Connect with us

Teknologi

Pesawat Listrik X1 Heart Aerospace Sukses Terbang Perdana di New York

Pesawat listrik X1 Heart Aerospace sukses terbang perdana selama 27 menit di New York dengan biaya energi listrik sekitar Rp80 ribu.

Logompn

Published

on

Pesawat Listrik Besutan Heart Aerospace Sukses Mengudara, Terbang 27 Menit Cuma Habiskan Rp80.000
Pesawat Listrik Besutan Heart Aerospace Sukses Mengudara, Terbang 27 Menit Cuma Habiskan Rp80.000. Gambar: Dok. Heart Aerospace

MPN Indonesia 28 Agustus 2026 - Pesawat listrik X1 besutan Heart Aerospace menyelesaikan penerbangan perdana di Plattsburgh International Airport, New York, pada (12/8).

Pesawat bertenaga baterai itu terbang selama 27 menit hingga ketinggian sekitar 335 meter dengan biaya listrik sekitar 5 dollar AS atau setara Rp80.000.

“Dengan penerbangan pertama X1, Heart Aerospace mendemonstrasikan penerbangan listrik pada skala pesawat komersial,” kata Pendiri sekaligus CEO Heart Aerospace, Anders Forslund, dikutip MPN Indonesia dari Popular Science pada Jumat (28/8).

Uji coba dilakukan menggunakan demonstrator X1 yang dikembangkan sebagai dasar pengembangan pesawat regional hybrid-electric ES-30.

Uji Terbang Perdana Berlangsung di New York

X1 jalani penerbangan perdana di Plattsburgh International Airport, New York, usai memperoleh Special Airworthiness Certificate kategori eksperimental dari Federal Aviation Administration (FAA).

Selama penerbangan, pesawat mengudara selama 27 menit dan mencapai ketinggian sekitar 1.100 kaki atau sekitar 335 meter.

Penerbangan dilakukan tanpa penumpang dan hanya membawa seorang pilot.

Tim Heart Aerospace menguji berbagai tahapan penerbangan untuk mengevaluasi performa sistem pesawat.

Uji coba yang dilakukan, yaitu pergerakan pesawat di landasan, lepas landas, menanjak, bermanuver di udara, dan proses pendaratan.

Pengujian tersebut dilakukan untuk menguji kemampuan sistem propulsi listrik pada pesawat yang dimensinya mendekati kebutuhan operasional penerbangan komersial regional.

Menjadi Pesawat Bertenaga Baterai Terbesar yang Pernah Terbang

X1 tercatat sebagai pesawat listrik bertenaga baterai terbesar yang berhasil mengudara berdasarkan dimensinya.

Spesifikasi utama X1, yaitu bentang sayap sekitar 32 meter, panjang badan sekitar 23 meter, bobot lepas landas lebih dari 11,3 ton.

Baca Juga:  Mahasiswa ITB Bikin Helm Cegah Microsleep Berbasis IoT

Adapun sistem propulsi sepenuhnya menggunakan tenaga baterai dan daya sistem listrik lebih dari 1 megawatt.

Sebelum penerbangan, FAA melakukan inspeksi terhadap pesawat demonstrator tersebut.

Sertifikat yang diterbitkan menjadi dasar pelaksanaan uji terbang eksperimental.

“Mendapatkan otorisasi penerbangan FAA membawa program X1 ke ambang penerbangan perdana,” ujar Anders Forslund.

Ia menambahkan, pencapaian ini mencerminkan kerja keras tim rekayasa dan uji terbang Heart, serta hubungan kerja sama erat yang telah kami bangun dengan FAA.

Biaya Energi Uji Terbang Sekitar Rp80.000

Salah satu hasil yang menjadi perhatian dalam uji coba ini adalah penggunaan energi selama penerbangan.

Menurut perusahaan, penerbangan selama 27 menit menghabiskan listrik senilai sekitar 5 dolar AS atau setara Rp80.000.

Angka tersebut menggambarkan kebutuhan energi untuk penerbangan uji menggunakan sistem propulsi listrik penuh.

Biaya tersebut merupakan biaya energi dan tidak mencakup komponen operasional lain seperti kru, bandara, perawatan, maupun penurunan performa baterai dalam jangka panjang.

Penerbangan X1 berlangsung ketika harga bahan bakar jet masih berfluktuasi di pasar global.

Pada kondisi tersebut, Heart Aerospace menyatakan penggunaan tenaga listrik berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap harga minyak yang berubah-ubah.

Dikembangkan Menuju Pesawat Regional ES-30

X1 tidak dirancang sebagai pesawat komersial, melainkan sebagai laboratorium terbang untuk mengembangkan teknologi yang akan diterapkan pada ES-30.

Model ES-30 dirancang sebagai pesawat regional hybrid-electric, kapasitas 30 penumpang, jangkauan sekitar 200 kilometer tenaga baterai, dan 800 kilometer dalam konfigurasi hibrida.

Menggunakan dua motor listrik dan dua mesin turboprop, dapat menggunakan tenaga baterai, bahan bakar penerbangan berkelanjutan, atau kombinasi keduanya.

Pesawat ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2031.

Menurut Heart Aerospace, model tersebut telah menarik minat sejumlah maskapai, termasuk United dan Air Canada.

Baca Juga:  Apakah AI akan Menggantikan Peran Manusia? Ini Pendapat Para Pakar

Pengembangan Pesawat Listrik Masih Berlanjut

Selain Heart Aerospace, sejumlah perusahaan lain juga mengembangkan pesawat listrik dengan pendekatan berbeda.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari teknologi dan inovasi global di sektor penerbangan, misalnya:

  1. Rolls-Royce yang mengembangkan pesawat balap listrik.
  2. Harbour Air yang mengembangkan pesawat amfibi listrik berkapasitas enam kursi.
  3. Joby Aviation dengan pesawat electric vertical take-off and landing (VTOL).
  4. Archer Aviation yang juga mengembangkan pesawat listrik berkonsep VTOL.

Pengembangan pesawat listrik berukuran besar masih menghadapi tantangan karena kebutuhan baterai meningkat seiring bertambahnya ukuran pesawat.

Oleh karena itu, Heart Aerospace mengembangkan sistem hybrid-electric pada ES-30 untuk memperluas jangkauan penerbangan.

“Dengan sertifikat yang telah kami pegang, fokus penuh kami kini tertuju pada penerbangan. Kami siap menerbangkan X1 ke udara,” kata Forslund.

(AKM/NID/RAD)

Trending