Teknologi
Mahasiswa ITB Bikin Helm Cegah Microsleep Berbasis IoT
Mahasiswa ITB merancang SADAR Helmet, helm cerdas berbasis IoT yang mampu mendeteksi microsleep pengendara motor secara real-time.
MPN Indonesia 10 Juni 2026 - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim iConic merancang helm cerdas berbasis Internet of Things (IoT) bernama SADAR Helmet untuk membantu mencegah kecelakaan lalu lintas akibat microsleep.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Mahesya Friemay Romadhoni, Muhammad Yasser Saputro, dan Rizky Miftah Alfiah dari Teknik Industri ITB angkatan 2023.
Tim tersebut meraih Juara 2 Nasional pada kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah dalam Smart Safety Competition (SASECOM) 2026 yang diselenggarakan OSH Forum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip).
Latar Belakang Pengembangan SADAR Helmet
Dikutip MPN Indonesia dari laman ITB pada Rabu (10/6), SADAR Helmet dikembangkan untuk menjawab tingginya angka kecelakaan lalu lintas akibat microsleep dan kelelahan pengendara di Indonesia.
Teknologi ini mampu mendeteksi kondisi microsleep secara real-time dan memberikan peringatan melalui getaran, suara, serta notifikasi digital sebelum kecelakaan terjadi.
“Kami memilih topik ini karena microsleep merupakan masalah nyata dan sangat relevan di Indonesia, terutama bagi pengguna sepeda motor yang mendominasi angka kecelakaan nasional,” ujar Mahesya.
“Perkembangan teknologi IoT dan smart mobility juga membuka peluang besar untuk menghadirkan sistem keselamatan yang lebih preventif, murah, dan mudah diimplementasikan,” tambahnya.
Teknologi yang Digunakan pada SADAR Helmet
Helm cerdas yang dikembangkan mahasiswa ITB tersebut mengintegrasikan sejumlah sensor untuk memantau kondisi pengendara.
Sistem menggunakan sensor Photoplethysmography (PPG), akselerometer, dan giroskop guna membaca kondisi fisiologis serta pola gerakan kepala pengendara selama berkendara.
Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan teknologi IoT untuk pemantauan dan komunikasi data.
Sensor PPG digunakan untuk membaca detak jantung dan Heart Rate Variability (HRV), sedangkan akselerometer dan giroskop digunakan untuk mendeteksi pola gerakan kepala.
Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan machine learning dan sensor fusion untuk mengklasifikasikan tingkat kantuk pengendara.
Keunggulan SADAR Helmet terletak pada pendekatan preventif dan kemampuan deteksi secara real-time.
Sistem multisensor yang digunakan diklaim mampu meningkatkan akurasi deteksi dibandingkan penggunaan satu sensor saja.
Selain itu, perangkat tersebut dapat dipasang secara retrofit pada helm standar SNI tanpa mengubah struktur utama helm.
Tim juga menyebut biaya implementasinya relatif lebih terjangkau dibandingkan sistem pendeteksi kantuk yang menggunakan kamera atau EEG.
Raih Juara 2 Smart Safety Competition 2026
Inovasi yang dikembangkan Tim iConic berhasil meraih Juara 2 Nasional dari total 80 finalis.
Dalam proses persiapan, tim menyusun karya tulis, membuat rancangan prototipe menggunakan perangkat lunak SolidWorks dan AutoCAD, serta melakukan validasi keamanan berdasarkan berbagai jurnal ilmiah yang relevan.
“Prosesnya memakan banyak waktu karena kami benar-benar melakukan brainstorming berhari-hari untuk mendapatkan ide SADAR Helmet. Kebetulan kami juga sedang mengambil mata kuliah Pengembangan Produk dan Bisnis, sementara K3 menjadi salah satu objek kajian di Teknik Industri,” kata Rizky.
Rencana Pengembangan Inovasi
SADAR Helmet dikembangkan dengan mengacu pada berbagai pendekatan keselamatan kerja dan manajemen risiko, di antaranya Heinrich’s Accident Triangle, Domino Theory, Swiss Cheese Model, serta Hierarchy of Controls berdasarkan NIOSH dan ISO 45001.
Ke depan, tim berencana mengembangkan inovasi tersebut melalui integrasi aplikasi mobile, GPS tracking, cloud monitoring, serta analisis berbasis AI guna meningkatkan akurasi deteksi kantuk.
Pengembangan juga diarahkan pada peluang kerja sama dengan industri helm, sektor otomotif, dan pemerintah.
“Kami belajar bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya berasal dari ide yang bagus, tetapi juga dari proses riset yang kuat, kerja sama tim, komunikasi yang baik, dan kemampuan memahami permasalahan nyata di masyarakat,” ujar Yasser.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
