Politik
SBY Bicara Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Yakin Prabowo Sedia Payung sebelum Hujan
SBY peringatkan konflik AS–Israel–Iran bisa meluas dan berdampak besar pada ekonomi global serta APBN Indonesia.
MPN Indonesia 4 Maret 2026 - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan peringatan mengenai kemungkinan meluasnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Dalam podcast yang bertajuk SBY Standpoint: Perang di Timur Tengah: Siapa Bakal Menang? yang diunggah pada Selasa (3/3), SBY menegaskan bahwa perang tersebut bisa berkembang menjadi konflik regional dan bahkan melibatkan kekuatan militer besar lainnya seperti NATO, Rusia, Tiongkok, hingga Korea Utara.
“Kalau peperangan yang ada di Timur Tengah ini meluas, membesar, tentu ada implikasinya pada kehidupan, not only di kawasan Timur Tengah tapi di banyak tempat di dunia ini,” ujar SBY, dikutip MPN Indonesia pada Rabu (4/3).
Ia menyebut situasi konflik sudah mulai melebar dan memperlihatkan pola balas membalas yang berisiko menjalar ke negara-negara lain yang semula netral.
SBY menyoroti bahwa keterlibatan negara-negara di kawasan Teluk seperti Saudi Arabia, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Oman dalam membalas serangan Iran menunjukkan eskalasi nyata di tingkat kawasan.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan Inggris menjadi target serangan karena memiliki pos di Cyprus, yang berpotensi memicu keterlibatan negara-negara anggota NATO.
“Jika pihak di luar Timur Tengah masuk, dan kalau misalnya anggota NATO nimbrung di situ, bagaimana Rusia? Bagaimana Tiongkok? Bagaimana Korea Utara? Ini menurut saya very-very dangerous (benar-benar berbahaya),” katanya.
SBY Wanti-Wanti NATO
Menurut SBY, konflik antara AS, Israel, dan Iran tidak hanya melibatkan tiga negara tersebut, tetapi juga mengancam stabilitas global.
Sejak memantau perkembangan sejak Sabtu (28/2), ia melihat bahwa negara-negara yang sebelumnya bersikap netral kini terdorong untuk mengambil posisi defensif.
“Ternyata itu terjadi betul, sehingga yang tadinya boleh dikatakan tidak ikut-ikutan begitu, dipaksa untuk melibatkan diri,” ujarnya.
SBY juga menekankan bahwa prinsip dalam pakta pertahanan NATO berpotensi mendorong negara-negara anggota untuk ikut berperang apabila salah satu anggotanya diserang.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan masuknya kekuatan besar di luar kawasan Timur Tengah, sehingga memperbesar kemungkinan konflik menjadi lebih luas.
“Kalau itu terjadi, maka Timur Tengah menjadi flash point yang bisa mengarah ke peperangan yang lebih besar,” ucapnya, menyinggung kemungkinan konflik berkembang menjadi perang dunia ketiga meskipun masih bisa dicegah.
Dampak Langsung ke Ekonimi Global, termasuk Indonesia
Dalam bagian lain dari podcastnya, SBY juga menyoroti dampak perang terhadap ekonomi global, terutama sektor energi.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 20 persen pasokan energi dunia melintasi Selat Hormuz, dan jika jalur ini terganggu, distribusi minyak dan gas alam dunia akan terhambat.
“Kalau permintaan tetap, penawaran atau suplai berkurang, karena perang itu, karena banyak kapal tanker ditenggelamkan, banyak yang nggak berani berlayar lagi… akhirnya akan terguncang harga, pasti akan meroket. Dua hari ini sudah naik USD 20 per barel,” katanya.
Kondisi ini menurut SBY sangat berdampak bagi Indonesia yang saat ini berstatus sebagai net importer minyak.
Ia menyebut produksi minyak nasional hanya mencapai 600 ribu barel per hari, menurun drastis dibanding saat Indonesia masih menjadi eksportir dan anggota OPEC.
“Sekarang kita ini net importer, lebih banyak yang kita beli dibandingkan yang kita produksi di dalam negeri,” jelasnya.
SBY memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak dunia otomatis akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.
Ia menyebut asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel, dan jika harga melonjak menjadi USD 100 hingga USD 150, maka defisit APBN bisa membengkak hingga ratusan triliun rupiah karena peningkatan beban subsidi.
Risiko Fiskal dan Daya Beli Masyarakat
SBY juga menguraikan dilema kebijakan yang mungkin dihadapi pemerintah dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat perang.
Ia mempertanyakan apakah pemerintah akan meningkatkan subsidi energi secara besar-besaran, atau menaikkan harga BBM dan gas.
“Mau dikasih subsidi habis-habisan jebol. Tapi kalau nggak, kalau gitu harga BBM kita naikkan, harga gas kita naikkan, siap tidak kita?” katanya.
Mengacu pada pengalamannya saat menjadi presiden, SBY menyebut pernah mengambil keputusan menaikkan harga BBM hingga 140 persen sebagai langkah menyelamatkan ekonomi nasional.
Ia menekankan pentingnya memberi perlindungan kepada masyarakat bawah dalam situasi krisis harga.
“Itulah sejarah BLT. BLT itu bukan sapu jagat, bukan bansos kapan pun bisa dilaksanakan. Harus ada reason-nya,” ungkapnya.
SBY Yakin Prabowo Siapkan Langkah Antisipatif
SBY menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo Subianto akan mempersiapkan langkah antisipatif jika tekanan fiskal akibat perang terjadi.
“Tentu saya yakin Pak Prabowo presiden kita akan memikirkan dan sekarang harus mulai dipersiapkan dengan baik, kalau tekanan ekonomi kita, fiskal kita itu terjadi karena perang yang seperti ini,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga daya beli rakyat kecil, dan bahwa pemerintah sebaiknya menanggung beban lebih besar dibanding membiarkan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.
“Kalau saya pribadi biarlah kalau sedang kantongnya kempes, kantong pemerintah kempis sedikit nggak apa-apa. Jangan kantong rakyat. Ya nggak bisa makan, nggak bisa beli apa-apa,” katanya.
SBY menutup pernyataannya dengan penekanan terhadap perlunya kebijakan ekonomi dan fiskal yang cermat.
“Tidak ada kamus gara-gara badai dunia ini terhuyung-huyung dan kita jatuh. Nah sedia payung sebelum hujan, lakukan antisipasi yang bagus… dengan demikian sedahsyat apa pun kita akan bisa bertahan,” tegasnya.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
