Mulai 17 September

Jika ditambah bawang, akan menjadi sambal bledag, dan bila diberi terasi, jadilah sambal terasi.

Dedi juga mengungkap bahwa konsep dapur dalam budaya Sunda dikenal sebagai pawon, sedangkan bumbu disebut samara.

Kombinasi keduanya menghasilkan istilah samara pawon, yang menurut Dedi, menyimbolkan kehidupan penuh rasa syukur.

“Orang Sunda makan apa pun, seenak apa pun, tetap butuh sambal. Karena yang dicari itu rasa. Rasa itu bukan cuma soal lidah, tapi juga soal hati,” ujar Dedi dalam video tersebut.

(AKM/NID/RAD)

Trending